SURABAYA, NUANSA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (28/2).
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut misi dagang dan agenda retreat yang sebelumnya mempertemukan kedua pemerintah provinsi.
Khofifah mengatakan kerja sama Jatim dan Maluku Utara difokuskan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) serta peningkatan kinerja sektor ekonomi. Salah satu yang dibahas yakni optimalisasi arus balik pelayaran atau shipping line yang dinilai belum efisien.
Menurutnya, pasokan barang dari Jatim ke Maluku Utara cukup besar. Namun kapal yang kembali ke Jatim kerap tidak membawa muatan secara maksimal.
“Pelaku usaha pelayaran di Jawa Timur menyatakan siap menjemput jika ada muatan dari Maluku Utara. Ini penting agar produk Maluku Utara bisa menjangkau pasar lebih luas melalui sistem transportasi yang terkoneksi, termasuk dukungan Tol Laut,” ujar Khofifah.
Sementara itu, Sherly mengakui ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan pangan dari Jatim masih tinggi. Komoditas seperti beras, minyak goreng, telur dan ayam sebagian besar dipasok dari provinsi tersebut.
Ia menyebut ketimpangan arus muatan kapal berdampak pada mahalnya biaya logistik dan ikut menekan inflasi di daerahnya.
“Kami mencari solusi agar rantai pasok lebih efisien. Jika kapal berangkat penuh dan kembali juga membawa muatan, biaya logistik bisa ditekan sehingga harga barang di Maluku Utara lebih terjangkau,” ujarnya.
Selain perdagangan, kedua daerah juga menjajaki kerja sama transformasi digital melalui penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Sherly menyebut indeks SPBE Jatim berada di angka 4,7, sedangkan Maluku Utara sekitar 3,6.
Ke depan, kolaborasi akan diperluas ke sektor pertanian dan pendidikan sebagai bagian dari penguatan kemitraan antardaerah. (tan)
