google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Opini  

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Irawan Asek.

Oleh: Irawan Asek

Mahasiswa Magister Teknik Sistem Lingkungan UGM

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

______________________

HARI Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap tanggal 5 Juni merupakan instrumen kebijakan, diplomasi, dan mobilisasi publik terbesar di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Peringatan ini berakar dari Konferensi Lingkungan Hidup Manusia yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia, pada 5–16 Juni 1972. Konferensi tersebut menjadi tonggak penting yang menempatkan hubungan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan sebagai agenda utama dalam tata kelola global, yang kemudian diikuti dengan pembentukan Program Lingkungan Hidup PBB (United Nations Environment Programme atau UNEP) sebagai badan koordinasi kebijakan ekologis global. Sejak pertama kali diperingati pada tahun 1973 dengan tema “Only One Earth”, Hari Lingkungan Hidup Sedunia berkembang menjadi gerakan global yang melibatkan lebih dari 150 negara setiap tahunnya.

UNEP secara konsisten menggeser fokus kampanye tahunan untuk merefleksikan dinamika krisis ekologis global yang sedang dihadapi. Kampanye ini didasarkan pada filosofi perubahan perilaku yang komprehensif, mencakup lima pilar aksi utama terhadap limbah: menolak (refuse), mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycle), dan memikirkan kembali (rethink) pola konsumsi.

Namun, pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah: apakah kepedulian itu tetap hidup setelah peringatan 5 Juni berakhir?

Untuk menjawabnya, kita tidak perlu terjebak pada istilah-istilah teknis yang rumit. Cukup melihat kenyataan yang ada di sekitar kita dengan jujur dan kritis.

Bayangkan tubuh kita sedang demam tinggi karena infeksi paru-paru yang parah. Apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya menempelkan plester penurun demam di dahi lalu menganggap semuanya sudah sembuh? Tentu tidak. Kita harus mengobati sumber infeksinya.

Sayangnya, cara kita memperlakukan Bumi sering kali mirip seperti menempelkan plester itu. Kita mengampanyekan “diet kantong plastik” saat berbelanja, tetapi di saat yang sama, industri raksasa terus memproduksi plastik sekali pakai tanpa sanksi yang tegas. Kita bangga mengunggah foto menanam satu bibit pohon, sementara ribuan hektare hutan adat di luar sana terus digunduli untuk industri skala besar.

Aksi kecil kita sebagai individu itu sangat baik dan wajib dianggap penting. Namun, jika kebijakan besar dari pembuat keputusan dan industri tidak berubah secara radikal. Aksi individu yang kita lakukan berisiko menjadi sekadar pelengkap jika tidak diiringi perubahan struktural pada kebijakan dan praktik industri.

Pernahkah kita memperhatikan bahwa gaya hidup ramah lingkungan saat ini sering kali terasa seperti barang mewah?

Sedotan ramah lingkungan, tas belanja estetik, hingga produk makanan organik dijual dengan harga yang jauh lebih mahal daripada produk biasa. Mobil listrik dipromosikan sebagai solusi masa depan, padahal harganya belum tentu terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita. Lebih dari itu, listriknya pun terkadang masih bersumber dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang juga mengotori udara di tempat lain.

Mari kita ambil contoh nyata yang sedang hangat dan menyakitkan di negeri kita sendiri: Maluku Utara. Saat ini, wilayah seperti Halmahera Tengah (Kawasan Weda) dan Pulau Obi di Halmahera Selatan sedang menjadi pusat perhatian dunia. Mengapa? Karena tanah mereka kaya akan nikel, bahan baku utama pembuat baterai kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai penyelamat Bumi dari polusi udara kota-kota besar.

Namun, di balik narasi transisi energi yang digaungkan secara global, masyarakat setempat justru menghadapi berbagai konsekuensi ekologis dan sosial yang tidak ringan. Apa yang terjadi di sana hari ini adalah ironi nyata yang menyayat hati. Sungai Sagea yang dulu terkenal sangat jernih dan indah di dekat Goa Bokimaruru kini kerap kali berubah warna menjadi cokelat pekat akibat pembabatan hutan di hulu untuk tambang nikel. Nelayan tradisional di Pulau Obi pun kini harus melaut jauh lebih lama dan ke tengah samudera karena air laut di dekat pesisir menghangat dan menguning akibat pembuangan air panas PLTU batu bara penyokong pabrik smelter serta limpasan sedimen tanah tambang.

Hutan sagu yang menjadi salah satu sumber pangan pokok turun-temurun warga lokal, banyak yang digusur dan digantikan oleh kepulan asap pabrik peleburan nikel. Warga di desa-desa lingkar tambang seperti Kawasi kini harus berpasrah menghadapi banjir lumpur yang datang berulang kali dalam sebulan karena bentang alam penahan air di atas bukit telah gundul dikupas alat berat.

Di sini kita melihat kontradiksi yang luar biasa. Demi memproduksi kendaraan yang dicap “bebas emisi” untuk orang-orang di perkotaan, ruang hidup, air bersih, dan ketahanan pangan warga lokal di pelosok Maluku Utara harus dikorbankan. Apakah adil jika “kebersihan” di satu tempat harus dibayar dengan “kehancuran ekologis” di tempat lain?

Kita sering kali merasa isu lingkungan itu terlalu jauh. “Apa urusannya sungai keruh di Halmahera atau es di Kutub Utara mencair dengan hidup saya yang tinggal di pemukiman padat kota?”

Jawabannya, sangat dekat. Ketika suhu Bumi naik (akibat emisi gas rumah kaca yang tidak terkontrol) atau ekosistem hutan penyangga rusak, pola cuaca menjadi tidak keruan. Petani di desa kesulitan memprediksi musim tanam dan nelayan kesulitan mencari ikan karena cuaca ekstrem yang tidak menentu. Akibatnya, pasokan bahan pokok menipis. Ketika pasokan pangan menipis, harga pangan di pasar dekat rumah Anda akan melonjak naik.

Kerusakan lingkungan bukanlah cerita tentang beruang kutub yang kehilangan rumahnya saja. Ini adalah cerita tentang piring makan kita yang semakin mahal, air bersih yang semakin langka untuk minum dan mandi kita, dan udara kotor yang membuat paru-paru kita sesak napas.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak boleh berhenti di upacara simbolis atau sekadar menanam pohon di depan kamera protokol. Kita harus mulai berani bertanya dan bersuara lebih kritis.

Tanya pada pemerintah: Mengapa izin industri perusak lingkungan masih mudah diberikan? Mengapa pengawasan terhadap reklamasi bekas tambang di daerah seperti Maluku Utara begitu lemah? Tanya pada produsen barang konsumsi: Kapan kalian bertanggung jawab penuh atas sampah plastik dari kemasan produk yang kalian jual setiap hari? Tanya pada diri sendiri: Selain memilah sampah di rumah, apakah kita sudah mulai peduli pada kebijakan-kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup alam di sekitar kita?

Bumi telah ada jauh sebelum manusia hadir dan kemungkinan besar akan tetap ada setelah manusia tidak lagi mampu mempertahankan peradabannya. Pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah Bumi dapat bertahan, melainkan apakah manusia mampu hidup di tengah kerusakan lingkungan yang terus dibiarkan.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan atau simbol-simbol yang mudah dilupakan. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal perubahan perilaku individu, tetapi juga tentang keberanian menuntut akuntabilitas dari para pengambil kebijakan dan pelaku usaha yang menentukan arah pengelolaan sumber daya alam. Sebab pada akhirnya, kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan pangan yang kita konsumsi sangat ditentukan oleh kesehatan lingkungan tempat kita hidup. (*)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version