google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Warga Obi Apresiasi Respons Cepat Gubernur Sherly: Dulu Jembatan Batang Kelapa, Sekarang Sudah Layak

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Istimewa)

LABUHA, NUANSA – Respons cepat Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, atas permintaan masyarakat terkait akses penghubung di Pulau Obi menuai apresiasi luas dari warga. Unggahan warganet yang memperlihatkan kondisi jembatan darurat berbahan batang kelapa, lalu disandingkan dengan jembatan yang kini lebih layak, menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah kepulauan.

Di berbagai media sosial, masyarakat menuliskan rasa syukur dan ucapan terima kasih. Banyak yang menyebut pembangunan jembatan tersebut sebagai jawaban atas harapan panjang warga yang selama ini bergantung pada jalur penghubung sederhana, terutama saat cuaca buruk dan debit air meningkat.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

“Dulu jembatan hanya batang kelapa, tapi sekarang sudah layak. Terima kasih Ibu Gubernur,” tulis salah satu warga dalam unggahan yang ramai dibagikan.

Warga setempat menilai jembatan bukan sekadar infrastruktur, tetapi “urat nadi” yang menentukan lancarnya aktivitas ekonomi, akses layanan kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, hingga mobilitas anak-anak menuju sekolah.

Selain menjadi kebutuhan penting, akses jembatan dan jalan juga dinilai sangat menentukan kelancaran perputaran hasil kebun dan hasil laut masyarakat Obi yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama.

Kadis PU: Tiga Jembatan Dipasang Bailey Tahun 2025

Menanggapi perhatian publik tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar menjelaskan bahwa pembangunan yang dimaksud merupakan bagian dari program pemerintah provinsi pada ruas jalan provinsi di Pulau Obi.

“Ini adalah pembangunan Jembatan Laiwui–Jikotamo–Anggai. Ada tiga jembatan yang dipasang menggunakan konstruksi Bailey, atas permintaan masyarakat sekitar dan karena merupakan ruas provinsi, sehingga Ibu Gubernur membelanjakannya pada tahun 2025, tiga jembatan di 2025,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan jembatan Bailey dipilih sebagai solusi efektif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan akses warga, terutama pada titik-titik yang selama ini rawan terputus dan menyulitkan mobilitas masyarakat.

Tahun 2026, Perhatian Berlanjut: Rekonstruksi Jalan 10 KM dan Jembatan Bentang 20 Meter

Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga memastikan perhatian untuk masyarakat Obi tidak berhenti pada pemasangan jembatan tahun 2025. Pada tahun 2026, Pemprov telah menyiapkan program lanjutan untuk peningkatan konektivitas yang lebih permanen.

“Untuk tahun 2026, Gubernur juga memperhatikan masyarakat Obi, dengan program rekonstruksi jalan sepanjang 10 kilometer, serta pembangunan 1 unit jembatan bentang 20 meter,” jelasnya.

Masyarakat berharap langkah ini menjadi awal dari pembenahan akses yang lebih merata di wilayah kepulauan Maluku Utara. Mereka menilai, pembangunan infrastruktur yang menyentuh kebutuhan sehari-hari akan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi warga dan pelayanan publik yang lebih cepat serta aman.

Dengan dukungan masyarakat dan komitmen pemerintah daerah, konektivitas di Pulau Obi diharapkan semakin kuat, sekaligus menjadi bagian dari penguatan pembangunan berkeadilan di Maluku Utara. (tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version