google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Malut Siap Lestarikan Komoditas Cengkih dan Pala Lewat Program Global CDCSUI

TERNATE, NUANSA – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyambut baik langkah strategis Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) dalam menjaga kelestarian serta keaslian rempah Maluku Utara.

​Dukungan tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, saat menerima kunjungan audiensi tim BRMP Biogen Kementan RI di Rumah Jabatan Wakil Gubernur Malut ex-Crysan, Kamis (21/5). Pertemuan ini membahas Konsultasi Rencana Pelaksanaan Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), sebuah proyek konservasi keanekaragaman hayati tanaman pangan dan perkebunan untuk pemanfaatan berkelanjutan.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

​Dalam kesempatan tersebut, Samsuddin mengungkapkan kebanggaannya karena Maluku Utara terpilih menjadi satu dari sedikit daerah yang masuk dalam program berskala internasional ini.

​”Kita patut bersyukur dan menyambut baik karena hanya ada tiga provinsi di Indonesia yang dimasuki oleh kegiatan ini, yaitu Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara. Jika organisasi pangan dunia atau FAO (Food and Agriculture Organization) sudah terlibat, itu artinya dunia internasional sudah turun tangan untuk menjaga kelestarian kekayaan alam kita,” katanya.

​Lebih lanjut, Samsuddin menjelaskan esensi utama dari proyek CDCSUI di Maluku Utara adalah mengembalikan kelestarian dan menegaskan kembali sejarah serta keaslian komoditas legendaris, khususnya cengkih dan pala, sebagai tanaman asli bumi Moloku Kie Raha.

​”Melalui proyek ini, kita berupaya menjaga keaslian bahwa cengkih dan pala itu memang berasal dari kita. Mungkin saat ini cengkih yang terkenal adalah varietas Zanzibar, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa asal-usul Zanzibar itu sejatinya dari Maluku Utara. Proyek ini tidak hanya mengangkat nama baik dan keharuman daerah di kancah global, tetapi yang terpenting adalah meningkatkan produktivitas dan ekonomi petani kita,” jelas Samsuddin.

Sementara itu, Kepala BRMP Biogen Kementan RI, Atekan, menjelaskan proyek CDCSUI ini menitikberatkan pada upaya konservasi berbasis sumber daya genetik agar kekayaan hayati Nusantara tidak punah. Secara nasional, ada lima komoditas utama yang menjadi fokus, yakni padi lokal, talas, uwi, cengkih, dan pala.

​”Khusus di Maluku Utara, fokus utama kita adalah cengkih dan pala. Kita semua tahu daerah ini adalah sumber daya genetik yang luar biasa untuk kedua komoditas tersebut. Sudah sepatutnya ini kita angkat bersama,” ungkapnya.

​Ia menambahkan, proyek yang direncanakan berjalan hingga tahun 2027—dengan peluang perpanjangan hingga 2028—ini akan dipusatkan di dua wilayah, yaitu Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Selatan. Proyek ini tidak hanya berfokus pada aspek perlindungan di laboratorium, melainkan langsung menyentuh para petani di lapangan melalui pola pembinaan dan pendampingan.

​”Kami akan mendampingi dan membina para petani lokal tentang bagaimana menjaga kelestarian cengkih dan pala mereka, sekaligus bagaimana memberikan nilai tambah (value edded) agar pendapatan mereka meningkat. Target akhirnya, di ujung proyek ini kita bisa mengenalkan identitas dan kualitas unggul rempah Maluku Utara ini ke tingkat global,” pungkasnya.

​Memasuki tahun pelaksanaan 2026, BRMP Biogen kini tengah gencar membangun penyamaan persepsi dan sinergi regulasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten/kota agar implementasi proyek CDCSUI di lapangan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. (tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version