TERNATE, NUANSA – Forum Lingkar Pena (FLP) Maluku Utara bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Malut menggelar parade puisi untuk Palestina. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pendopo Benteng Oranje, Kota Ternate, Sabtu (7/3).
Aksi solidaritas tersebut sebagai bentuk peduli kemanusiaan terhadap Palestina yang saat ini sedang dijajah oleh Zionis Israel.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan diskusi bertajuk ‘Kepedulian Seorang Muslim untuk Palestina’, yang disampaikan oleh akademisi Universitas Khairun, Dr Syahrir Ibnu.
Ketua FLP Malut, M Sadli Umasangaji, menjelaskan parade puisi ini merupakan acara kemanusiaan sebagai wujud pembelaan dan rasa kepedulian untuk rakyat Palestina dalam bentuk puisi.
“Salah satu buku acuan yang kami jadikan untuk membaca puisi adalah bukunya Helvy Tiana Rosa dengan judul ‘Kumpulan Puisi: Jantung yang Berdetak dalam Batu’,” jelasnya.
Ia menyebut, beberapa puisi tentang Palestina yang dijadikan acuan, di antaranya Jantung yang Berdetak Dalam Batu, Deklarasi Hak Asasi Manusia, Dari Jakarta, Ke Langit Gaza dan Beirut, Pengantin Gaza, Cinta yang Menghancurkan Propaganda, Tubuh yang Melawan Baja, Pertemuan dengan Buya Hamka, Intifada, dan Palestina Menang.
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini, Palestina masih menjadi luka kemanusiaan dunia. Penjajahan, kekerasan sistemik, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlangsung telah merenggut nyawa, masa depan, dan martabat rakyat Palestina.
Di tengah keterbatasan ruang gerak politik dan diplomatik masyarakat sipil, sastra khususnya puisi menjadi medium etik dan estetik yang mampu melampaui batas geografis, bahasa dan ideologi.
Karena itu, FLP sebagai komunitas kepenulisan yang menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan pada kaum tertindas, memiliki tanggung jawab moral untuk turut menyuarakan solidaritas global bagi Palestina.
“Puisi bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan juga kesaksian sejarah, perlawan simbolik, dan pengikat nurani kolektif,” tandas Sadli. (tan)
