Daerah  

Suku Sahu Cerminan Ketahanan Pangan di Halmahera Barat, Geothermal Bukan Solusi

JAILOLO, NUANSA – Langkah konkret peningkatan ekonomi daerah telah ditunjukkan masyarakat di wilayah Sahu, Kabupaten Halmahera Barat. Penanaman padi ladang jenis jong’odi seluas kurang lebih dua hektare di kebun BUMDes Gamnyial menjadi bukti bahwa kekuatan ekonomi lokal masih hidup, relevan, dan mampu berkembang.

Kegiatan penanaman tersebut bukan sekadar aktivitas bertani, tetapi dilaksanakan dengan mengikuti adat dan budaya Suku Sahu, diiringi tabuhan tifa dan gong sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian bagi masyarakat Sahu bukan hanya soal produksi pangan, melainkan bagian dari sistem nilai dan kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Ketua BUMDes Gamnyial, Matius Guit, menjelaskan seluruh tahapan pengelolaan lahan melibatkan masyarakat setempat melalui sistem sewa, mulai dari pembongkaran lahan hingga penyemprotan rumput.

“Mulai dari pembongkaran lahan, semuanya menggunakan sistem sewa masyarakat. Bibit padi ladang yang ditanam mencapai sekitar 450 cupa atau 25 kula dalam bahasa Sahu,” jelas Matius, Sabtu (18/4).

Selain itu, gerakan penanaman jagung kering juga terus dilakukan di sejumlah titik di wilayah Sahu Timur. Dalam waktu dekat, masyarakat juga akan menanam jagung kering jenis BISI 18 sebanyak 15 kilogram untuk lahan seluas satu hektare. Langkah ini mencerminkan keseriusan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan sekaligus membuka potensi ekonomi daerah.

“Mulai dari padi ladang, jagung kering dan jagung manis adalah cerminan bahwa ekonomi lokal masih sangat hidup di akar masyarakat,” tambah Frigenly Kasiang, pemuda yang memilih jagung kering sebagai komoditas.

Jika dikelola secara terintegrasi melalui BUMDes dan mendapat dukungan pemerintah daerah, kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang nyata dan berkelanjutan. Menurutnya, sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan bukanlah sektor kecil, melainkan fondasi ekonomi rakyat yang apabila diperkuat melalui hilirisasi, teknologi, dan pemasaran digital mampu memberi kontribusi signifikan bagi daerah.

Pandangan ini juga sejalan dengan berbagai kajian pada era 1980-an yang menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Suku Sahu memiliki keterikatan kuat antara manusia, tanah, hutan, dan sistem adat (bobita). Bagi masyarakat Sahu, tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan keberlangsungan hidup.

Karena itu, setiap rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Sahu perlu dikaji secara serius dan kritis. Pembangunan yang mengabaikan aspek adat, budaya, serta kelestarian lingkungan berpotensi merusak tatanan kehidupan masyarakat sekaligus menghilangkan sumber penghidupan jangka panjang.

“Menanam untuk melawan adalah spirit kami, jagung manis adalah pilihan kami, mulai dari desa ke desa kami terus gaungkan tentang pertanian, ini bentuk perlawanan kami terhadap geothermal (panas bumi) yang akan bercokol di kawasan hutan adat kami, yakni Telaga Rano,” jelas Tiklas Babua, pemuda yang memilih menanam jagung manis.

Ia menegaskan, dalam kondisi PAD Halmahera Barat saat ini, memang dibutuhkan terobosan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Namun, ketergantungan pada investasi ekstraktif seperti geothermal bukan satu-satunya jalan. Penguatan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata berbasis budaya justru menjadi solusi yang lebih aman, berkelanjutan, dan berpihak kepada masyarakat.

Dengan melibatkan generasi muda, pemanfaatan teknologi, media sosial, serta optimalisasi peran BUMDes dan perusahaan milik daerah, Halmahera Barat memiliki peluang besar membangun ekonomi dari akar rumput tanpa harus mengorbankan hutan, adat, dan budaya.

“Kita tidak menolak pembangunan. Kita hanya menegaskan bahwa pembangunan harus menghormati kehidupan. Suku Sahu telah menunjukkan jalannya, tinggal bagaimana pemerintah memilih berjalan bersama rakyat atau meninggalkan mereka,” ujarnya. (tan)