Oleh: Arafik A Rahman
Penulis buku Maluku Utara
___________________
“Dalam politik modern, seorang pemimpin tidak hanya bekerja melalui kebijakan, tetapi juga memproduksi citra, simbol dan imajinasi publik.”_Arafik A Rahman.
MARI sesekali kita letakkan pikiran-pikiran negatif di atas meja kopi. Tarik napas pelan, seruput kopinya, lalu mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih tenang. Sebab boleh jadi, di tengah hiruk-pikuk politik lokal dan gaduh media sosial, ada satu hal yang nyaris luput dari kesadaran kita: nama Sherly Tjoanda diam-diam sedang menjelma menjadi representasi baru Maluku Utara di ruang publik nasional.
Tulisan ini, bukan sekadar pledoi atau semacam akrobatik sensasional yang biasanya disematkan pada kelompok tertentu, tetapi berangkat dari sebuah imajinasi yang menelisik penggalan realitas hari ini: bahwa Gubernur Maluku Utara sempat terpilih sebagai juri dalam ajang finalis Puteri Indonesia 2026 beberapa waktu lalu. Dan tampil di media nasional sebagai pembicara sosok inspirator wanita hebat dari timur Indonesia. Kemudian beberapa pertemuan dengan tokoh nasional lainnya. Sehingga hari ini, ketika nama Sherly Tjoanda disebut di kota-kota besar Indonesia, publik tidak lagi sekadar melihat sosok seorang perempuan atau pejabat daerah.
Tetapi orang mulai menghubungkan nama itu dengan Maluku Utara: negeri kepulauan yang indah, kaya sumber daya alam, memiliki sejarah panjang rempah-rempah dunia dan kini perlahan membangun wajah modernnya di ruang nasional. Fenomena ini menarik karena politik kontemporer memang bergerak tidak hanya melalui kerja administratif, tetapi juga melalui kekuatan simbolik. Dalam teori “Symbolic Interactionism” yang diperkenalkan Herbert Blumer, bahwa manusia membangun makna melalui simbol-simbol sosial. Dalam politik, figur publik sering menjadi simbol dari harapan, identitas, bahkan citra suatu daerah.
Karena itu, suka atau tidak suka, Sherly telah menjadi simbol atau pintu masuk tentang Maluku Utara hari ini: modern, terbuka, elegan dan memiliki daya tarik nasional. Tentu saja, dalam demokrasi, tidak semua orang harus menyukai seorang pemimpin. Kritik adalah bagian sehat dari kehidupan publik. Namun di luar perdebatan itu, ada realitas yang sulit dinafikan bahwa figur memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik terhadap sebuah daerah.
Dulu, banyak daerah di Indonesia nyaris dikenal karena tokoh-tokoh simboliknya. Ketika orang menyebut Anies atau Ahok orang akan mengingat kota Jakarta. Begitu juga Bandung, pikiran publik akan mengarah pada sosok Dedy Mulyadi, kreativitasnya anak muda dan gaya urbannya. Ketika menyebut Yogyakarta, orang membayangkan Sultan Hamengku Buwono, budaya dan intelektualitasnya. Maka hari ini, perlahan nama Sherly ikut membawa Maluku Utara masuk dalam percakapan nasional yang lebih modern dan populer.
Apalagi di era digital, politik tidak lagi bekerja hanya melalui pidato dan baliho, tetapi juga melalui visual, narasi dan citra personal. Dalam teori “The Presentation of Self in Everyday Life“, Erving Goffman menjelaskan bahwa kehidupan publik menyerupai panggung sosial, di mana citra menjadi bagian penting dari komunikasi sosial-politik. Tentu, tidak mengherankan bila publik melihat Sherly bukan hanya sebagai gubernur, tetapi juga sebagai representasi gaya baru kepemimpinan daerah: seorang perempuan yang cantik, cerdas, inovatif, mapan secara ekonomi dan tampil percaya diri di ruang publik nasional.
Namun citra tentu tidak boleh berhenti pada penampilan simbolik semata. Sebab publik pada akhirnya akan mengukur kepemimpinan dari arah gagasan dan kerja nyata yang dibangun. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahan Sherly mulai memperlihatkan perhatian pada penguatan infrastruktur jalan, bantuan perumahan, pendidikan gratis level SMA/SMK, sektor pariwisata underwater, pelayanan kesehatan hingga upaya memandirikan Ibu Kota Sofifi atau membangun wajah barunya agar Maluku Utara tidak sekadar sebagai pelengkap dalam peta geografis Indonesia.
Meskipun di lain sisi, ada yang masih diperdebatkan seperti anggaran tatarias dan cek up kesehatan Gubernur Maluku Utara, serta tentang pertambangan milik mendiang suaminya yang masih menuai dinamika. Selain itu, mungkin ada sebagian program yang belum atau masih berada pada tahap on progress. Namun setidaknya, ada upaya membangun narasi baru bahwa Maluku Utara bukan sekadar daerah tambang di timur Indonesia, melainkan daerah dengan potensi maritim, budaya, wisata dan ekonomi masa depan yang besar.
Di titik ini, yang sedang bekerja sesungguhnya bukan sekadar popularitas personal, tetapi apa yang disebut political branding. Sebab dalam dunia modern, daerah membutuhkan wajah, simbol dan narasi yang mampu menarik perhatian publik luar. Maluku Utara sebelumnya hanya dikenal karena kekayaan rempah dan tambangnya dan letak geografisnya yang terpencil. Padahal daerah ini memiliki sejarah besar dalam peradaban dunia. Dari tanah rempah-rempah inilah bangsa-bangsa Eropa pernah datang berlayar menembus samudera.
Nama Ternate dan Tidore pernah menjadi pusat percakapan perdagangan global berabad-abad silam. Karena itu, ketika hari ini muncul figur yang mampu membawa Maluku Utara lebih sering dibicarakan secara nasional, sesungguhnya itu juga bagian dari proses membangun kembali imajinasi publik tentang daerah ini. Tentu citra saja tidak cukup. Branding tanpa pembangunan nyata hanya akan menjadi kemasan kosong. Karena, publik akan menilai dari kerja, kebijakan dan dampak sosial yang dirasakan masyarakat.
Namun di tengah dunia yang semakin visual dan digital, kekuatan simbol tetap memiliki pengaruh besar dalam membentuk perhatian publik. Dan mungkin di situlah letak menariknya fenomena Sherly Tjoanda hari ini: ia sedang berdiri di antara politik, citra dan identitas daerah.
Sebab kadang-kadang, sebuah daerah memang membutuhkan lebih dari sekadar pemerintahan. Ia membutuhkan figur yang mampu membuat orang luar kembali menoleh dan berkata: “Maluku Utara ternyata memiliki wajah barunya, keren, sangat indah.” (*)
