WEDA, NUANSA – Seorang wanita di Kabupaten Halmahera Tengah berinisial N diduga menjadi korban penipuan modus lowongan kerja (loker) fiktif di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Aksi dugaan penipuan itu dilakukan Helbi S.M Molle, yang merupakan seorang pekerja kontraktor. Terduga pelaku merupakan warga Desa Tedeng, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat.
N menceritakan, awalnya terduga pelaku yang merupakan tetangga kosan itu pergi belanja menggunakan alat pelindung diri (APD) milik PT IWIP. Lalu kemudian korban bertanya apakah ada peluang loker untuk perempuan di PT IWIP. Mendengar itu, pelaku lalu merespons dan memanfaatkan modus penipuan tersebut.
“Awalnya saya tanya, apakah ada peluang untuk perempuan yang bisa masuk di IWIP? Terus dia jawab ‘bisa, saya pake orang dalam, tapi pake bayar’,” katanya meniru perkataan pelaku.
“Terus saya tanya, bayar berapa? Dia jawab ‘bayar Rp2 juta. Lalu saya bilang boleh, yang penting saya bisa masuk kerja di dalam. Terus saya tanya lagi, kira-kira bisa dong bantu berapa orang? Dia bilang, ‘siapa lagi yang mau masuk kong‘? Saya jawab, saya pe ponakan. Kemudian dia bilang bisa,” sambung N.
Selanjutnya, pada 5 Desember 2025, Helbi meminta N agar menyetor uang tersebut pada pagi hari, agar Helbi mengantarkan uang itu kepada ‘orang dalam’ yang menangani info loker itu.
“Saya tanya, siapa yang kase masuk? Dia bilang ‘Ibu Jubir Sumiyati yang bantu kase masuk’. Kemudian saya percaya, terus saya kase uang itu Rp6 juta. Dia janji tanggal 27 Desember itu ambil surat keterangan sehat (MCU), karena tanggal 28 Desember dengar hasil,” jelas N.
Di saat yang bersamaan, N bertanya kepastian hasil MCU tersebut. Namun Helbi beralasan Jubir Sumiyati akan menikah, sehingga ditunda pada 8 Januari 2026.
“Dia kirim ibu jubir pe foto, padahal ibu jubir tidak tahu apa-apa. Setelah itu, dia minta bantu cari tambah orang, kase genap 10 orang. Karena dia bilang gedung ada yang kosong banyak jadi masih terima banyak orang. Kemudian saya panggil teman-teman yang mau kerja, lalu kami kasih uangnya lagi,” ujar N.
Meski begitu, N dan rekan-rekannya menaruh curiga, lalu menelpon Sumiyati dan menanyakan kepastian loker tersebut. Sumiyati pun kaget dan mengaku tidak mengetahui apa-apa soal info loker itu. Selanjutnya, N menghubungi Helbi, dan pelaku beralasan jubir yang dimaksud bukan Sumiyati, tapi orang lain.
“Dari situ, torang so tara percaya sampe sekarang. Tong cari tahu, padahal so banyak orang yang jadi korban lagi. Ibu Sumiyati juga mau tuntut dia atas dugaan pencemaran nama baik,” pungkas N.
Sembari menambahkan, kasus ini sudah dilaporkan ke Polres Halmahera Tengah sebanyak tiga kali. Namun hingga kini, belum ada respons dan tindakan dari pihak kepolisian terkait dugaan penipuan tersebut. (tan)










