TERNATE, NUANSA – Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, menerima audiensi dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) Kementerian Pertanian di Ruang Rapat Eks-Crisant pada Kamis (21/5).
Pertemuan ini membahas rencana pelaksanaan Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI). Proyek berskala global ini berfokus pada diversifikasi, konservasi, dan keberlanjutan sumber daya genetik tanaman pertanian serta perkebunan.
Maluku Utara terpilih menjadi satu dari tiga provinsi lokus pelaksanaan proyek di Indonesia, mendampingi Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah. Di wilayah Maluku Utara, program ini akan difokuskan di dua daerah, yaitu Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Selatan.
Kepala BRMP Biogen Kementerian Pertanian, Atekan, menjelaskan proyek CDCSUI di Maluku Utara akan memprioritaskan komoditas cengkih dan pala. Sementara itu, wilayah Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah akan difokuskan pada komoditas padi lokal, talas, dan kuis.
Atekan menegaskan, Maluku Utara merupakan sumber asli kelimpahan daya genetik cengkih dan pala dunia. Melalui proyek ini, para petani akan mendapatkan pembinaan dan pendampingan intensif. Tujuannya adalah menjaga kelestarian tanaman dari kepunahan sekaligus meningkatkan nilai tambah pendapatan ekonomi mereka.
Proyek CDCSUI ditargetkan berjalan hingga tahun 2027, dengan rencana perpanjangan (extend) hingga tahun 2028. Memasuki tahun 2026, BRMP Biogen berfokus membangun koordinasi intensif demi menyamakan persepsi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten/kota terkait.
Dalam pertemuan tersebut, Samsuddin menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap proyek CDCSUI. Menurutnya, program ini sangat krusial bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas komoditas lokal, melainkan juga untuk menjaga nilai sejarah dan keaslian varietas tanaman khas Maluku Utara.
Samsuddin berharap, keterlibatan pendanaan dan perhatian dunia internasional melalui proyek ini mampu mempertegas status Maluku Utara sebagai daerah asal komoditas cengkih dunia, mengalahkan popularitas Zanzibar. Pemerintah Provinsi Maluku Utara berkomitmen mengawal kelancaran proyek ini demi mendongkrak perekonomian petani sekaligus mengangkat nama baik daerah di kancah global. (tan)
