Wagub Maluku Utara Dorong Lahirnya Perda Pakaian Adat

SOFIFI, NUANSA – Dalam kurun beberapa waktu terakhir, pelestarian budaya di Maluku Utara menunjukkan tren positif. Berbagai kalangan, baik individu, komunitas, maupun organisasi, kepedulian terhadap budaya kerap membagikan aktivitas mereka berupa praktik baik seputar pelestarian pada media sosial.

Hal tersebut ditegaskan dengan pelaksanaan Focus Group Discussion Pakaian Adat Kie Raha, di Aula Dinas Pendidikan Kebudayaan, Sabtu (10/10).

Mengenakan pakaian adat lengkap, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe didampingi Sekretaris Daerah Samsuddin Abdul Kadir mendorong adanya regulasi untuk melindungi dan mengembangkan kebudayaan di Maluku Utara. Menurut Sarbin, kekayaan budaya daerah perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan, bukan sekadar ditampilkan dalam kegiatan seremonial.

“Saya berharap diskusi ini bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan pemikiran terbaik dan memberikan dampak positif bagi pengembangan kebudayaan khususnya pakaian adat di Maluku Utara” kata Sarbin.

Ia menilai, regenerasi menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal sehingga tidak terputus dari akar budayanya.

“Merawat budaya berarti merawat identitas kita. Mendidik generasi berarti memastikan identitas itu tidak berhenti pada generasi hari ini, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Maluku Utara memiliki akar budaya yang kuat dengan memiliki empat kesultanan yakni Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan, serta melahirkan kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari seni tradisi, bahasa, adat istiadat hingga berbagai ekspresi budaya yang tumbuh berdampingan di tengah masyarakat. Kekayaan tersebut, perlu dijaga sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan khazanah perkembangan zaman. (tan)