google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Daerah  

Di Tengah Pertumbuhan Tinggi, Gubernur Sherly Ingatkan Pentingnya Akses dan Kesempatan

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

NUANSA, TERNATE – Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Maluku Utara masih menghadapi tantangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: akses layanan kesehatan, konektivitas wilayah, dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Hal itu disampaikan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam wawancara di Jakarta. “Pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi yang masuk ke daerah,” ujar Sherly.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Perhatian tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai daerah kepulauan, Maluku Utara masih menghadapi tantangan konektivitas yang cukup besar. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menargetkan pembangunan dan peningkatan koneksi jalan dan jembatan, dengan sekitar 550 kilometer jalan provinsi hingga 2030. Di saat yang sama, sekitar 1.900 kilometer jalan kabupaten di berbagai wilayah juga masih menanti penyelesaian.

Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, jalan dan jembatan bukan sekadar infrastruktur, tapi penghubung antara peluang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, upaya menjawab tantangan tersebut mulai terlihat melalui pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Desa Kawasi dan Desa Soligi. Jembatan yang dibangun Harita Nickel itu kini menjadi penghubung penting aktivitas masyarakat di kedua desa.

Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengatakan keberadaan jembatan tersebut memberikan perubahan nyata bagi masyarakat. “Dulu warga harus menyesuaikan arus dan cuaca saat menyeberang. Sekarang akses lebih aman, cepat, dan efisien. Ini juga sangat memudahkan warga untuk menjangkau layanan kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Kawasi, Arifin Saroa. Menurutnya, terbukanya akses darat tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. “Mari kitorang atur baik-baik supaya bisa berjualan bersama. Waina dari Soligi dan Kawasi sekarang bisa bekerja sama karena akses darat sudah terbuka,” katanya.

Jalan dan jembatan baru menjawab sebagian tantangan pembangunan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal memiliki kapasitas untuk mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang sedang tumbuh. Di tengah berkembangnya industri pengolahan nikel, kebutuhan tenaga kerja terampil terus meningkat, sementara dunia pendidikan masih berupaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.

Gubernur Sherly Tjoanda menilai masih terdapat kesenjangan antara sistem pendidikan saat ini dengan keterampilan yang dibutuhkan industri masa depan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara mulai mendorong penguatan pendidikan vokasi sebagai bagian dari strategi menyiapkan SDM daerah.

“Kami menyadari ada missing link antara sistem edukasi dengan kebutuhan skill yang dibutuhkan oleh industri masa depan ini,” kata Sherly di Jakarta.

Di Pulau Obi, salah satu upaya menjawab tantangan tersebut dilakukan melalui Program Vokasi Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) yang dikembangkan Harita Nickel untuk membekali pemuda daerah dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri nikel terintegrasi.

Hingga saat ini, PELITA telah meluluskan 14 operator Wheel Loader, 28 operator Overhead Crane, serta 22 peserta pelatihan Bahasa Mandarin yang melanjutkan ke tahap pemagangan. Pada awal 2026, sebanyak 40 pemuda Pulau Obi kembali mengikuti pelatihan operator Overhead Crane bersertifikasi melalui angkatan keempat program tersebut. Selain operator, 22 pemuda asal Pulau Obi juga dinyatakan lulus pelatihan vokasi bahasa Mandarin untuk menjawab kebutuhan strategis di Kawasan Industri Obi, dengan kompetensi setara HSK 3 (Hanyu Shuiping Kaoshi level 3) setelah menempuh pelatihan intensif selama enam bulan.

Deputy Department Head Technical Support Harita Nickel, Agung Aribowo mengatakan PELITA dirancang sebagai jembatan antara kebutuhan industri dan potensi pemuda daerah. “Program PELITA merupakan bagian dari upaya Harita Nickel untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di Maluku Utara. Melalui pelatihan vokasi yang terukur, kami ingin membuka ruang yang lebih luas bagi pemuda Obi memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan dapat menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, dengan kompetensi yang teruji,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan kompetensi tenaga kerja lokal menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan industri hilirisasi yang semakin kompleks.

“Industri hilir nikel memiliki standar teknis dan keselamatan yang tinggi. Karena itu, pengembangan kompetensi harus dilakukan secara sistematis dan terukur. Program seperti PELITA memastikan kita tidak hanya membangun fasilitas industri, tetapi juga membangun kapasitas manusianya,” kata Agung.

Di Maluku Utara, pembangunan bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur membuka akses, sementara SDM yang siap membuka kesempatan. Keduanya menjadi kunci agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. (red)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version