google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Rayakan Penghitungan AWC ke-40, Halmahera Wildlife Photography Ajak Publik Pantau Burung Air dan Kelestarian Lahan Basah di Maluku Utara

Kegiatan Malut Bird Walk (MBW) HWP 2025 lalu. (Istimewa)

NUANSA, TERNATE – Memasuki tahun 2026, Indonesia kembali berpartisipasi dalam agenda konservasi global Asian Waterbird Census (AWC). Tahun ini menjadi momentum istimewa karena menandai perayaan perhitungan ke-40 sejak inisiatif ini dimulai di Asia pada tahun 1987.

AWC Indonesia adalah sensus tahunan yang bertujuan meningkatkan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya. Sejak 1986, program ini telah menjadi pilar penting dalam memantau kesehatan ekosistem lahan basah di Indonesia.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

AWC merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC), program pemantauan keanekaragaman hayati terbesar dan terlama di dunia. Selama enam dekade terakhir, IWC telah dilakukan di 189 negara dan telah tercatat lebih dari 1,9 miliar burung air. Di Indonesia, kegiatan ini dikoordinasikan secara kolaboratif oleh Kementerian Kehutanan, Wetlands International Indonesia (Yayasan Lahan Basah), Yayasan EKSAI, Burung Indonesia, Burungnesia, dan Burung Laut Indonesia.

Malut Bird Walk: Aksi Nyata di Maluku Utara

Menyambut perayaan ke-40 ini, Halmahera Wildlife Photography melalui kegiatan “Malut Bird Walk” mengundang seluruh lapisan masyarakat Maluku Utara untuk berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian burung air dan habitatnya.

Informasi kegiatan, Minggu (1/2) besok.

Kegiatan pengamatan akan dilaksanakan pada Minggu, 1 Februari 2026 jam 07.00 sampai dengan 16.00 WIT, berlokasi di Pelabuhan Darko dan Muara Sungai Oba, Sofifi.

“Kami mengajak siapa saja, mulai dari pengamat burung profesional hingga masyarakat umum, untuk bersama-sama mendata burung air di sekitar kita. Data yang dikumpulkan oleh para relawan akan menjadi rujukan vital untuk estimasi populasi burung air secara global maupun untuk keperluan pengelolaan di tingkat nasional/lokal,” ajak Ketua HWP, Dewi Ayu Anindita, Sabtu (31/1).

Sepanjang bulan Januari hingga Februari 2026, relawan diajak untuk mendata berbagai jenis burung air seperti Kuntul, Cangak, Bangau, Kowak, Bebek, Ayam-ayaman, Pecuk, Pecuk Ular, Pelikan, Camar, Tikusan, hingga burung pantai di berbagai habiatat lahan basah, baik alami maupun buatan.

Relawan dapat melakukan pengamatan di lokasi lahan basah terdekat, seperti sungai, pantai, mangrove, sawah, hingga tempat pembuangan limbah. Pelaporan data dapat dilakukan melalui dua cara utama:

  1. Formulir Elektronik (.xlsx): Diunduh melalui https://linktr.ee/AWCindonesia.
  2. Aplikasi Burungnesia 3.0: Memudahkan penginputan data langsung dari lapangan.

Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan konservasi, setiap individu maupun lembaga yang mengirimkan data akan mendapatkan Sertifikat Digital Internasional.

Informasi Pendaftaran: Instagram @halmaherawildlifephotography. (kep)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version