NUANSA, TERNATE – Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen sungai atau Sabo Dam di Kota Ternate, Maluku Utara, terus berjalan. Pembangunan di Kelurahan Kastela, Pulau Ternate, tercatat mencapai progres 76,85 persen, sedangkan total pembangunan di Kecamatan Ternate Selatan dan Kecamatan Pulau Ternate telah mencapai angka 90,45 persen.
Kepala Satker PJSA Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, Ruslan Rizal, ST, MT, menyampaikan bahwa pembangunan Sabo Dam adalah bagian dari upaya meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat dari risiko bencana yang berkaitan dengan aliran sungai, terutama saat jelang curah hujan tinggi diiring dengan aliran material yang terbawa.
“Sabo Dam ini bertujuan untuk menahan material seperti kerikil dan pasir yang terbawa saat aliran air tinggi terjadi akibat hujan. Apalagi seperti kita ketahui, usai musim panas panjang, musim akan berganti ke musim penghujan yang cukup intens. Sabo Dam ini sebagai langkah antisipatif,” ucap Ruslan.
Menurutnya, keberadaan bangunan Sabo Dam memiliki peran penting dalam mengurangi material sedimen yang terbawa aliran sungai, seperti pasir, kerikil, dan bebatuan, sehingga dapat membantu mengendalikan aliran material menuju kawasan hilir.
“Pembangunan pengendali sedimen ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi risiko dampak aliran material sedimen saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Dengan adanya infrastruktur ini, aliran sungai diharapkan dapat lebih terkendali sehingga keselamatan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya dapat lebih terlindungi,” ujar Ruslan.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen juga menjadi bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi potensi penumpukan material di alur sungai serta mendukung perlindungan kawasan permukiman dan lingkungan di sekitar sungai.
“BWS Maluku Utara terus mendorong penyelesaian pekerjaan sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi dan ketentuan teknis yang berlaku,” jelas Ruslan.
Melalui pembangunan ini, diharapkan manfaat infrastruktur pengendali sedimen dapat dirasakan masyarakat, khususnya dalam mendukung pengurangan risiko bencana, menjaga fungsi alur sungai, serta meningkatkan keamanan kawasan di sekitar daerah aliran sungai. (cep)













