TERNATE, NUANSA – Forum Lingkar Pena (FLP) Maluku Utara menggelar acara bedah buku ‘Orang-Orang Sederhana’ karya M Sadli Umasangaji. Kegiatan yang berlangsung di aula Asrama Haji, Ternate, Sabtu (23/5) itu mengusung tema “Sastra dalam Wajah Kultur Masyarakat Maluku Utara”.
Bedah buku dan diskusi yang dimoderatori Faisal Tulado ini menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Herman Oesman, Rafli Marwan, dan M Sadli Umasangaji.
Melalui kisah-kisah dalam buku ini, Sadli mengajak menyusuri berbagai ruang dan waktu, mulai dari desa yang sunyi hingga kota yang riuh, dari pemecah batu hingga pemuda masjid, dari lorong-lorong kecil di daerah utara hingga percakapan batin tentang perjuangan, gerakan dan kesadaran.
Menurutnya, buku ini juga dibuka dengan perjalanan, sebuah gerbang untuk memahami arah dan denyut kisah-kisah selanjutnya. Cerita seperti ‘Pemecah Batu’, ‘Desa W’, ‘Kopra’ dan ‘Pala’, menghadirkan realitas kehidupan masyarakat akar rumput.
Sementara itu, bagian seperti ‘Kesadaran Gerakan’, ‘Asumsi Perjuangan’, dan ‘Kelas yang Sadar’ merefleksikan dinamika pemikiran dan pergaulan sosial yang lahir dari pengalaman kolektif.
Tokoh-tokoh yang muncul, baik dalam ‘Tokoh Muda Itu’, Lelaki Jingga dan Kanan Merah’ hingga ‘Manusia Politik yang Sunyi’ menggambarkan kompleksitas manusia dengan segala idealisme, dilema, dan harapannya.
“Judul buku Orang-Orang Sederhana dipilih bukan untuk mengecilkan arti mereka, melainkan untuk menegaskan bahwa kesederhanaan seringkali menyimpan keteguhan, keberanian, dan ketulusan yang justru menjadi fondasi perubahan,” jelas Sadli, yang juga Ketua FLP Malut itu.
Menurutnya, di tengah dunia yang kerap mengagungkan kemewahan dan popularitas, buku ini ingin mengingatkan bahwa sejarah dan peradaban juga dibangun oleh mereka yang berjalan di ‘jalan sunyi’.
“Orang-Orang Sederhana bercerita tentang kehidupan Gifar dan kawan-kawannya dalam perjuangan dan kehidupan mereka masing-masing. Gifar, Ismu, Arkan, dan Bang Sira adalah pemuda-pemuda desa sederhana yang melanjutkan studi di Kota T,” terang Sadli.
Lebih lanjut, Sadli menerangkan ‘Orang-Orang Sederhana’ juga bercerita tentang polemik daerah tambang yakni pada Kabupaten HT, tempat tinggal Gifar dan Ismu. Kemudian cerita berjalan mundur kembali ke Desa W, tempat tinggal Gifar dan masanya serta keinginan Gifar untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
“Yang jelas, buku ini ditulis dengan niat merekam realitas, menyuarakan kegelisahan, serta merawat harapan. Semoga setiap cerita di dalamnya dapat menggugah kesadaran, menghadirkan refleksi, dan menumbuhkan empati bagi para pembaca,” harap Sadli.
Sementara itu, Herman Oesman menjelaskan Fenomena Sastra Maluku Utara dalam Perspektif Sosiologi Sastra. Ia menukil pernyataan Robert Escarpit, seorang Penulis Prancis dan Sosiologi Sastra di era 1918-2000, bahwa sastra tidak dapat dipahami hanya melalui analisis teks semata. Sastra harus dilihat sebagai ‘fakta sosial’ yang hidup di tengah masyarakat.
Secara historis, Herman mengatakan, masyarakat Maluku Utara memiliki tradisi sastra lisan yang sangat kuat. Tradisi seperti legenda, dalil tifa, dalil moro, syair adat, hikayat, mantra, dan cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal.
“Ini memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan simbolik antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual,” ucap Herman.
Ia menambahkan, sastra (lisan) bukan hanya hiburan, melainkan juga sarana pendidikan moral dan identitas budaya masyarakat lokal.
“Sastra di Maluku Utara hadir bukan hanya sekadar sebagai ekspresi estetika, melainkan sebagai medium untuk merekam ingatan kolektif masyarakat,” katanya.
Karya sastra, lanjut Herman, dalam perspektif sosiologi sastra, dipahami sebagai refleksi kondisi sosial, politik, budaya, dan ekonomi masyarakat tempat sastra itu lahir. Baginya, perkembangan sastra di Maluku Utara memperlihatkan hubungan erat antara teks sastra dan realitas sosial masyarakat.
“Sastra (lisan) di Maluku Utara dapat dipahami sebagai ‘dokumen sosial’ yang merepresentasikan struktur masyarakat. Sastra menjadi media untuk mempertahankan norma sosial dan memperkuat solidaritas komunal,” tutur Herman.
Ia menambahkan, tradisi sastra lokal berfungsi sebagai alat edukasi moral sekaligus ruang negosiasi simbolik antara masyarakat dan kekuasaan adat.
Bagi Herman, karya M Sadli Umasangaji ‘Orang-Orang Sederhana’ merupakan salah satu karya sastra lokal yang lahir dari ketimpangan pembangunan yang ada di Maluku Utara.
“Pengarang/penulis di Maluku Utara tidak berdiri di ruang kosong, melainkan dipengaruhi struktur sosial di sekitarnya. Pengalaman kolonial ikut membentuk narasi tentang perlawanan, penderitaan, dan identitas masyarakat. Sastra Maluku Utara kerap menghadirkan tema sejarah, memori, dan resistensi terhadap kekuasaan,” papar Herman.
Selain itu, masih menurut Herman, perkembangan media digital ikut berpengaruh. Menggunakan media sosial, blog dan platform digital, novel, puisi, cepen, maupun esai budaya dipublikasikan.
“Digitalisasi membuka ruang baru bagi sastra lokal untuk dikenal lebih luas. Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra tidak lagi terbatas pada ruang tradisional, tetapi berkembang mengikuti perubahan teknologi dan budaya populer,” ujar Herman.
Sastra hadir sebagai ruang artikulasi identitas, kritik sosial, pelestarian budaya, dan memori sejarah. Sastra Maluku Utara, tambah Herman, memperlihatkan hubungan timbal balik antara pengarang, masyarakat, dan realitas sosial yang melingkupinya.
“Sastra tidak dapat dipahami hanya melalui analisis teks semata. Sastra harus dilihat sebagai ‘fakta sosial’ yang hidup di tengah masyarakat ,” tandas Herman. (tan)
