Oleh: Fahrin Umarama, S.IP
_______________
SEKTOR maritim bagi Indonesia bukan sekadar sebuah potensi ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan takdir geografis bangsa. Sebagai negara kepulauan, wilayah perairan Indonesia mencakup sekitar tiga perempat dari total wilayah nasional. Laut bukan hanya ruang pemisah antarpulau, tetapi juga menjadi penghubung yang menyatukan Nusantara secara geografis, ekonomi, sosial, dan budaya.
“Nenek Moyangku Seorang Pelaut”
Ungkapan tersebut bukan sekadar lirik lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud. Ia merupakan gambaran tentang identitas bangsa yang sejak dahulu memiliki hubungan erat dengan laut. Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga berbagai kesultanan di kawasan Maluku dan Maluku Utara pernah membangun kekuatan ekonomi dan politik yang bertumpu pada jalur perdagangan serta kekuasaan maritim.
Bahkan, bukti-bukti arkeologis di kawasan Wallacea menunjukkan bahwa manusia telah memiliki kemampuan berlayar dan memanfaatkan sumber daya laut sejak puluhan ribu tahun lalu. Temuan berbagai jenis ikan laut dalam di situs-situs purba menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan laut tidak hanya terbatas pada wilayah pesisir, tetapi juga mencakup pemanfaatan sumber daya laut yang lebih jauh.
Karena itu, membangun kembali kekuatan ekonomi berbasis kelautan bukanlah sesuatu yang asing bagi Indonesia. Justru, ekonomi biru merupakan salah satu jalan untuk menghidupkan kembali kekuatan yang sejak dahulu menjadi bagian dari jati diri Nusantara.
Kepulauan Sula dan Potensi “Amazon Bawah Laut”
Jika ada ungkapan bahwa “surga yang jatuh ke bumi”, maka salah satu bagian dari surga tersebut berada di kawasan laut timur Indonesia. Kawasan ini merupakan bagian penting dari Coral Triangle atau Segitiga Terumbu Karang dunia, sebuah kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia yang mencakup wilayah Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.
Wilayah laut Indonesia bagian timur, termasuk kawasan Maluku dan Maluku Utara, memiliki ekosistem laut yang sangat kaya. Kawasan tersebut menjadi rumah bagi berbagai jenis terumbu karang, ikan, moluska, serta biota laut lainnya. Kepulauan Sula merupakan bagian dari kekayaan ekosistem laut tersebut.
Potensi ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kekayaan alam, tetapi sebagai modal pembangunan ekonomi jangka panjang. Indonesia sendiri memiliki kawasan terumbu karang yang sangat luas dengan ribuan spesies ikan. Perairan Maluku dan sekitarnya juga termasuk dalam kawasan ekosistem laut penting di Indonesia.
Dengan posisi geografisnya yang strategis dan berada di kawasan perairan yang kaya, Kepulauan Sula memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat perikanan dan ekonomi biru di kawasan Indonesia Timur. Berdasarkan data yang tersedia, potensi sumber daya ikan di wilayah Kepulauan Sula diperkirakan mencapai sekitar 80.547,81 ton per tahun, sementara tingkat pemanfaatannya masih relatif rendah, sekitar 22,8 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan Kepulauan Sula bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Laut yang Lebih Luas daripada Daratan
Kepulauan Sula memiliki karakter geografis yang sangat mendukung pengembangan ekonomi berbasis kelautan. Sula memiliki wilayah lautan terbesar kedua diregional Maluku Utara dengan luas 3.356,40km setelah Halmahera Selatan yang berada di peringkat pertama. Terlebih, 60% wilayah Sula adalah lautan.
Jika potensi laut yang besar, maka pembangunan ekonomi tidak seharusnya terlalu berorientasi pada daratan. Laut harus ditempatkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dengan kata lain, masa depan Kepulauan Sula sangat mungkin dibangun melalui konsep ekonomi biru: memanfaatkan sumber daya laut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Arah Strategis Pengembangan Ekonomi Biru Kepulauan Sula
1. Memperkuat Nelayan Tangkap
Pemerintah daerah perlu memperkuat kapasitas nelayan melalui pendampingan, membentuk kelompok nelayan dan bantuan armada tangkap sesuai dengan karakteristik perairan Sula.
Bantuan perahu (motor tempel) ke semua desa berpotensi dan kapal dapat diprioritaskan kepada desa-desa yang telah memiliki tradisi dan pengalaman panjang dalam aktivitas penangkapan ikan, seperti Bajo, Wai Boga, Fagudu/Fokalik, serta desa-desa lain yang memiliki potensi nelayan tangkap.
Selain armada, dukungan juga perlu diberikan dalam bentuk peralatan penangkapan, bagan, tempat penyimpanan ikan, cold storage, fasilitas rantai dingin, serta akses permodalan. Yang tidak kalah penting adalah mempertemukan kelompok nelayan dengan perusahaan atau pembeli ikan sehingga hasil tangkapan memiliki pasar yang jelas.
Dengan demikian, nelayan tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai pasok perikanan yang lebih besar.
2. Mengembangkan Perikanan Budidaya
Perikanan budidaya dapat menjadi alternatif sekaligus penopang ekonomi masyarakat pesisir. Pemerintah dapat menyediakan bantuan sarana budidaya, keramba atau bagan apung, jaring, bibit ikan, serta pakan dengan harga yang terjangkau.
Pengembangan budidaya dapat diarahkan pada wilayah yang memiliki kondisi perairan dan geografis yang mendukung, seperti Kecamatan Mangoli Utara, Mangoli Barat, dan Sanana Utara.
Pengembangan pakan lokal juga dapat dipertimbangkan dengan memanfaatkan limbah hasil perikanan tangkap yang diolah kembali secara tepat dan higienis.
3. Mengolah Ikan Menjadi Produk Bernilai Tambah
Ibu-ibu rumah tangga dapat menjadi bagian penting dalam ekosistem ini melalui pengembangan rumah produksi atau rumah olahan yang menghasilkan abon ikan, ikan asap, ikan asin, kerupuk ikan, sambal ikan, makanan beku, dan berbagai produk olahan lainnya.
Pemerintah dapat mendukung dari sisi pelatihan, peralatan produksi, standardisasi produk, kemasan, sertifikasi, pemasaran digital, hingga akses pasar. Dengan demikian, satu ekor ikan tidak hanya memiliki nilai ketika ditangkap, tetapi dapat menciptakan nilai ekonomi berkali-kali lipat setelah diolah.
4. Mengembangkan Budidaya Rumput Laut dan Biota Laut
Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekonomi biru yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Selain itu, pengembangan berbagai biota laut bernilai ekonomi, termasuk komoditas yang berkaitan dengan mutiara dan hasil laut lainnya, dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Wilayah Mangoli dengan karakteristik geografisnya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu kawasan budidaya laut. Namun pengembangannya harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah, memperhatikan daya dukung lingkungan, tata ruang laut, kualitas air, serta keberlanjutan ekosistem.
5. Membangun Pariwisata Bahari
Kepulauan Sula memiliki kekayaan pantai, pulau-pulau kecil, terumbu karang, serta bentang alam laut yang dapat menjadi daya tarik wisata. Karena itu, pengembangan pariwisata bahari perlu dilakukan secara lebih serius melalui penambahan destinasi, peningkatan infrastruktur, akses transportasi, jaringan telekomunikasi, fasilitas keselamatan, serta sarana pendukung wisatawan.
Pantai Tanjung Waka, misalnya, membutuhkan dukungan akses jalan yang baik, jaringan komunikasi, fasilitas rekreasi air, serta ruang bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka, termasuk produk olahan hasil laut.
Potensi wisata menyelam, snorkeling, wisata pulau, wisata bahari berbasis masyarakat, hingga wisata kuliner laut juga dapat dikembangkan.
Yang lebih penting, Kepulauan Sula perlu menemukan dan membuka destinasi-destinasi baru yang selama ini belum tertata dan belum dikenal secara luas.
6. Mengembangkan Energi Laut
Ekonomi biru tidak hanya berbicara tentang ikan dan pariwisata. Laut juga dapat menjadi sumber energi masa depan.
Selat Capalulu, yang berada di antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangoli, memiliki karakteristik arus pasang surut yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Berbagai studi kelayakan dan pemetaan energi dari institusi seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN/BPPT) serta institut teknologi nasional telah mengonfirmasi kelayakan wilayah ini untuk menghasilkan energi listrik. Dalam jurnal “Tidal current power in Capalulu strait, North Maluku: A feasibility study” yang ditulis oleh Alamsyah Kurniawan pada tahun 2024, mengatakan selat capa lulu dapat dibangun 99 unit turbin yang mampu memproduksi energi bersih hingga mencapai 22 GWh (Gigawatt-hour) per tahun, yang dapat menerangi ribuan rumah tangga di Kepulauan Sula.
Namun potensi ini perlu terus dikaji secara teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Jika layak dikembangkan, energi laut dapat menjadi salah satu sumber listrik bersih sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Kepulauan Sula.
Menjadikan Sula sebagai Identitas Maritim
Pengembangan ekonomi biru membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah. Ia membutuhkan visi pembangunan dan regulasi yang konsisten.
Anggaran harus diarahkan secara proporsional kepada sektor kelautan dan perikanan. Masyarakat membutuhkan pendamping dari mereka yang kompeten. Nelayan membutuhkan akses teknologi dan pasar. UMKM membutuhkan modal, kemasan, dan jaringan pemasaran.
Di saat yang sama, Kepulauan Sula perlu membangun branding sebagai daerah maritim dan penghasil perikanan unggulan di Indonesia Timur.
Festival maritim, festival kuliner laut, lomba perahu, pameran produk perikanan, wisata bahari, hingga agenda budaya pesisir dapat dikembangkan secara rutin untuk memperkenalkan identitas Sula kepada masyarakat luar. Sebab, pembangunan daerah bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga tentang membangun identitas dan kepercayaan terhadap potensi daerah sendiri.
Laut Sula, Masa Depan Sula
Kepulauan Sula memiliki kekayaan alam yang besar. Lautnya luas, sumber daya ikannya melimpah, garis pantainya panjang, pulau-pulau kecilnya memiliki daya tarik wisata, dan masyarakatnya memiliki tradisi maritim yang kuat.
Namun kekayaan alam tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Sumber daya hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola dengan pengetahuan, kebijakan yang tepat, investasi, teknologi, dan keberanian politik untuk menjadikannya sebagai prioritas pembangunan.
Jika laut hanya dilihat sebagai tempat menangkap ikan, maka nilai ekonominya akan berhenti pada ikan. Tetapi jika laut dilihat sebagai ekosistem ekonomi, maka di dalamnya terdapat perikanan tangkap, budidaya, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, energi terbarukan, transportasi, UMKM, hingga lapangan pekerjaan bagi generasi muda.
Karena itu, sudah saatnya Kepulauan Sula tidak lagi memandang laut sebagai batas wilayah. Laut adalah halaman depan. Laut adalah sumber kehidupan. Dan laut adalah masa depan ekonomi Kepulauan Sula.
Ekonomi biru bukan sekadar pilihan pembangunan. Ia adalah jalan strategis untuk mengubah kekayaan laut menjadi kesejahteraan masyarakat Kepulauan Sula. (*)
