DARUBA, NUANSA – Fadli Alting, warga Desa Muhajirin, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, pernah berimpian Morotai dijadikan sebagai kota sejarah. Tentu itu bukan tanpa dasar, Morotai sebagai salah satu pangkalan terbesar militer sekutu di pasifik saat perang dunia kedua lah alasannya.
Meski impian besar itu bukanlah hal mudah, tapi juga bukan mustahil jika ada tekad kuat untuk memperjuangkannya. Barang-barang peninggalan tentara sekutu dan Jepang ia kumpulkan sejak tahun 2010. Menurut Fadli, selain agar Morotai dikenal sebagai Kota Sejarah, bukti peninggalan perang dunia kedua ini juga menjadi sarana mendidik generasi penerus bangsa.
“Di tahun 2010 itu pernah saya tulis kalau Jakarta kota metropolitan, Jogja kota pendidikan, saya punya target Morotai jadi kota sejarah,” ujar Fadli, Sabtu (29/11).
Fadli yang juga seorang ASN di lingkup Pemkab Morotai, ini juga mengaku sering menyampaikan ke masyarakat sekitar agar tetap menjaga warisan sejarah, meski yang ditemukan hanyalah sepotong besi karatan.
“Sebab kalau mau cari biar pun cuma besi saja sudah susah, misalnya di area Gotalamo itu kan dulunya banyak, tapi sekarang sudah banyak rumah jadi sudah susah untuk dicari,” jelasnya.
Namun begitu, impian besar tentu hanya jadi isapan jempol belaka, jika tak ditopang oleh semua pihak, terutama pemerintah setempat. Sejauh ini, menurutnya, sejumlah barang peninggalan sejarah PD-II ini belum mendapat sentuhan dari pihak mana pun.
Ia berharap, sebuah gubuk sederhana sebagai tempat ia menampung barang peninggalan sejarah itu bisa mendapatkan legalitas sebagai salah satu museum swadaya di Morotai.
“Saya cuma mau, mungkin Dinas Pendidikan bisa pasang papan nama supaya orang tahu ini museum apa begitu. Supaya barang-barang yang di hutan juga saya bawa ke sini juga, karena masih ada banyak senjata dan lain-lain, tapi saya takut jangan sampai misalnya ada yang bilang ilegal terus disita. Tapi kalau ada papan nama kan berarti sudah resmi, jadi memang minta ada dukungan pemerintah terkait itu saja,” harapnya.
Untuk diketahui, museum swadaya milik Fadli ini berada di Dusun Muhajirin Baru Desa Muhajirin, Morotai Selatan. Saat diamati wartawan Nuansa Media Grup (NMG), kondisi tempat penampungan benda bersejarah ini memang tampak tak terurus. Sejumlah barang peninggalan perang dunia seperti senjata, selongsongan, alat kebutuhan rumah tangga, hingga alat infrastruktur pendukung, bahkan berserakan di mana-mana. (ula/tan)










