Opini  

Vasektomi, Tubuh, dan Keadilan

Oleh: Sriyanti Nihi

______________________

TUBUH adalah puisi pertama yang ditulis Sang Pencipta yang tak terikat dengan negara, tak tunduk pada kalkulasi birokrasi. Di dalamnya, tertanam hakikat kemanusiaan yang paling dasar; untuk memilih, untuk merasakan, untuk menentukan arah hidup tanpa tekanan dan paksaan. Maka ketika tubuh mulai dijadikan alat tawar-menawar, ketika garis kebijakan menyentuh pori-pori kemiskinan dengan pisau Bernama “Vasektomi”, kita tidak sedang membicarakan pengendalian kelahiran semata. Kita sedang berbicara tentang bagaimana kuasa dapat menyusup ke dalam tubuh yang lapar dan tak punya pilihan.

Apa jadinya jika tubuh yang miskin tak lagi berdaulat atas dirinya? Ketika garis kemiskinan bertemu dengan program sosial yang bersyarat, keadilan berubah menjadi kemewahan, bukan lagi hak. Sebuah ironi getis di negeri yang katanya menjunjung tinggi sila keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Dalam sunyi, suara-suara kecil yang selama ini terbungkam pun mulai menggema; apakah menjadi miskin berarti kehilangan hak untuk bermimpi akan keluarga yang utuh? Apakah kemiskinan cukup menjadi alasan untuk mencabut hak reproduksi?

Dalam sejarah panjang kebijakan populasi, kita telah belajar dari luka, dari program KB paksa di masa Orde Baru, dari bisu pada ibu yang suntuk tanpa persetujuan, dari tubuh-tubuh yang menjadi ladang eksperimen kekuasaan. Namun hari ini, jejak itu seolah hendak diulangi dengan wajah yang baru yakni; vasektomi bersyarat, berkedok insentif, berdalih efisiensi. Di sini, negara seolah berdiri di persimpangan antara perlindungan dan pemaksaan, antara pelayanan dan penundukan.

Padahal, keadilan bukan sebentuk angka dalam grafik pertumbuhan ekonomi. Ia adalah ruang di mana setia masyarakat miskin ataupun kaya diakui penuh sebagai manusia. Keadilan adalah setiap ketika negara hadir bukan untuk memaksa hak, tetapi untuk merawat harkat. Ketika bantuan sosial diberikan bukan sebagai alat kendali, melainkan sebagai jembatan untuk kehidupan yang lebih bermartabat.

Barangkali, di tengah kebijakan yang tampak rasional, kita lupa bahwa hidup manusia tak bisa direduksi menjadi efisiensi anggaran. Bahwa dalam Rahim setiap keluarga miskin, tersimpan harapan yang tak kalah suci dari keluarga manapun. Dan bahwa tubuh setiap orang tak peduli status sosialnya adalah medan sakral yang tak boleh dijajah oleh tekanan ekonomi yang dibungkus retorika pembangunan.

Negara seharusnya menjadi rumah perlindungan bagi rakyatnya, bukan penjaga pintu yang menentukan siapa yang boleh memiliki keturunan dan siapa yang tidak. Bukan pula menilai siapa yang paling layak menjadi ayah, siapa yang pantas menjadi ibu, hanya karena memiliki atau tidak memiliki kekayaan. Tubuh manusia bukan katalog program sosial. Juga bukan pula mesin produksi yang bisa dibungkam dengan imbalan sesaat. Ia adalah tanah suci yang hanya boleh diinjak oleh pilihan bebas, oleh kesadaran penuh, oleh cinta dan tanggung jawab, bukan oleh kekuasaan yang menyamar dalam bantuan.

Vasektomi, sungguh menjadi pilihan yang sadar dan bebas, bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi ketika ia dijadikan jalan keluar utama dari kemiskinan, bahkan syarat tak tertulis untuk bantuan, maka ia lagi berdiri di jalur etika. Ia menjadi jejak baru kolonialisme gaya baru, di mana tubuh dijajah bukan oleh senjata, tapi oleh kelaparan dan ketakutan.

Keadilan sejatinya, bukan tentang mengatur berapa anak yang boleh dimiliki rakyat miskin. Keadilan adalah menciptakan dunia di mana setiap anak, tak peduli ia lahir di rumah bambu atau vila mewah, punya hak yang sama untuk tumbuh dengan layak. Keadilan bukan soal mengurangi jumlah rakyat miskin, tetapi mengurangi jumlah orang yang dipaksa menyerahkan haknya karena ia miskin.

Maka biarkan kita menulis di langit, dengan kata yang paling jujur; bahwa tubuh bukan milik negara, bukan milik sistem, bukan milik para pemangku kuasa yang duduk jauh dari kenyataan hidup sehari-hari. Tubuh adalah milik mereka yang menguninya. Dan selama kita masih percaya pada martabat manusia, tak ada satu pun kebijakan yang boleh mengatur tubuh tanpa kebebasan penuh, tanpa cinta, tanpa kemanusiaan. Dan semoga, di balik semua ini, kita melupakan satu hal bahwa; keadilan tidak bisa dikebiri. Ia akan terus tumbuh, seperti doa dalam dada yang diam.  (*)