WEDA, NUANSA — Ketegangan sosial yang terjadi di Halmahera Tengah belakangan ini menjadi perhatian berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga pemerintah daerah. Di tengah situasi yang berpotensi memicu konflik horizontal, nilai kearifan lokal “Bobaso Se Rasai” kembali digaungkan sebagai fondasi perdamaian masyarakat Maluku Utara.
Sejumlah tokoh adat dan pemuda menyerukan pentingnya menahan diri serta mengedepankan dialog sebagai jalan keluar. Mereka menilai bahwa perbedaan kepentingan maupun kesalahpahaman yang terjadi tidak boleh berkembang menjadi konflik terbuka yang merusak tatanan sosial yang telah lama terjaga.
“Maluku Utara punya identitas kuat dalam menjaga harmoni. Jangan sampai emosi sesaat menghapus warisan nilai yang sudah dijaga turun-temurun,” ujar Sekretaris Umum HIPMI Halmahera Barat, Tiklas Pileser Babua, Jumat (3/4).
Makna “Bobaso Se Rasai”
Dalam konteks budaya Maluku Utara, Bobaso Se Rasai bukan sekadar ungkapan, tetapi merupakan prinsip hidup yang mengajarkan rasa saling memiliki, saling menghargai, dan saling merasakan satu sama lain sebagai satu keluarga besar. Nilai ini menempatkan kebersamaan di atas perbedaan, serta mendorong empati sebagai dasar dalam setiap interaksi sosial.
Secara filosofis, Bobaso Se Rasai mengandung makna bahwa setiap persoalan yang dihadapi oleh satu kelompok adalah persoalan bersama. Karena itu, penyelesaian konflik tidak boleh dilakukan secara sepihak, melainkan melalui musyawarah, keterbukaan, dan semangat persaudaraan.
Seruan Jaga Persatuan
Berbagai elemen masyarakat di Maluku Utara kini mendorong agar pemerintah daerah segera memfasilitasi ruang dialog terbuka antara pihak-pihak yang bersitegang di Halmahera Tengah. Pendekatan represif dinilai bukan solusi jangka panjang, melainkan justru berpotensi memperdalam jurang perpecahan.
Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan juga mengajak generasi muda untuk tidak terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar, terutama yang beredar di media sosial. Mereka menekankan pentingnya literasi digital dan sikap kritis dalam menyikapi isu-isu sensitif.
“Anak muda harus jadi pelopor perdamaian, bukan bagian dari masalah. Kita punya tanggung jawab menjaga tanah ini tetap damai,” tegas President Halbar sapaan akrabnya.
Perdamaian sebagai Tanggung Jawab Bersama
Situasi di Halmahera Tengah menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus terus dirawat. Nilai Bobaso Se Rasai menjadi kompas moral yang relevan, tidak hanya dalam kehidupan adat, tetapi juga dalam dinamika sosial modern.
Dengan menghidupkan kembali semangat persaudaraan dan saling menghargai, masyarakat Maluku Utara diharapkan mampu meredam ketegangan serta mencegah konflik yang lebih luas.
Di tengah keberagaman yang ada, Bobaso Se Rasai menjadi pesan kuat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk tetap bersatu. (tan)
