TERNATE, NUANSA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate turut berpartisipasi aktif dalam Musrenbang Komunitas atau Ternate Youth Planner ke-4 di auditorium kantor Bappelitbangda Kota Ternate. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi ruang resmi pelibatan pemuda dalam proses perencanaan pembangunan daerah.
Ini pertama kalinya HMI Ternate berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen menghadirkan gagasan konstruktif bagi pembangunan Kota Ternate.
HMI Ternate diwakili oleh M Rizal Rizky Ramli dan Siti Sakinah Kasturian. Dalam forum tersebut, keduanya menyampaikan gagasan strategis hasil diskusi internal organisasi yang telah dirumuskan melalui rapat formal maupun kajian tematik.
Rizky Ramli yang membidangi Partisipasi Pembangunan Daerah menegaskan bahwa Ternate memiliki sejarah global yang sangat kuat namun belum terdokumentasi secara komprehensif.
“Ternate memiliki jejak sejarah yang terhubung langsung dengan dinamika perdagangan dan peradaban dunia. Namun narasi itu belum ditulis dan dikembangkan secara sistematis. Karena itu, Ternate perlu didorong menjadi laboratorium penelitian sejarah, maritim, rempah, dan geopolitik kawasan timur Indonesia,” ujarnya, Rabu (18/2).
Ia menegaskan, pemuda tidak hanya hadir dalam ruang kritik, tetapi juga mampu menawarkan solusi berbasis gagasan akademik dan perencanaan yang terukur.
Sementara itu, Ketua Kohati Siti Sakinah Kasturian dengan semangat ‘Kohati Bersinergi’ menyoroti pentingnya pemerataan lokasi festival sebagai strategi penguatan identitas sejarah dan pembangunan berbasis kawasan.
Menurutnya, distribusi kegiatan tidak boleh terpusat pada satu titik saja, melainkan harus mengintegrasikan potensi selatan dan utara Kota Ternate secara seimbang.
Ia mencontohkan, di wilayah selatan terdapat Benteng Kastela yang kondisinya mulai memprihatinkan dan belum menjadi perhatian optimal. Padahal situs tersebut memiliki nilai historis yang kuat terkait perjuangan Sultan Babullah dan ayahnya Sultan Khairun, dua tokoh besar Kesultanan Ternate yang namanya bahkan diabadikan menjadi nama bandar udara nasional dan universitas.
Di sisi lain, di wilayah utara terdapat potensi geowisata strategis seperti Batu Angus yang menjadi bagian penting dari visi Pemerintah Kota Ternate menuju UNESCO Global Geopark dengan tematik Volcano and Spice Island (Gunung Api dan Rempah).
Karena itu, menurut Sakinah, festival dan agenda kebudayaan harus dirancang terintegrasi dari selatan hingga utara sebagai satu narasi sejarah dan geologi yang utuh.
Selain itu, HMI Ternate juga mendorong agar setiap pelaksanaan festival dan agenda pembangunan daerah diintegrasikan dengan penguatan UMKM lokal. Event daerah harus menjadi economic driver yang memberikan multiplier effect bagi pelaku usaha kecil, terutama produk olahan rempah, kuliner tradisional, dan kriya berbasis identitas sejarah Ternate sebagai kota rempah dan simpul perdagangan maritim global.
Melalui musrenbang ini, HMI Ternate berharap tercipta tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, akademisi, dan pelaku UMKM secara sinergis.
“Dengan begitu, partisipasi pemuda tidak lagi bersifat simbolik, melainkan menjadi kekuatan intelektual dan produktif dalam mewujudkan pembangunan Kota Ternate yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” tandas Sakinah. (tan)












