Daerah  

Warga dan TNI AU Kembali Bersitegang soal Sengketa Lahan di Morotai 

DARUBA, NUANSA – Ketegangan kembali terjadi antara warga pemilik lahan dan pihak TNI AU (Lanud) Leo Wattimena di Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, pada Selasa (11/8). Lahan yang memicu perdebatan sengit tersebut rencananya akan digunakan untuk pembangunan fasilitas AURI.

Aksi saling klaim kepemilikan lahan ini mencuat sekira pukul 09.15 WIT, setelah puluhan tentara AURI mendatangi lokasi di jalan raya Darame. Pihak TNI AU membongkar pagar yang diketahui merupakan aset Pemkab Pulau Morotai dan mulai memasang patok pembangunan menggunakan tali boplang.

Langkah sepihak ini mengejutkan warga serta pemilik lahan setempat yang langsung berdatangan ke lokasi untuk menghentikan aktivitas pembangunan.

Akibat itu, Kaintel Lanud Leo Wattimena, Kapten Sus Rifki Anugrah dan Jajarannya, Ketua Komite Perjuangan Masyarakat Lingkar Bandara (KPMLB) Luter Djaguna, serta Anggota DPRD Darmin Wairo melakukan mediasi agar tidak terjadi konflik fisik antara kedua bela pihak.

Irwan Popa, warga pemilik lahan, meminta agar pihak AURI tidak melakukan pembongkaran pagar serta pemasangan patok bangunan. Sebab, lokasi lahan itu masih hak sah warga setempat.

“Kami sebagai pemilik lahan tidak dihargai juga, padahal tanah ini pemilik lahannya sudah ada, dan itu kita sudah sering berdebat dari dulu sampai sekarang juga belum selesai,” tegas Irwan.

Ia berharap, agar pihak AURI tidak berlaku sewenang-wenang tanpa koordinasi dengan pemilik lahan, pemerintah desa, dan langsung melakukan aksi pematokan.

“Jadi kami masyarakat atau pemilik lahan kaget, tiba-tiba ada pembongkaran pagar dari AURI, jadi kami masyarakat kaget,” ujarnya.

Senada, Baim, salah satu pengurus KPMLB, mengaku sudah cukup lama mengikuti perkembangan penyelesaian sengketa lahan antara warga dengan TNI AU.

“Hari ini kami dikagetkan lagi dengan pembongkaran pagar, tapi yang pasti kami rakyat pasti takut jika terjadi konflik dan berhadap-hadapan dengan TNI,” ujarnya.

“Jadi mohon maaf supaya jangan dulu ada pembongkaran lahan atau melakukan bangunan di lahan yang berstatus sengketa ini. Jadi harus ada penyelesaian dulu baik AURI dan masyarakat lingkar bandara, jadi sama sama kita bersabar dulu,” sambungnya.

Sementara itu, Kaintel Lanud Leo Wattimena, Kapten Sus Rifki Anugrah, ketika dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, ia belum memberikan keterangan rinci.

“Nanti aja ya, saya laporan dulu ke Komandan,” singkatnya. (ula/tan)