GEBE, NUANSA – PT Smart Marsindo membuktikan bahwa penerapan Good Mining Practice (GMP) dapat berjalan seiring dengan penguatan aspek sosial dan lingkungan.
Perusahaan tambang nikel berstatus Clean and Clear (CnC) ini mengintegrasikan pemulihan ekosistem pascatambang dengan pemberdayaan ekonomi serta peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Reklamasi Pascatambang Berbasis Ekonomi Sirkular
Salah satu terobosan yang dilakukan PT Smart Marsindo adalah melibatkan masyarakat lokal secara langsung dalam program reklamasi lahan bekas tambang. Hingga saat ini, perusahaan telah menanam lebih dari 4.000 pohon, terdiri dari jenis Cemara Laut, Mahoni, Casuarina, dan Bintangor.
Menariknya, proses pembibitan dilakukan secara mandiri oleh warga melalui skema insentif ekonomi. Setiap bibit yang disemai warga dihargai Rp3.000 per polybag, sehingga program reklamasi tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberikan penghasilan langsung bagi masyarakat.
“Kami ingin masyarakat merasa memiliki kembali alamnya, sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari proses pemulihan lingkungan,” ujar Direktur PT Smart Marsindo, Jilly R. Lumankum, Selasa (13/1).
Komitmen pada Pendidikan dan Literasi Digital
Di sektor pendidikan, PT Smart Marsindo juga melakukan investasi sosial jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah lingkar tambang. Sejumlah program yang telah direalisasikan antara lain:
Pembangunan gedung SMAN 3 Pulau Gebe sebagai akses pendidikan menengah.
Penyediaan bus sekolah untuk mendukung mobilitas siswa dari desa-desa terpencil.
Hibah 20 unit laptop guna mendorong literasi digital dan kesiapan teknologi pelajar.
Langkah ini dinilai krusial untuk memutus keterbatasan akses pendidikan di wilayah kepulauan.
Memperkuat Konektivitas dan Layanan Kesehatan
Menghadapi tantangan geografis Pulau Gebe, PT Smart Marsindo turut memperkuat sarana transportasi dan layanan publik. Perusahaan menyerahkan:
Satu unit ambulans untuk menunjang layanan kesehatan darurat.
Satu unit speedboat bermesin bagi masyarakat Umiyal di Pulau Yoi, guna memperlancar mobilitas dan aktivitas warga.
Layak Jadi Rujukan Nasional
Model integrasi antara kepatuhan regulasi, pemulihan lingkungan, dan empati sosial ini mendapat apresiasi dari Koordinator Pemerhati Kelola Sumber Daya Alam (PKSDA), Hamdan Halil. Ia menilai praktik yang dijalankan PT Smart Marsindo patut menjadi benchmark nasional dalam pengelolaan sumber daya alam.
“Perusahaan ini memadukan disiplin regulasi dengan empati sosial. Pembangunan sekolah hingga skema insentif reklamasi adalah contoh pengelolaan SDA yang paripurna,” tegas Hamdan.
Sementara itu, Jilly R. Lumankum menegaskan bahwa orientasi perusahaan bukan semata pada eksploitasi sumber daya, melainkan pada warisan sosial dan ekologis bagi generasi mendatang.
“Kami ingin meninggalkan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Ini adalah cara kami menjaga marwah perusahaan dan amanah warga,” pungkasnya. (ska)










