SOFIFI, NUANSA – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, mengimbau masyarakat tetap waspada adanya potensi anomali cuaca khususnya gelombang tinggi di perairan Maluku Utara.
Imbauan ini menyusul edaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Baabullah yakni adanya potensi gelombang tinggi berkisar 1,25 meter-2,5 meter di perairan Maluku Utara (Malut) mulai periode 15-18 April.
Menurut Sherly, intensitas hujan yang mulai terjadi dan embusan angin yang cukup kuat dapat menimbulkan risiko kecelakaan maupun gangguan kesehatan. Oleh karena itu, secara khusus gubernur meminta masyarakat untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar serta mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.
Dalam arahannya, gubernur juga menyoroti pentingnya kewaspadaan bagi para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut. Gubernur perempuan pertama di Maluku Utara tersebut menegaskan agar sebelum memutuskan melaut, nelayan perlu terlebih dahulu memantau kondisi cuaca dan gelombang.
“Tindakan preventif ini dianggap sebagai langkah penting untuk mengurangi potensi kecelakaan di laut,” ujar Sherly.
Dilansir dari edaran BMKG Sultan Baabullah Nomor B/ME.01.05/PDGT/15/KTTE/IV/2026, gelombang 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di beberapa titik seperti perairan laut Morotai, Batang Dua, Loloda serta Gebe.
Gelombang ini dipicu oleh pola angin Indonesia bagian utara bergerak dari barat hingga utara dengan kecepatan berkisar 5-20 knot.
Sherly mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG maupun arahan dari instansi terkait. Dengan demikian, setiap langkah yang diambil dapat selaras dengan upaya mitigasi risiko bencana yang lebih komprehensif. (tan)
