Oleh: Naufandi Hadyan Saleh
________________
HIDUP di kota ini memaksa kita untuk banyak memahami kondisi dan situasi. Di beberapa keadaan kota ini terasa begitu sempit, terik, dan pelik. Kota yang kata orang menyimpan jutaan budaya, kota yang kata orang begitu masyhur dengan cengkeh dan pala, kota yang kata orang harus terus dijaga dan dipelihara.
Ternate itu kecil tapi pernah menjadi pusat dari peradaban dunia. Seakan-akan ia adalah kota yang terus mendapuk bahwa semua hal harus dilakukan di sini. Sayangnya, dari hari ke hari Ternate semakin riuh, banyak perantau datang. Mereka ke sini untuk bertarung dan mencicipi kerasnya hidup.
Mencari sesuap nasi untuk keluarga di rumah, bergelut dengan ketikan laptop yang memaksa raga harus hinggap untuk beberapa waktu. Di antara mereka ada juga yang ke kota untuk pendidikan. Membuka tabir dan peluang cerah di masa depan.
Tak ada yang salah, kota ini terbuka untuk siapa saja.
Tapi tulisan ini bukan tentang kotanya, melainkan orang-orang yang hidup di dalamnya. Satu yang perlu diketahui tulisan ini diangkat bersamaan dengan momentum wisuda Universitas Khairun, 11 April 2026.
Di Ternate, budaya merayakan wisuda telah mengakar sejak dulu. Pada tiap-tiap gang dan ruas jalan dipadati tenda-tenda yang berbaris rapih siap dengan menu santapan. Itu dilakukan semata untuk menyambut seorang mahasiswa/i yang telah usai menyelesaikan studi.
Kota yang kecil ditambah ruas jalan yang sempit acap kali memaksa penduduk kota ini harus mengalah memahami kondisi dan situasi. Gerutu dari penduduk kota selalu mengudara tatkala akses jalan yang dilalui harus terhenti asbab dari sebuah tenda berdiri.
Kalimat “pele jalan” laris manis ketika momentum wisuda datang. Saya adalah satu di antara penduduk kota yang pernah menggerutu. Tapi itu dulu, sebelum saya berada pada posisi yang sama. Berusaha untuk ikhlas memaklumi kondisi dan situasi terasa begitu sulit. Batin yang meronta-meronta disebabkan minimnya tenggang rasa.
Waktu berlalu saya pun belajar dan paham ternyata dibalik gerutu “pele jalan” ada tangis haru yang menderu di bawah tenda.
Bagaimana tidak? dulu saya menggerutu karena tak tahu, ternyata dibalik tenda yang berdiri ada jutaan pengorbanan dari dua sosok rapuh yang rela jauh datang dari tanah rantau.
Dibalik tenda yang berdiri ada basahnya sajadah dan panjangnya sujud dua sosok rapuh yang terpanjatkan ke langit dari tanah rantau.
Saya menggerutu karena tak tahu, sebuah tenda bisa berdiri adalah hasil jerih payah mangael (memancing) ikan di laut, memanen di kobong (kebun), dan puasa menahan makan demi bisa mengirimkan sedikit amplop ke kota. Saya tak tahu, ternyata itu dilakukan oleh dua sosok rapuh di tanah rantau.
Dulu saya begitu menggerutu padahal saya lupa ternyata dibalik berdirinya tenda ada dua sosok rapuh yang untuk pertama kalinya mengenakan pakaian batik rapih nan-anggun. Pakaian yang bisa jadi tak mungkin dikenakan dalam hidup mereka jika bukan karena perayaan wisuda.
Saya begitu merasa bersalah ketika tahu dan paham alasan dibalik itu semua. Dari gerutu penduduk kota saya belajar untuk merendahkan ego yang terlampau tinggi. Nafsu yang tinggi menjulang, dan sombong yang harus diperas hingga tak merasa besar dibanding yang lain.
Keangkuhan saya benar-benar diperas habis tatkala saya mengetahui satu hal. Dua sosok rapuh yang berada di tanah rantau adalah mereka yang hidup dengan berbagai kekurangan. Pekerjaan mereka bergantung pada ombak di laut dan musim berganti di hutan. Mereka tak bersekolah, jika sekolah itu-pun tak sampai tuntas. Mereka rapuh, tua, dan hidup pas-pasan. Tetapi semangat mengubah nasib mereka juaranya.
Dua sosok rapuh yang hidup di tanah rantau tahu bagaimana dunia membentur mereka. Itu sebabnya di tengah keterbatasan, mereka melawan dan mengubah takdir.
Kini saya memandang berdirinya tenda pada perayaan wisuda tidak sekadar “pele jalan“, melainkan ajang pembuktian bahwa meskipun hidup penuh dengan keterbatasan, sekolah tak sampai usai, bertaruh nyawa di laut dan di hutan tetapi buah hati harus bisa menaklukan kota dengan pulang ke kampung membawa gelar sarjana.
Itu komitmen yang membuat saya takjub.
Akhirnya, tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang telah wisuda di kota juga terlebih khusus kepada dua sosok rapuh di kampung, ibu dan ayah kalian hebat. Kalian berhasil memberi kami arti dari kuatnya raga menjalani hidup. (*)
