Opini  

Catatan Singkat di Milad HMI ke-79

Naufandi Hadyan Saleh.

Oleh: Naufandi Hadyan Saleh, S.Pd 

Kabid Pemberdayaan Umat HMI Cabang Ternate Periode 2025-2026

_______________

NAMA HMI agaknya tak asing lagi di telinga setiap insan yang pernah mengenyam pendidikan tinggi sebagai mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia. HMI didirikan oleh seorang mahasiswa asal Padangsidimpuan, Sumatera Utara bernama Lafran Pane pada tanggal 5 Februari 1947. Pendirian HMI berangkat dari tiga semangat utama yakni semangat keIndonesiaan, semangat keIslaman, dan semangat kemahasiswaan. Tepat pada tahun 2026 HMI menginjak usia ke-79, angka yang tak lagi muda. Jika HMI adalah seorang manusia tentu ia adalah sosok yang renta. Manusia berambut putih, berkeriput pada kulit, dan berpengalaman melewati asam-garam kehidupan.

Kenyataan memang demikian, organisasi ini telah hadir dan mewarnai beragam etape kehidupan berbangsa dan beragama. HMI tak sekadar sebuah organisasi, ia adalah lokomotif perubahan, tempat memproduksi manusia-manusia hebat lagi beriman. Jika mengutip kata dr. Sulastomo, HMI itu layaknya kawah candradimuka tempat Gatot Kaca dibentuk menjadi sosok pahlawan nan-tangguh. Sebuah metafora yang sangat masyhur di kalangan anak-anak HMI.

Namun agaknya kita perlu membumi untuk kembali mengukur diri (muhasabah) apa ia harumnya HMI berjalan iring dengan kenyataan hari-hari ini? Itulah kenapa penulis ingin berbagi catatan singkat di milad HMI ke-79 tahun.

HMI Penyangga Kemunduran Islam

Selain perang salib yang terjadi di Mongol maupun kesenjangan antara budaya elit dan awam. Faktor lain yang menjadi penyebab mundurnya peradaban Islam pada abad ke 10-12 ialah ketiadaan lembaga budaya sains, universitas, maupun lembaga pendidikan yang setara dengannya sebagaimana, kata Lindbergh (1992). Tentu ini menjadi potret kelam yang patut direnungi bersama sehingga pada masa kini ia tak terulang lagi.

Sebagai organisasi mahasiswa Islam, HMI diharapkan menjadi penyangga kemunduran Islam dengan konsisten memproduksi Muslim Intelegensia. Siapa itu Muslim Intelegensia? Secara sederhana ia adalah sosok akademis yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal pada kehidupan sehari-hari. HMI diharapkan terus menjadi kontributor utama tenaga-tenaga ahli yang siap menghibahkan hidupnya di medan pengabdian.

Secara historical dari rahim HMI telah lahir tokoh bangsa, intelektual, ulama, hingga pemimpin yang mengisi berbagai lini kehidupan. Namun berbangga atas catatan itu tak cukup, ia perlu tuk dilanjutkan. Dengan sistem perkaderan yang dimiliki HMI, penulis berharap ikhtiar-ikhtiar progresif secara masif dilakukan guna mengulang kembali catatan harum yang pernah terpajang rapih oleh sejarah.

HMI Sebagai Rumah Kaca

Sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia, HMI layaknya rumah kaca bagi semua orang. Rumah kaca yang dimaksud ialah segala tindak dan tanduk kader HMI selalu menjadi cerminan masyarakat. Sebagian besar masyarakat Indonesia barangkali telah mengetahui rekam jejak maupun prestasi yang ditorehkan. Namun pada sisi lain masyarakat Indonesia juga tahu berbagai kekurangan maupun sikap yang tak patut dijadikan contoh dari kader-kader HMI.

Inilah yang harus menjadi bahan renungan bagi setiap kader HMI. Dewasa ini HMI begitu kewalahan memperbaiki citra-nya sebagai organisasi mahasiswa Islam. Bukan menjadi rahasia umum lagi tatkala melihat HMI begitu doyan memelihara konflik, terlibat praktik-praktik kotor di setiap konstelasi politik, hingga merosotnya kemampuan intelektual kader.

HMI harus berusaha mengembalikan citra maupun reputasinya sebagai organisasi mahasiswa Islam yang intelek lagi moralis. Jika langkah ikhtiar ini mulai ditempuh oleh setiap insan yang ada di HMI maka penulis berkeyakinan kepercayaan publik terhadap HMI akan pulih. Seiring dengan itu minat masuk mahasiswa di HMI pun akan meningkat.

Tak perlu malu dan tak perlu takut mengakui kesalahan, sebab semua perubahan dimulai dari sadarnya seseorang akan kesalahan maupun kekurangan yang ia lakukan. Setidaknya dari apa yang disampaikan di atas membuat kita semua lebih berhati-hati sembari bertanggung jawab mengemban amanah sebagai seorang kader HMI.

Optimis Terhadap HMI

Carut-marut dan berbagai ironi yang ada pada tubuh HMI membuat banyak kalangan bertanya masih perlukah kita untuk ber-HMI.? Praktik-praktik yang tak lagi relevan dengan kondisi zaman, kemerosotan moral, hingga konflik yang berkepanjangan terus semerbak dalam internal HMI. Rasa-rasanya 79 tahun adalah waktu yang cukup untuk kembali memperbaiki kompas, sebab momentum milad adalah ajang pembuktian. Di tengah derai badai yang melanda, bunyi keraguan semakin berisik, hingga degradasinya kepercayaan masyarakat terhadap HMI kian hari menjadi lagu yang selalu disenandungkan. Dengan berat hati itu fakta yang harus kita terima.

Namun kader HMI yang ideal tidak dilahirkan untuk terus berada dalam bayang-bayang pesimis. Pengetahuan yang diterima, proses yang ditempuh, dan pengalaman yang dilalui seharusnya dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh. Ketimbang terus berada dalam nuansa yang penuh dengan pesimisme. Alangkah lebih baik setiap dari kita mulai menciptakan ruang optimis, sebab di setiap fase yang telah dilalui HMI, penulis berkeyakinan selalu ada sosok baik lagi tulus untuk himpunan ini. HMI selalu mempunyai sosok yang rela kalah untuk kebenaran. Mereka menghibahkan jiwa bahkan raganya demi keberlangsungan sebuah generasi di masa yang akan datang.

Sayangnya sosok-sosok seperti ini tidak pernah diproduksi menjadi sebuah wacana dengan nuansa optimis. Padahal faktanya banyak orang rela mati untuk HMI. Mereka rela menghabiskan harta, ilmu, bahkan waktunya untuk HMI. Pada ruang-ruang sunyi yang tak pernah terpotret oleh kamera dan media ternyata ada sosok-sosok yang terus konsisten membina kader. Mereka akan selalu ada dan terus hadir untuk HMI.

Langkah ikhtiar yang paling ideal ialah, kita perlu selektif menentukan tauladan dalam ber-HMI. Jika itu tak bisa kita temukan pada diri orang lain, maka kita-lah yang harus menjadi tauladan itu. Akhirnya pada tulisan yang singkat ini, penulis ingin menyampaikan sebuah pesan, di tengah carut marut dan ironi, jangan pernah matikan harapan untuk HMI. Sebab wacana membubarkan HMI telah ada sejak dulu, namun faktanya HMI tak pernah bubar. Ia terus eksis, dan ia terus dipelihara oleh sosok-sosok yang orientasinya suci untuk himpunan ini.

Selamat Milad Himpunan-ku dan jayalah selalu.