Oleh: Sadam Hardi
____________________
SEJARAH kebangsaan Indonesia tidak lahir dari ruang hampa atau kompromi elite kolonial, melainkan ditempa melalui keringat, darah, kegigihan, serta empati kolektif pemuda yang berakar dari kesadaran religius dan nasionalisme yang kuat. Dalam mahakarya Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, ditegaskan bahwa dinamika pergerakan nasional memiliki napas religius yang sangat kuat. Dari sanalah tumbuh penggerak utama kesadaran melawan ketidakadilan struktural penjajahan.
Kritik penting yang dibangun dalam Api Sejarah membuka mata kita bahwa kebangkitan nasional bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kerja-kerja kesadaran kaum terpelajar, ulama, santri, dan masyarakat bawah yang bersatu. Organisasi-organisasi pergerakan awal seperti Sarekat Islam menunjukkan bagaimana empati terhadap penderitaan rakyat, kaum buruh, dan petani diterjemahkan menjadi kegigihan politik.
Para pemuda kala itu tidak hanya berpikir tentang kelompoknya sendiri, melainkan merajut simpul-simpul persaudaraan lintas etnis dan wilayah untuk satu tujuan: membebaskan bangsa. Kegigihan tanpa empati melahirkan tirani, sementara empati tanpa kegigihan hanya menghasilkan ratapan. Pemuda masa lalu menggabungkan keduanya menjadi daya dobrak sejarah yang kuat.
Semangat merajut bangsa melalui kegigihan dan empati ini sejalan dengan tuntunan wahyu Ilahi. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat ini adalah cetak biru (blueprint) moral bagi pergerakan pemuda. Kebajikan (al–birr) dan takwa menuntut adanya empati sosial yang tinggi terhadap sesama anak bangsa, terutama mereka yang masih terasing di wilayah-wilayah pinggiran. Sedangkan tolong-menolong adalah wujud nyata dari kegigihan kolektif bahwa membangun Indonesia tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dikerjakan secara bersama-sama di atas fondasi moral yang kokoh.
Jika ditarik ke garis horizontal timur Nusantara, Maluku Utara berdiri sebagai tanah yang menyimpan jejak sejarah peradaban maritim, kekayaan rempah, dan ketangguhan budaya yang luar biasa. Dari Tidore hingga Ternate, dari Halmahera hingga Kepulauan Sula, Maluku Utara adalah mercusuar sejarah tempat para Kesultanan Nusantara dahulu mengukir kedaulatan dan jaringan perdagangan global.
Di sinilah pemuda Maluku Utara dituntut hadir sebagai penjahit jaring-jaring kebangsaan. Dengan modal kultural yang menjunjung tinggi nilai sopan santun, saling menghargai, dan membela kebenaran, pemuda Maluku Utara memegang kunci untuk merajut harmoni lintas pulau. Kegigihan pemuda setempat dalam menuntut ilmu, berinovasi digital, dan merawat tradisi lokal adalah bentuk nyata jihad kebudayaan untuk menghadirkan Indonesia yang berkeadilan hingga ke beranda depan NKRI.
Sumpah Pemuda bukanlah sekadar teks mati yang diikrarkan setiap tanggal 28 Oktober dalam upacara-upacara formal. Ia adalah sebuah gema revolusioner yang terus memanggil kita untuk menembus batas-batas sekat primordial. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa adalah manifestasi tertinggi dari kemenangan empati atas egoisme golongan.
Menjemput masa depan Indonesia emas di tengah gelombang disrupsi global menuntut pemuda hari ini untuk kembali menghidupkan roh Sumpah Pemuda. Persatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan merayakan keragaman dalam satu ikatan tak terpisahkan. Ketika pemuda Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, termasuk di dalamnya degup jantung pemuda di kepulauan Maluku Utara bersepakat untuk saling menguatkan, maka badai krisis apapun akan mampu dilewati.
Mari kita jahit kembali merah putih di hati kita dengan benang kegigihan yang tak mudah putus dan jarum empati yang peka terhadap luka sesama. Masa depan Indonesia ada di tangan pemuda yang tidak hanya cerdas membaca lembaran Api Sejarah, tetapi juga berani menyalakannya untuk menerangi hari esok. (*)












