JAILOLO, NUANSA – Janji Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat untuk menjamin akses air bersih bagi warga Desa Tolofuo, Kecamatan Loloda, dinilai masih sebatas wacana administratif. Hingga pertengahan Januari 2026, warga setempat masih terjebak dalam krisis air bersih tanpa solusi permanen dari instansi terkait.
Kondisi ini merupakan imbas dari bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Halbar pada awal Januari lalu. Material longsor menimbun dua bak penampungan serta sumber mata air utama desa, yang melumpuhkan total akses warga terhadap air untuk kebutuhan minum, mandi, dan mencuci.
Solusi Darurat PDAM: Warga Diminta ‘Menjemput’ Air
Direktur PDAM Jailolo, Robert, mengakui keterbatasan infrastruktur di wilayah tersebut. Menurutnya, jaringan PDAM saat ini hanya menjangkau hingga Desa Kedi. Sebagai langkah darurat, pihaknya menyediakan satu titik keran umum di Pelabuhan Kedi.
“Jaringan PDAM hanya sampai di Kedi. Saya sudah sarankan ke Pak Camat agar disiapkan jerigen supaya warga Tolofuo bisa mengambil air menggunakan bodi (perahu) dari Kedi,” ujar Robert saat dikonfirmasi.
Terkait bantuan distribusi air galon dari pihak kecamatan yang dilakukan dua hari sekali, Robert menilai hal itu belum cukup karena hanya memenuhi kebutuhan minum. Namun, PDAM mengaku terkendala anggaran untuk membangun fasilitas permanen di dalam kampung.
“Anggaran kami tidak ada. Saya sudah sampaikan ke Pak Camat agar berkoordinasi dengan Dinas PU. Saya juga sudah minta tim di Loloda mendata lokasi untuk laporan ke Dinas PU,” tambahnya.
Koordinasi dengan BPBD pun baru menghasilkan 10 jerigen dari total 20 yang diusulkan.
Dinas PUPR Terkendala Cuaca dan Minim Respons
Di sisi lain, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Halbar, Fachlis, berdalih bahwa upaya pemantauan lapangan terkendala faktor alam.
“Saya sudah perintahkan staf ke Desa Tolofuo, tetapi cuaca buruk sehingga tidak ada bodi perahu yang berani keluar,” kata Fachlis, Senin (12/1) lalu.
Namun, hingga Kamis (14/1), Fachlis yang juga menjabat sebagai Koordinator Pemulihan Sarana dan Prasarana Satgas Tanggap Darurat tidak memberikan respons tambahan saat dikonfirmasi kembali mengenai tindak lanjut konkret penanganan di lapangan.
Warga: “Air Bukan Kemewahan, Jangan Sombong Minta Bantuan”
Kekecewaan mendalam dirasakan warga Tolofuo. Harmin, salah satu warga, menyebut distribusi air galon dari kecamatan sangat terbatas dan tidak mampu mencukupi kebutuhan seluruh desa. Sementara itu, sungai di desa hanya layak digunakan untuk mencuci, bukan untuk konsumsi.
“Kami harus ke Pelabuhan Kedi, itu pun kalau cuaca memungkinkan. Kalau ombak besar, kami tidak bisa ke sana,” keluh Harmin.
Ia pun mengkritik keras sikap Pemkab Halbar yang dinilai terlalu kaku pada alasan keterbatasan anggaran.
“Air itu kebutuhan dasar. Kalau memang anggaran daerah terbatas, jangan sombong untuk minta bantuan ke pemerintah provinsi. Tidak perlu sungkan, ini soal hak dasar masyarakat yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Tolofuo masih menanti langkah nyata pemerintah daerah agar mereka tidak lagi harus bertaruh nyawa di laut demi mendapatkan beberapa jerigen air bersih. (adi/tan)
