TERNATE, NUANSA – Hari ini, Rabu (2/9/2026) adalah hari paling bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh Abdul Wahid Setya Budi. Pria yang sehari-hari memeras keringat sebagai penarik ojek di Kelurahan Tubo, Kota Ternate, ini tak kuasa membendung kebahagiaan saat sebuah kunci rumah baru diletakkan di genggaman tangannya.
Sebagai warga yang berada dalam kategori kemiskinan ekstrem (Desil 1), impian untuk memiliki rumah yang layak, aman, dan sehat bagi keluarganya selama ini terasa sangat melangit. Namun hari ini, angan-angan itu menjadi nyata lewat program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Suasana haru begitu terasa saat Ketua Umum TP Posyandu Nasional, Tri Tito Karnavian, bersama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, secara simbolis memotong pita merah di depan pintu rumah barunya. Senyum lebar penuh kebahagiaan terpancar dari wajah Abdul Wahid, sebuah ekspresi syukur yang mendalam dari seorang rakyat kecil yang akhirnya tersentuh oleh keadilan sosial.
“RTLH ini bukan sekadar program pembangunan fisik, tetapi tentang mengembalikan harkat, martabat, dan menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga masyarakat kita yang paling membutuhkan,” ujar Sherly dengan penuh empati.
Program kemanusiaan ini merupakan kelanjutan dari komitmen nyata duet kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Sejak dimulai pada 2025 dengan 700 unit, program ini melonjak drastis di tahun 2026 menjadi 1.200 unit rumah yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Khusus untuk Kota Ternate, tahun ini mendapatkan alokasi total 70 unit bantuan.
Hingga saat ini, potret kepedulian tersebut terus dikebut: 40 persen dari total target 1.200 unit telah berdiri kokoh dan selesai 100 persen. Sementara 60 persen sisanya sedang dalam proses pembangunan intensif dengan progres fisik yang sudah menyentuh angka 70 persen. Rincian bantuan tahun ini mencakup 150 unit bangunan baru, 700 unit peningkatan kualitas (rehab), serta 325 unit dapur sehat untuk menunjang gizi keluarga.
Tidak berhenti pada penyerahan kunci, Gubernur Sherly juga meluangkan waktu untuk duduk bersama, membaur, dan berdialog langsung dengan warga Kelurahan Tubo. Mendengar langsung keluhan warga mengenai keterbatasan air bersih dan akses jalan, gubernur perempuan pertama di Maluku Utara ini langsung memberikan solusi konkret.
“Kami tidak hanya membangun rumahnya, tapi juga ekosistem kehidupannya. Untuk masalah air, kami segera mengusulkan alokasi CSR demi membangun sumur bor di sini. Pembangunan akses jalan kelurahan juga akan diusulkan agar segera dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” tegas Sherly, yang langsung disambut tepuk tangan riuh dan haru dari warga setempat.
Hari ini, di Kelurahan Tubo, Abdul Wahid dan warga lainnya menyaksikan bahwa kehadiran pemerintah bukan sekadar janji di atas kertas. Di bawah kepemimpinan Sherly-Sarbin, negara hadir membawa perubahan nyata yang langsung menyentuh dinding-dinding rumah dan hati masyarakat kecil di Maluku Utara.
Turut hadir, Direktur Fasilitasi LKAD PKK dan Posyandu Kemendagri RI, Nita Roslin, Pelaksana Tugas Sekretaris Umum TP Posyandu, Safriyati Safrizal, Ketua Tim Pembina Posyandu Maluku Utara, Rusni Sarbin, Pimpinan OPD Pemprov Maluku Utara. (tan)










