(Memaknai Hari Ayah Nasional 2025)
Oleh: Hj. Yulius Agustina, S.Pd.I
Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPW PKS Maluku Utara
____________________
HARI Ayah Nasional 2025 menjadi momentum penting untuk memaknai dan menghargai cinta kasih ayah dalam kehidupan keluarga. Ayah seringkali menjadi sosok yang kuat dan tangguh di balik kehangatan keluarga, meskipun perannya kadang terlupakan di tengah kesibukan sehari-hari.
Cinta ayah tak selalu terucap dalam kata-kata manis, namun lebih banyak terlihat dalam tindakan nyata, seperti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan perlindungan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Ayah berperan besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anaknya melalui teladan dan nasihat yang diberikan.
Di tengah perubahan zaman dan dinamika keluarga modern, peran ayah semakin penting untuk menjaga kehangatan dan keharmonisan keluarga. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga menjadi panutan dan teman bagi anak-anaknya.
Menurut Zakiah Daradjat, seorang ahli pendidikan Islam, ayah memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga dan masyarakat. Ayah dianggap sebagai pemimpin dan penanggung jawab keluarga, yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan kepada anggota keluarganya.
Zakiah Daradjat juga menekankan bahwa ayah memiliki peran sebagai pendidik dan pembimbing anak-anaknya, yang bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan dan bimbingan yang baik kepada mereka. Ayah diharapkan dapat menjadi contoh yang baik dan membimbing anak-anaknya dalam mengembangkan nilai-nilai dan karakter yang positif.
Selain itu, Zakiah Daradjat juga menekankan pentingnya ayah dalam membentuk kepribadian anak-anaknya. Ayah dapat membantu anak-anaknya mengembangkan kemampuan dan potensi mereka, serta membentuk karakter yang kuat dan tangguh.
Menurut para ahli, ayah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan perkembangan anak. Dr. Haim Ginott, seorang psikolog anak, menyatakan bahwa ayah memiliki peran sebagai pemimpin dan panutan bagi anak-anaknya. Ayah diharapkan dapat memberikan contoh yang baik dan membimbing anak-anaknya dalam mengembangkan nilai-nilai dan karakter yang positif.
Menurut Dr. Michael E. Lamb, seorang ahli psikologi perkembangan, ayah memiliki peran yang unik dalam kehidupan anak-anaknya. Ayah dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak-anaknya. Ayah juga dapat membantu anak-anaknya mengembangkan kemampuan untuk mengatasi masalah dan menghadapi tantangan.
Dr. Ross W. Greene, seorang psikolog klinis, menyatakan bahwa ayah memiliki peran penting dalam membantu anak-anaknya mengembangkan kemampuan regulasi emosi dan mengatasi masalah perilaku. Ayah dapat membantu anak-anaknya mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi dan perilaku mereka dengan cara yang sehat dan positif.
Menurut Prof. Dr. H. M. Munandar, seorang ahli psikologi pendidikan, ayah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan anak-anaknya. Ayah dapat membantu anak-anaknya mengembangkan kemampuan akademis dan non-akademis, serta membimbing mereka dalam mencapai tujuan dan cita-cita mereka.
Dalam pandangan Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah pemimpin, pelindung, dan pendidik yang menjaga keluarganya dari keburukan dunia dan akhirat.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa tugas seorang ayah bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan keluarganya berada di jalan yang diridhai Allah. Dari tutur kata, sikap, hingga ibadahnya, ayah menjadi cermin keteladanan bagi anak-anaknya. Melalui kedisiplinan shalat yang ia tegakkan, kejujuran yang ia jaga, serta kelembutan pada istrinya, seorang ayah menanamkan nilai-nilai Islam yang kokoh di dalam rumah.
Fenomena Fatherless dan Dampaknya Bagi Keluarga
Namun realitas saat ini menunjukkan banyak anak kehilangan sosok ayah dalam kehidupannya. Bukan hanya karena kepergian secara fisik, tetapi karena ayah tidak hadir secara batin, tidak hadir menyapa hati dan perasaan anak-anaknya.
Menurut data Kompas yang diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS 2024, sekitar 20,1% anak Indonesia mengalami kondisi fatherless. Angka ini setara dengan puluhan juta anak yang tumbuh tanpa kehangatan dan bimbingan seorang ayah.
Dampaknya tidak sederhana. Ketidakhadiran ayah dapat berimbas pada diri anak dalam bentuk: Kekosongan emosional dan kehilangan identitas. Gangguan dalam pembentukan karakter dan moral. Rasa rendah diri dan kesulitan mengelola emosi. Hilangnya arah spiritual dan kendali hidup.
Padahal kita tahu cinta seorang ayah adalah pilar penting dalam membangun keluarga yang hangat dan penuh ketenangan. Sumber Ketegasan yang menghangatkan meski sering digambarkan sebagai sosok yang kuat dan tegas, di balik itu ayah adalah tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk berlindung. Perhatian yang tulus, kesabaran dalam mendengar, serta kebijaksanaannya dalam bersikap mampu memberi rasa aman bagi keluarga.
Kehangatan ayah tidak selalu hadir dalam banyak kata. Kadang ia menjelma dalam pelukan yang menenangkan, dalam upaya memperbaiki sesuatu di rumah, dalam doa yang tak pernah putus untuk keluarganya.
Berbicara tentang ayah bukan hanya berbicara tentang otoritas. Ia adalah sumber ketenangan dan kenyamanan keluarga. Dari caranya berjuang dan bersikap, keluarga belajar apa itu cinta yang tulus, sabar, dan meneduhkan sehingga anak-anak memiliki figur yang pasti seperti apa sosok seorang laki-laki.
Arsitek Masa Depan
Ayah juga memegang amanah untuk membangun masa depan anak-anaknya. Dengan visi yang jelas tentang kehidupan, menanamkan akhlak mulia, dan memberikan pendidikan yang baik, ayah mengarahkan potensi setiap anak agar kelak menjadi pribadi yang saleh/salehah, kuat, mandiri, dan bermanfaat bagi umat.
Seorang ayah perlu melihat jauh ke depan: bahwa anak-anaknya adalah penerus peradaban. Karenanya, ia membimbing bukan dengan tekanan, namun dengan kehadiran, diskusi yang ringan, serta teladan kehidupan yang nyata.
Cinta Ayah yang Tak Selalu Terucap
Isu fatherless bukanlah untuk menyalahkan para ayah. Ia hadir sebagai cermin yang lembut untuk mengingatkan kita agar sejenak berhenti, menoleh ke rumah, dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar hadir untuk keluarga?
Di tengah kesibukan yang menuntut, rutinitas yang melelahkan, serta kewajiban dunia yang tak pernah selesai, sering kali peran sebagai orang tua tergeser tanpa kita sadari. Kita terus berlari, merasa telah memberikan yang terbaik, padahal hati anak dan pasangan mungkin sedang menunggu kita. Bukan uang kita, bukan juga pencapaian kita, akan tetapi diri kita yang benar-benar hadir.
Satu hal yang tidak diragukan, di dalam hati setiap ayah, cinta itu selalu ada. Hanya saja, cinta seorang ayah tak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Cinta itu terbungkus dalam cara yang sulit dipahami. Ia jarang diucapkan juga jarang dirayakan. Ia tidak selalu berupa pelukan hangat atau kata-kata manis yang menenangkan. Ayah tidak selalu pandai mengekspresikan rasa cintanya. Ia mungkin tidak pandai berkata, “Aku sayang padamu.” Ia mungkin canggung saat mengusap kepala anaknya atau kikuk saat diminta mendengar keluh kesah mereka. Karena budaya seringkali mengajarkannya untuk kuat, menahan rasa, menjadi batu yang kokoh meski hatinya retak.
Cinta ayah adalah cinta yang sunyi, yang bekerja dalam diam, yang rela memikul dunia agar keluarganya tetap merasa aman. Namun justru karena kesunyiannya itulah, ayah yang merasa telah melakukan segalanya, tidak menyadari bahwa keluarga menunggu hal yang sederhana: kehadiran, pelukan, perhatian, dan kata-kata yang menenangkan. Dalam perjuangannya menafkahi keluarga, kadang ayah terlalu jauh hingga keluarganya merasa ia tidak hadir. Dalam ketidakmampuannya mengungkapkan cinta, terkadang hati anak merasa kosong, dan hati istri merasa berjuang sendirian.
Maka sekali lagi isu fatherless bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Agar setiap ayah kembali terhubung dengan cinta yang telah Allah tanamkan dalam dirinya: cinta yang menjadi sumber hangatnya rumah dan kokohnya iman di dalam keluarga.
Langkah Sederhana Kehadiran Ayah di Rumah
Agar kehadiran ayah dapat benar-benar dirasakan, beberapa hal sederhana ini dapat dilakukan:
1. Menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak. 2. Mengajak melakukan ibadah bersama-sama. 3. Mendampingi anak belajar. 4. Mendengarkan cerita dan kegelisahan anak. 5. Ngobrol santai bersama keluarga. 6. Berdiskusi sambil menanamkan nilai kehidupan. 7. Menyediakan waktu khusus untuk keluarga (family time). 8. Bercanda dan tertawa bersama keluarga. 9. Memeluk anak-anaknya. 10. Tak henti mendoakan keluarga dalam sujud-sujud terbaiknya
Hal-hal kecil ini bila dilakukan dengan sepenuh hati, akan menjadi kenangan yang membekas sepanjang usia. Saatnya saling menguatkan. Karena itu, inilah saatnya kita memperbaiki cara kita saling mencintai di dalam keluarga. Untuk para ayah, beranilah menampakkan cinta yang selama ini hanya tersimpan di hati. Tunjukkan bahwa ketegasanmu bisa berjalan berdampingan dengan kelembutan. Bicaralah, dengarkanlah, dan peluklah keluargamu walau awalnya canggung, walau dengan ucapan yang terbata. Sebab kehadiranmu adalah anugerah paling besar yang bisa mereka rasakan setiap hari.
Untuk para anak, lihatlah ayahmu lebih dalam dari wajah lelahnya. Di balik tegas suaranya, ada hati yang takut kehilangan. Di balik sikap diamnya, ada doa yang selalu menyebut namamu. Hargailah setiap perjuangannya bahkan untuk perjuangan yang tak pernah terlihat.
Untuk para ibu, engkaulah sahabat terdekatnya. Bantulah ia belajar mengungkapkan cinta dengan cara yang lebih hangat. Dukung ia untuk berdialog dengan hati, bukan hanya dengan tanggung jawab. Karena keluarga yang kuat dibangun oleh cinta yang saling memahami. Mari kita hadir kembali dalam keluarga yang kita bangun bersama. Mengisi rumah kita dengan cinta dan kasih sayang yang tidak hanya bekerja, tetapi juga menyentuh, berbicara, dan menenangkan. Menatanya dengan saling mengenal, memahami dan sepenanggung. Menghiasinya dengan iman yang kokoh, ibadah yang kuat, akhlak yang mulia dan aktivitas yang menyenangkan. Menghangatkan anggota keluarga dengan hadir di dalam ruang hati mereka. Menghadirkan surga di rumah kita. Semoga Allah SWT menganugerahkan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan kepada para ayah dalam menjalankan amanah mulia sebagai ayah. Semoga setiap langkah ayah dipermudah, rezekinya dilapangkan, dan hatinya dipenuhi cahaya dalam membimbing keluarga menuju kebaikan dunia dan akhirat.
Cinta ayah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kehangatan dan keharmonisan keluarga. Ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pemimpin, pendidik, dan teman bagi anak-anaknya.
Cinta ayah dapat dilihat dari tindakan nyata, seperti memberikan perlindungan, membimbing, dan mendukung anak-anaknya dalam mencapai tujuan dan cita-cita mereka. Ayah yang mencintai anak-anaknya akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.
Dalam peringatan Hari Ayah Nasional 2025, mari kita hargai dan apresiasi cinta ayah dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Kita dapat melakukan hal-hal kecil seperti mengucapkan terima kasih, memberikan kejutan, atau hanya dengan menghabiskan waktu bersama ayah kita.
Dengan memaknai cinta ayah, kita dapat memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan lingkungan yang hangat dan harmonis bagi anak-anak tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali dan menghargai peran ayah dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam akhirnya, peringatan Hari Ayah Nasional 2025 menjadi momentum penting untuk memaknai cinta ayah dan memperkuat ikatan keluarga. Mari kita jadikan cinta ayah sebagai landasan untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan masyarakat yang lebih baik di masa depan.
Dalam peringatan Hari Ayah Nasional 2025, mari kita apresiasi dan hargai cinta kasih ayah dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Dengan demikian, kita dapat memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan lingkungan yang hangat dan harmonis bagi anak-anak kita tumbuh dan berkembang membekas sepanjang usia. (*)










