Oleh: Syahrudin Kadir
Pemuda Makayoa
Ada yang menarik sekaligus menggelitik setiap kali momentum politik mau tiba. Nama Makayoa dimunculkan, paguyuban mulai diperbincangkan, tokoh-tokoh bermunculan, musyawarah digelar, dan seruan tentang persatuan serta soliditas kembali menggema. Seolah-olah seluruh energi kebersamaan yang selama ini terpendam tiba-tiba menemukan momentumnya. Tapi, di balik riuhnya seruan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang patut dilayangkan, yakni di mana Paguyuban Makayoa ketika orang-orang Makayoa membutuhkan kehadiran, kepedulian, dan kerja nyata dalam kehidupan sehari-hari?.
Pertanyaan ini bukan untuk menafikan niat baik siapa pun. Ini adalah kritik terhadap cara kita memahami dan membangun soliditas. Pasalnya, persatuan tidak bisa hanya dibicarakan ketika kepentingan politik mulai menemukan jalannya. Persatuan harus dirawat jauh sebelum politik mengetuk pintu. Kita perlu berani mengakui bahwa membangun soliditas komunitas bukan perkara mengumpulkan orang dalam satu ruangan, menggelar musyawarah, lalu meminta semua pihak berdiri dalam satu barisan. Itu mungkin menghasilkan keramaian, tetapi belum tentu melahirkan kebersamaan. Soliditas yang sesungguhnya tumbuh dari kepercayaan. Kepercayaan lahir dari kehadiran, kepedulian, dan pengalaman bersama. Orang merasa menjadi bagian dari sebuah paguyuban bukan semata-mata karena memiliki identitas yang sama, melainkan karena mereka merasakan bahwa identitas itu memiliki makna dalam kehidupan mereka.
Jika akar kebersamaan tidak pernah disiram, jangan heran ketika pohon persatuan sulit berdiri kokoh. Jika hubungan antarsesama tidak pernah dirawat, jangan terkejut ketika seruan solidaritas tidak mendapatkan sambutan sebagaimana yang diharapkan. Kita tidak bisa membiarkan akar persaudaraan mengering sepanjang waktu, lalu tiba-tiba menuntut pohon itu berbuah ketika musim politik datang. Soliditas bukan slogan yang bisa diteriakkan sesuka hati. Ia adalah hasil dari proses panjang yang menuntut konsistensi, pengorbanan, dan kerja nyata. Persoalan yang harus dikritisi adalah kecenderungan menjadikan identitas kolektif sebagai kekuatan yang baru diingat ketika ada kebutuhan tertentu. Ketika momentum politik datang, identitas Makayoa dirayakan, tokoh-tokohnya dipanggil, dan solidaritasnya dibicarakan. Tapi, apakah semangat yang sama juga hadir ketika ada keluarga Makayoa yang mengalami kesulitan ekonomi, ketika warga tertimpa musibah, ketika generasi muda membutuhkan ruang pengembangan diri, atau ketika hubungan sosial antarkelompok perlu dipulihkan?.
Paguyuban tidak cukup hanya menjadi forum pertemuan sekian banyak tokoh. Ia harus menjadi ruang sosial yang hidup, tempat orang menemukan persaudaraan, mendapatkan dukungan, dan merasakan bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi persoalan kehidupan. Kegiatan sosial dan kemanusiaan bukan sekadar agenda tambahan untuk mempercantik program organisasi. Justru di situlah fondasi emosional sebuah komunitas dibangun. Dari kerja-kerja kecil yang dilakukan secara konsisten, rasa percaya tumbuh. Dari kepedulian yang nyata, rasa memiliki terbentuk. Dan dari pengalaman bersama itulah solidaritas menemukan pijakannya. Jika semua itu tidak dikerjakan, atas dasar apa orang diminta untuk solid?.
Para pencetus Musyawarah Makayoa tentu saja punya hak untuk menggagas pertemuan dan menawarkan arah bagi komunitas. Tapi musyawarah itu tidak otomatis menjadi representasi kehendak seluruh orang Makayoa hanya karena menggunakan nama Makayoa atau dihadiri sejumlah tokoh. Ada hal yang lebih penting daripada sebatas menyelenggarakan forum: apa masalah yang hendak diselesaikan, gagasan apa yang ditawarkan, siapa yang dilibatkan, dan untuk kepentingan siapa keputusan itu dibuat?. Jika musyawarah tersebut memiliki dimensi atau orientasi politik, tidak perlu ada upaya untuk mengaburkannya. Politik dapat menjadi bagian dari diskursus komunitas. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan mengenai agenda, ruang dialog yang sehat, dan kesempatan bagi orang-orang Makayoa untuk menilai serta menentukan sikapnya sendiri.
Jangan sampai musyawarah lebih dahulu digelar, seruan soliditas lebih dahulu disampaikan, tetapi fondasi gagasan dan kesepahaman bersama justru belum dibangun. Sebuah forum boleh mengundang orang untuk berkumpul, tetapi forum itu tidak bisa serta-merta menuntut semua orang untuk sepakat. Soliditas tidak berarti meniadakan perbedaan. Sebaliknya, soliditas yang sehat justru memberikan ruang bagi perbedaan pandangan tanpa merusak ikatan persaudaraan. Sebelum meminta orang untuk berjalan bersama, para penggagas harus menjelaskan ke mana arah perjalanan itu, apa tujuannya, dan nilai apa yang menjadi pijakannya.
Jika ingin membangun kembali kekuatan Makayoa, mulailah dari sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan orang-orangnya. Bangun gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan. Hadir ketika ada warga yang berduka. Bantu keluarga yang sedang menghadapi kesulitan. Ciptakan ruang pendidikan, pengembangan kapasitas generasi muda, pemberdayaan ekonomi, serta forum dialog yang mempertemukan berbagai kelompok Makayoa. Tidak perlu menunggu momentum besar untuk memulai. Tidak harus menunggu musyawarah akbar untuk menunjukkan kepedulian. Bahkan, kerja-kerja sederhana yang dilakukan dengan konsisten jauh lebih bermakna daripada agenda besar yang hanya ramai dalam satu kesempatan.
Jangan pula menganggap bahwa kesamaan asal-usul dengan sendirinya melahirkan loyalitas tanpa batas. Orang-orang Makayoa memiliki pikiran, kebutuhan, pengalaman, dan pilihan yang beragam. Mereka bukan massa yang otomatis bergerak hanya karena nama kolektifnya disebut. Mereka berhak melihat bukti, menilai gagasan, dan menentukan bentuk keterlibatan mereka secara sadar. Karena itu, tugas para tokoh bukan sekadar membangkitkan sentimen kebersamaan, melainkan membangun alasan yang masuk akal bagi orang-orang Makayoa untuk merasa memiliki paguyuban tersebut.
Kritik ini pada akhirnya bukan tentang menolak politik, apalagi menutup ruang bagi Makayoa untuk mengambil peran dalam kehidupan publik. Persoalannya adalah urutan dan fondasi. Jangan menempatkan kepentingan politik sebagai titik awal untuk menghidupkan persaudaraan. Jadikan persaudaraan sebagai fondasi yang memungkinkan setiap agenda bersama dibicarakan secara terbuka, kritis, dan bertanggung jawab. Para tokoh Makayoa perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah mereka membangun hubungan yang cukup kuat dengan masyarakatnya?. Sudahkah ada agenda sosial yang berjalan secara konsisten? Sudahkah ruang dialog dibuka bagi mereka yang berbeda pandangan?. Sudahkah paguyuban hadir sebagai kebutuhan bersama, bukan sekadar nama yang kembali populer ketika kepentingan tertentu muncul?. Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak orang yang bisa dikumpulkan dalam sebuah musyawarah.
Sebab, mengumpulkan orang mungkin tidak terlalu sulit. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kepercayaan, menjaga komitmen, dan membuat orang tetap merasa terhubung ketika tidak ada kepentingan politik yang sedang dipertaruhkan.
Pada akhirnya, Makayoa membutuhkan lebih dari sekadar seruan persatuan. Makayoa membutuhkan kerja nyata yang membuat persatuan itu layak diperjuangkan. Jangan hanya mencari Makayoa ketika membutuhkan kekuatan politik. Temukan Makayoa dalam kehidupan sosialnya, rawat persaudaraannya, dan hadirkan manfaat bagi orang-orangnya. Sebab, jika akar persaudaraan tidak pernah dirawat, jangan berharap soliditas tumbuh hanya karena sebuah momentum politik menghendakinya. Persatuan tidak lahir ketika orang diminta berkumpul. Persatuan tumbuh ketika orang memiliki alasan untuk saling percaya, saling peduli, dan berjalan bersama tanpa harus menunggu kepentingan memanggil mereka.
Makayoa bukan mesin politik yang bisa dinyalakan ketika dibutuhkan dan ditinggalkan ketika kepentingan selesai. Makayoa adalah komunitas manusia yang persaudaraannya harus dirawat setiap hari. Dan sebelum menyerukan soliditas, pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab adalah: apa yang sudah kita lakukan untuk membuat orang-orang Makayoa benar-benar merasa menjadi bagian dari satu keluarga besar?. Saya berharap tulisan ini dijawab atau dibalas lewat tulisan tandingan, sehingga membangun gagasan di tengah rencana musyawarah Makayoa terbilang hidup dengan narasi yang mencerahkan. (*)










