google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Opini  

Guru, Garda Depan Kesehatan Mental Siswa

Oleh: Syaiful Bahry
Dosen Psikologi UMMU dan Ketua HIMPSI Wilayah Maluku Utara

 

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Setiap 5 Oktober, dunia memperingati Hari Guru Sedunia yang dicanangkan UNESCO sejak 1994. Di Indonesia, semangat itu berlanjut pada 25 November, saat kita merayakan Hari Guru Nasional sekaligus hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Di banyak sekolah, kedua hari itu diisi ucapan terima kasih, bunga di meja guru, dan upacara sederhana. Namun, Hari Guru Sedunia dan Hari Guru Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni. Kedua peringatan itu adalah saat yang tepat untuk menengok satu peran guru yang jarang dibicarakan, padahal kian mendesak: menjadi penjaga kesehatan mental siswa.

Peran itu kerap bermula dari hal yang tampak sepele. Bayangkan seorang siswa yang biasanya riuh di kelas mendadak lebih banyak diam. Nilainya merosot, ia makan siang sendirian, dan di sudut buku tulisnya ada coretan yang membuat gurunya tertegun. Pemandangan seperti ini bukan cerita langka di sekolah-sekolah kita. Pertanyaannya, siapa yang pertama kali menyadarinya? Sering kali jawabannya adalah guru.

Di tengah peringatan Hari Guru Sedunia, kita perlu menyadari bahwa persoalan kesehatan mental remaja bukan lagi isu pinggiran. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) 2022 mencatat sekitar satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Ironisnya, hanya sebagian sangat kecil yang pernah mendapat layanan profesional. Selebihnya menanggung beban itu sendiri, dan tempat mereka paling lama berada di luar rumah adalah sekolah.

Pemicunya beragam. Tekanan akademik yang menuntut nilai sempurna, perundungan yang kini merambat hingga ke ruang digital, paparan media sosial yang membuat anak terus membandingkan diri, hingga persoalan keluarga yang tak kunjung selesai. Pandemi beberapa tahun lalu juga meninggalkan jejak: banyak anak kehilangan rutinitas, teman, bahkan anggota keluarga, tanpa sempat memprosesnya dengan baik. Semua itu dibawa anak ke sekolah setiap pagi, terselip di balik seragam yang rapi.

Sayangnya, stigma masih tebal. Anak yang murung kerap dicap malas, cengeng, atau kurang bersyukur. Tidak sedikit orang tua menganggap konseling sebagai aib. Akibatnya, banyak anak memilih memendam masalah hingga benar-benar meledak, entah dalam bentuk amarah, menarik diri sepenuhnya, atau tindakan menyakiti diri. Sekolah, dengan guru di dalamnya, punya peluang besar untuk memutus rantai stigma itu sejak dini.

Di sinilah makna Hari Guru Sedunia menemukan relevansinya: guru berdiri sebagai garda depan. Bukan karena guru harus menjadi psikolog, melainkan karena gurulah orang dewasa yang paling sering melihat, mendengar, dan bersinggungan dengan anak setiap hari. Enam hingga delapan jam sehari, guru menyaksikan hal-hal yang kerap luput dari mata orang tua: perubahan sikap, teman yang menjauh, atau tatapan kosong saat pelajaran berlangsung.

Guru juga memiliki modal yang tidak dimiliki banyak pihak lain, yaitu kepercayaan. Bagi sebagian anak, guru adalah satu-satunya orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Ada anak yang tak berani bercerita kepada orang tuanya karena takut dimarahi, tetapi mau membuka diri kepada wali kelas yang dianggapnya bisa memahami. Kepercayaan semacam ini tidak bisa dibeli dengan program apa pun; ia tumbuh dari interaksi sehari-hari yang konsisten dan tulus.

Kita juga harus realistis. Jumlah psikolog di negeri Moloku Kie Raha  ini masih jauh dari kebutuhan, dan sebarannya menumpuk di kota-kota besar. Banyak sekolah, terutama di daerah, belum memiliki guru Bimbingan dan Konseling dalam jumlah memadai. Menunggu setiap persoalan ditangani tenaga profesional berarti membiarkan banyak anak tak tertolong. Dalam kondisi seperti ini, kepekaan setiap guru, apa pun mata pelajarannya, menjadi lapisan perlindungan pertama.

Menjadi garda depan juga tidak menuntut keahlian yang rumit. Yang pertama-tama dibutuhkan adalah kemauan untuk memperhatikan. Guru matematika yang menyadari siswanya mendadak sering tertidur di kelas, guru olahraga yang melihat bekas memar di lengan muridnya, atau guru agama yang mendengar keluh kesah di sela pelajaran, semuanya berada di posisi strategis. Mereka tidak harus punya jawaban atas setiap masalah. Cukup peduli, bertanya dengan tulus, dan tahu kepada siapa harus meneruskan.

Penghormatan kepada guru setiap Hari Guru Nasional dan Sedunia bukan sekadar sentimen; psikologi pendidikan sudah lama memberi pijakan bagi peran ini. Abraham Maslow menempatkan rasa aman, rasa memiliki, dan penghargaan sebagai kebutuhan dasar sebelum seseorang dapat berkembang. Siswa yang merasa terancam atau terkucil akan sulit berkonsentrasi, sepintar apa pun ia. Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menegaskan bahwa empati, ketulusan, dan penerimaan tanpa syarat adalah inti hubungan yang menumbuhkan. Mutu relasi guru dan siswa, dengan kata lain, sama pentingnya dengan mutu materi pelajaran.

Urie Bronfenbrenner melalui teori ekologinya mengingatkan bahwa anak tumbuh di dalam lapisan-lapisan lingkungan yang saling berkait. Sekolah adalah lingkungan terdekat setelah rumah, dan guru menjadi jembatan di antara keduanya. Sementara itu, Richard Ryan dan Edward Deci lewat teori determinasi diri menunjukkan bahwa manusia membutuhkan otonomi, rasa mampu, dan keterhubungan dengan orang lain. Guru yang memberi ruang memilih, mengakui kemajuan sekecil apa pun, dan membangun kedekatan sedang memenuhi ketiganya.

Gagasan ini sejalan dengan gerakan pembelajaran sosial-emosional (social emotional learning) yang berkembang di banyak negara. Lembaga CASEL di Amerika Serikat merumuskan lima kompetensi inti: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kompetensi ini tidak harus menjadi mata pelajaran tambahan. Ia dapat ditanamkan lewat cara guru membuka kelas, memimpin diskusi, hingga menengahi konflik antarsiswa. Kurikulum kita pun sebenarnya memberi ruang yang cukup luas untuk itu.

Psikolog anak Haim Ginott dalam Teacher and Child bahkan menulis pengakuan yang jujur: “Saya sampai pada kesimpulan yang menakutkan: sayalah unsur penentu di dalam kelas.” Iklim kelas, menurut Ginott, lahir dari sikap pribadi guru. Satu kalimat sederhana seperti “Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini, ada yang bisa Ibu bantu?” bisa menjadi pintu pertama bagi seorang anak untuk bercerita.

Hal-hal kecil sering kali lebih berarti daripada yang kita kira. Menyebut nama siswa dengan benar, menanyakan kabar ketika ia kembali setelah lama absen, atau sekadar tersenyum saat berpapasan di lorong dapat membuat seorang anak merasa dilihat. Bagi anak yang sedang merasa tak berharga, perasaan dilihat itu bisa menjadi alasan untuk bertahan.

Peran ini juga tak bisa dilepaskan dari keteladanan. Anak belajar mengelola emosi bukan dari ceramah, melainkan dari melihat bagaimana orang dewasa disekitarnya menghadapi kekecewaan, kemarahan, dan kegagalan. Guru yang mampu mengakui kesalahan, meminta maaf, dan tetap tenang di tengah kelas yang gaduh sedang memberi pelajaran kesehatan mental yang paling nyata.

Jika Hari Guru Nasional dan Sedunia adalah saat untuk merefleksikan tugas guru, maka peran garda depan itu dapat dirangkum dalam tiga kata kerja: mendeteksi, merangkul, dan merujuk. Mendeteksi berarti peka terhadap tanda-tanda awal, seperti perubahan perilaku yang menetap, menarik diri dari pergaulan, sering absen, atau prestasi yang anjlok. Merangkul berarti hadir dengan empati, lebih banyak mendengar daripada menasihati, dan tidak mempermalukan siswa di depan teman-temannya. Merujuk berarti tahu batas: ketika masalah tampak serius, guru menghubungkan siswa dengan guru BK, orang tua, puskesmas, atau psikolog.

Sebaliknya, ada respons yang justru memperburuk keadaan: menyepelekan perasaan siswa, menceramahinya panjang lebar, membandingkannya dengan siswa lain atau menceritakan masalahnya di ruang guru tanpa izin. Kerahasiaan dan rasa hormat adalah fondasi kepercayaan. Guru juga perlu waspada terhadap tanda bahaya yang tidak boleh ditunda, seperti ungkapan ingin mati atau luka yang disengaja. Dalam situasi seperti itu, rujukan harus segera dilakukan.

Kepekaan itu juga bisa dirawat lewat kebiasaan sederhana di kelas. Sebagian guru membuka hari dengan menanyakan kabar siswa, menyediakan kotak surat untuk bercerita, atau memberi beberapa menit hening untuk menenangkan diri. Cara mengajar pun berpengaruh. Beban tugas yang menumpuk, budaya membandingkan nilai, dan hukuman yang mempermalukan dapat menjadi sumber tekanan. Sebaliknya, apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil, menumbuhkan rasa berharga dalam diri siswa.

Namun, merayakan guru di Hari Guru Sedunia tidak boleh berhenti pada pujian. Menyebut guru sebagai garda depan juga tidak boleh diartikan menyerahkan seluruh urusan kesehatan mental siswa ke pundak guru. Guru kita sudah lama dibebani administrasi yang menumpuk, target kurikulum, dan kelas yang padat. Menambah tuntutan tanpa dukungan hanya akan memindahkan krisis dari siswa ke guru. Kita juga perlu jujur bahwa guru adalah manusia yang bisa lelah dan tertekan. Guru yang kesehatan mentalnya terabaikan akan sulit merawat jiwa orang lain.

Merawat guru adalah bagian dari merawat siswa. Sekolah bisa memulainya dengan langkah sederhana: forum berbagi antarguru, supervisi yang mendukung alih-alih menghakimi, serta pembagian tugas yang lebih adil. Guru yang merasa didengar akan lebih mampu mendengar.

Orang tua pun tidak boleh absen. Kesehatan mental anak tidak bisa dirawat sekolah sendirian. Komunikasi rutin antara wali kelas dan keluarga, bukan hanya ketika anak bermasalah, akan membuat tanda-tanda awal lebih cepat terbaca. Pertemuan orang tua sebaiknya tidak melulu membahas nilai rapor, tetapi juga perasaan dan pergaulan anak.

Karena itu, rangkaian peringatan Hari Guru Sedunia hingga Hari Guru Nasional tahun ini layak menjadi pengingat atas pekerjaan rumah yang harus dikerjakan bersama. Setiap guru, bukan hanya guru BK, perlu dibekali pelatihan pertolongan pertama psikologis agar mampu mengenali tanda bahaya dan meresponsnya dengan tepat. Rasio guru BK terhadap siswa harus diperbaiki, dan perannya dikembalikan sebagai pendamping, bukan sekadar penegak disiplin. Sekolah memerlukan jalur rujukan yang jelas ke puskesmas dan layanan psikologi, sehingga guru tahu ke mana harus melangkah ketika menemukan kasus. Beban administrasi guru perlu dipangkas agar waktunya kembali tercurah untuk anak. Tak kalah penting, ruang konsultasi dan dukungan psikologis juga harus tersedia bagi guru sendiri.

Pemerintah daerah juga memegang kunci. Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di puskesmas dapat menjadi mitra alami sekolah, asalkan benar-benar dijalankan dan dikenal oleh guru serta siswa. Dinas pendidikan dan dinas kesehatan perlu duduk bersama, menyusun alur rujukan yang sederhana, dan memastikan anggarannya tersedia. Tanpa itu, kepedulian guru akan berhenti di niat baik.

Jauh sebelum dunia mengenal Hari Guru Sedunia dan istilah kesehatan mental populer, Ki Hajar Dewantara telah mewariskan semboyan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Semboyan itu kini menemukan maknanya kembali. Guru menjadi teladan dalam mengelola emosi, hadir membangkitkan semangat ketika siswa goyah, dan mendorong dari belakang agar mereka berani bangkit.

Pada akhirnya, kesehatan mental siswa adalah cermin kesehatan ekosistem pendidikan kita. Sekolah yang terlalu sibuk mengejar angka akan kehilangan wajah-wajah di balik angka itu. Sebaliknya, sekolah yang memberi tempat bagi perasaan anak akan melahirkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga tangguh dan peduli.

Pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan otak, melainkan juga menumbuhkan jiwa yang sehat. Anak yang cemas dan terluka akan sulit belajar. Guru sudah berdiri di garis paling depan, tempat tanda-tanda pertama itu muncul. Penghargaan terbaik di Hari Guru Sedunia adalah memastikan mereka tidak berdiri sendirian.

Selamat Hari Guru Sedunia dan selamat menyambut Hari Guru Nasional 25 November 2026. Terima kasih kepada para guru yang setiap hari tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengar, menguatkan, dan menjaga harapan anak-anak kita.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version