google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Operasi Modifikasi Cuaca Berakhir, Gubernur Sherly Apresiasi Dukungan BNPB

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Istimewa)

TERNATE, NUANSA — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BNPB, BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation, serta seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Maluku Utara.

OMC tersebut merupakan bagian dari upaya penanganan kondisi darurat asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Maluku Utara. Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah yang diminta oleh Gubernur Sherly sebagai bentuk respons pemerintah daerah terhadap kondisi yang terjadi.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Seiring perkembangan situasi di lapangan, Gubernur juga meminta agar masa operasi dapat diperpanjang, mengingat pada saat itu masih terdapat wilayah dengan curah hujan yang belum merata dan masih terdapat potensi pertumbuhan awan hujan.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BNPB yang telah merespons kebutuhan Maluku Utara melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Terima kasih juga kepada BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation dan seluruh unsur yang telah bekerja bersama,” ujar Sherly, Kamis (17/9).

Selama 5–12 September 2026, OMC dilaksanakan dengan basis operasi di Bandara Sultan Babullah Ternate, menggunakan pesawat Cessna Caravan C208 EX dan bahan semai NaCl. Tercatat 10 sortie dengan sasaran yang disesuaikan secara dinamis berdasarkan ketersediaan awan potensial di sejumlah wilayah Maluku Utara.

Menurut Sherly, dinamika pelaksanaan OMC menunjukkan pentingnya kolaborasi dan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

“Ketika kondisi membutuhkan dukungan, kita meminta intervensi dan dukungan dari pemerintah pusat. Ketika kondisi atmosfer berubah, pelaksanaan juga harus mengikuti pertimbangan teknis. Yang terpenting adalah kita terus berupaya memberikan perlindungan terbaik bagi masyarakat,” kata Sherly.

Dalam evaluasi akhir pada 12 September, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah dan hotspot menunjukkan kecenderungan menurun. Namun, berdasarkan evaluasi BMKG, ketersediaan awan potensial untuk mendukung operasi selanjutnya dinilai tidak memadai. Atas pertimbangan tersebut, BNPB memutuskan OMC tidak diperpanjang setelah 12 September 2026.

Gubernur menghargai keputusan tersebut sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan berbasis kondisi teknis dan meteorologis.

“Permintaan perpanjangan merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk memastikan setiap peluang penanganan dapat dimanfaatkan ketika kondisi masih memungkinkan. Kami menghormati keputusan berdasarkan kajian teknis yang dilakukan,” ujar Sherly.

Sherly juga menegaskan bahwa berakhirnya OMC bukan berarti kewaspadaan terhadap karhutla berakhir. Pemerintah Provinsi Maluku Utara akan terus memperkuat pemantauan cuaca, curah hujan, hotspot dan kondisi lapangan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi atmosfer.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku Utara, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh penyelenggara dan pendukung OMC. Terima kasih BNPB, BMKG, BMKG Pusat, Lanud, PT Smart Cakrawala Aviation dan seluruh pihak yang telah bekerja bersama untuk Maluku Utara,” tutup Sherly. (tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version