NUANSA, TERNATE — Dalam upaya merespons dinamika transformasi sosial-politik di era digital, kolaborasi lintas program studi di lingkup Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) akan menyelenggarakan kegiatan akademik berupa Diskusi Panel bertajuk “Politik Digital: Kuasa, Perilaku Sosial, dan Ekosistem Komunikasi Kontemporer”.
Koordinator Kolaborasi, Samsir Hamajen, dalam keterangannya menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif akan pentingnya membaca ulang lanskap politik kontemporer yang semakin dipengaruhi oleh teknologi digital.
“Politik hari ini tidak lagi semata berlangsung di ruang-ruang formal kekuasaan, tetapi juga berdenyut di ruang digital yang cair, cepat, dan seringkali penuh ambiguitas. Karena itu, kolaborasi lintas disiplin menjadi penting untuk menghadirkan pembacaan yang utuh, bahwa kuasa, perilaku sosial, dan komunikasi adalah satu kesatuan yang saling berkelindan,” ujar Samsir, Kamis (7/5).
Samsir menambahkan, gagasan kolaborasi tersebut tidak dibangun secara individual, melainkan diprakarsai bersama sejumlah senior dan akademisi muda FISIP UMMU, yakni Yahya Alhadad, M. Nofrizal Amir, Syaiful Bahry, serta Zulkifli Hi. Saleh. Selain itu, kegiatan yang dirancang sebagai ruang temu akademik ini, tidak hanya mempertemukan perspektif keilmuan, tetapi juga menjembatani dialog antara dunia kampus dan praktik pemerintahan.
“Diskusi panel ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Rotasi Cafe, Kelurahan Kayumerah, Kota Ternate. Adapun narasumber yang akan dihadirkan yakni dari akademisi UMMU, anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Sekretaris Kota Ternate, serta Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian yang diharapkan mampu memberikan pandangan yang komprehensif atas realitas politik digital saat ini,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan FISIP UMMU, Dr. Aji Deni, M.Si menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat tradisi akademik yang dialogis dan kontekstual. Ia melihat bahwa politik digital telah menghadirkan lanskap baru yang menuntut pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sudut pandang politik, tetapi juga sosial, komunikasi, dan psikologis.
“Apresiasi saya sampaikan kepada seluruh inisiator yang telah membangun ruang kolaborasi ini. Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi digital, kampus harus hadir sebagai jangkar nalar yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga memberi arah. Diskusi ini menjadi penting sebagai ruang penjernihan sekaligus pendalaman makna atas realitas yang kita hadapi bersama,” ungkap Aji Deni.
Lebih lanjut, ia menegaskan kegiatan ini merupakan manifestasi dari komitmen institusi dalam membangun ekosistem akademik yang dialogis, terbuka, dan responsif terhadap perkembangan zaman.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk tidak berjalan di belakang realitas sosial, melainkan hadir di garis depan sebagai penafsir sekaligus penjernih. Diskusi panel ini adalah bentuk ikhtiar kami untuk merawat nalar publik agar tetap sehat di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak selalu jernih,” jelasnya mengakhiri. (kep)
