Daerah  

Ekspor Tuna Loin di Morotai Terus Meningkat, Akses Laut Masih Jadi Tantangan

Ilustrasi ikan tuna yang baru dibongkar dari kapal. (Istimewa)

DARUBA, NUANSA – Produksi ikan tuna di Kabupaten Pulau Morotai terus meningkat. Hal ini ditandai dengan ekspor tuna loin dari Pulau Morotai yang meningkat signifikan. Bahkan, sepanjang delapan tahun terakhir, ekspor tuna loin Morotai mencapai dua juta ton.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Morotai, ekspor tuna loin melalui PT Harta Samudera, pada tahun 2018 sebanyak 74,509 ton, dan meningkat di 2019 sebanyak 295,151 ton. Pada 2020 ekspor tuna menurun menjadi 119,467 ton, dan kembali meningkat di 2021 sebanyak 262,417 ton.

Kemudian, pada 2022 ekspor tuna loin kembali mengalami penurunan menjadi 241,256 ton, lalu meningkat lagi di 2023 menjadi 575,518 ton. Di dua tahun setelahnya, ekspor tuna meningkat, yakni pada 2024 sebanyak 644,360 ton, dan tahun 2025 sebanyak 768,890 ton. Sehingga itu, sepanjang delapan tahun terakhir, ekspor tuna loin dari Morotai mencapai 2,212,948 ton.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Morotai, Jhon F Tiala mengaku, meski produksi tuna di Morotai terus meningkat, namun akses antarpulau masih terus menjadi kendala.

“Kendala utamanya ada di transportasi. Kalau misalnya ikan lagi banyak, kontainer yang memuat cuma tersedia dua saja. Akhirnya mereka cari jalan lain dan bisa setop beli ikan karena bahan baku masuk terus, tetapi produksinya tertahan di coolstorage dan tidak bisa dikirim,” ujar Jhon kepada Nuansa Media Grup (NMG), Senin (12/1).

Sehingga itu, proses pengiriman seringkali dilakukan melalui Tobelo, Halmahera Utara, lantaran akses laut yang terbatas. Keterbatasan akses ini juga menjadi pertimbangan sejumlah investor di sektor perikanan yang ingin berinvestasi di Pulau Morotai.

“Tujuan ekspornya di Thailand dan Vietnam, tapi kebanyakan di Vietnam. Proses ekspornya dari PT Harta Samudera langsung ke Tol Laut. Kalau dari Tobelo itu biasanya mereka pakai kontainer swasta, dan pasti lebih menguras dana,” jelasnya.

Lebih lanjut, Jhon menuturkan, ekspor tuna loin di Morotai ini dipastikan tetap meningkat pada 2026. Sebab, terdapat satu investor baru yang membeli ikan di Morotai, yakni PT Berkah Freshindo Tuna (PT BFT). Adanya perusahaan ini dinilai dapat meningkatkan semangat nelayan dalam mendapatkan ikan lantaran akan terjadi peningkatan harga yang lebih kompetitif. Selain itu, Pemkab Morotai juga sedang berupaya mendatangkan kapal kontainer swasta yang diproyeksikan memuat hasil produksi perikanan di Morotai.

“Terus kalau ditopang misalnya ada kapal kontainer swasta masuk, kita yakin pasti naik yang penting didukung sama cuaca juga. Yang pasti akses yang jadi masalah, tapi kalau didukung kapal swasta jadi masuk, berarti satu masalah sudah bisa diatasi,” pungkasnya. (ula/tan)