Opini  

Potret Isra Mi’raj Adalah Pelajaran Ideal Bagi Kader HMI

Naufandi Hadyan Saleh.

Oleh: Naufandi Hadyan Saleh, S.Pd 

Ketua Bidang Pemberdayaan Umat HMI Cabang Ternate periode 2025-2026

_____________________

BAGI umat Islam peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa fenomenal yang wajib tuk diyakini. Keyakinan terhadap peristiwa ini adalah gambaran kokoh dari kuatnya iman. Sebuah kejadian yang hanya dialami oleh satu-satunya manusia (the only human) yaitu Nabi Muhammad SAW. Annie Besant menyebut dalam bukunya The Life and Teaching of Muhammad bahwa Nabi Muhammad SAW adalah a capable reformer, an eloquent and bold speaker, and a great thinker atau seorang reformis yang cakap, pembicara yang fasih, lagi berani, serta pemikir yang hebat. Begitulah para pemikir barat mendeskripsikan sang nabi fenomenal.

Dalam catatan sejarah, Isra Mi’raj terdiri dari dua peristiwa: Isra dan Mi’raj. Quraish Shihab menyebutkan Isra merupakan perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah alat untuk naik. Isra Mi’raj sering juga disebut dengan perjalanan horizontal dan perjalanan vertikal. Nabi Muhammad SAW melangsungkan perjalanan Isra atau perjalanan horizontal dimulai dari masjidil Haram yang berada di Kota Makkah menuju masjidil Aqsa di Kota Yerusalem. Hal itu dapat dilihat pada QS Al-Isra ayat 1. Lalu kemudian melangsungkan perjalanan Mi’raj atau perjalanan vertikal naik ke langit untuk bertemu dengan Allah SWT. Hal itu dapat dilihat pada QS An-Najm ayat 13-18. Habib Salim bin Abdullah Assyatiri menyebutkan peristiwa Isra Mi’raj berlangsung tidak lama sekitar 20-40 menit.

Dalam perkembangan sains modern, Isra Mi’raj seringkali mendapat penolakan, khususnya dari kalangan kaum empiris dan rasionalis. Mereka menganggap peristiwa Isra Mi’raj tak masuk akal dan tak dapat diterima. H.M Zainuddin memberikan jawaban terkait penolakan tersebut. Menurutnya, dalam studi Islam kita dapat menggunakan dua pendekatan, pertama adalah filosofis yaitu pendekatan dengan menggunakan teks-teks yang terkait masalah metafisik seperti peristiwa Isra Mi’raj. H.M Zainuddin mengatakan dalam kasus ini tidak dibutuhkan jawaban empirik karena keterbatasan rasio manusia. Kedua adalah pendekatan scientific (keilmuan), yakni pendekatan terhadap teks-teks yang berhubungan dengan sunnatullah (ketetapan Allah), teks-teks hukum yang bersifat perintah maupun larangan, serta sejarah masa lampau umat manusia.

Sehingga dengan demikian, menurut H.M Zainuddin, wajar jika kaum empiris dan rasionalis mempertanyakan peristiwa Isra Mi’raj dikarenakan mereka hanya memandang segala sesuatu berdasarkan realita empiris dan yang rasional saja. Padahal Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sublim.

Peristiwa Isra Mi’raj disepakati mayoritas ulama terjadi pada tanggal 27 Rajab 621 M (tahun ke-10 kenabian). Tahun Isra Mi’raj juga disebut dengan amul hazan (tahun kesedihan). Pada tahun itu Nabi Muhammad SAW dilanda kesedihan yang mendalam karena ditinggal istri tercinta sayidatuna Khadijah dan paman paling membela sayidina Abu Tholib, maka Allah-pun mengobati rasa sedih Nabi Muhammad SAW dengan mengundangnya untuk bertemu.

Pada peristiwa Isra Mi’raj, nabi melakukan banyak aktivitas produktif sehingga penulis berkeyakinan potret perjalanan Isra Mi’raj mengandung ribuan pelajaran yang bisa dipetik oleh berbagai kalangan, termasuk kader HMI. Oleh karenanya penulis ingin membagikan potret perjalanan Isra Mi’raj yang dapat dikonsepkan pada kehidupan kader HMI.

Membentuk Karakter Utuh Kader

Ketika melaksanakan perjalanan Isra dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW menyinggahi lima tempat yang dimuliakan, yaitu: Madinah, Madyan, Bukit Thursina, Betlehem (Baitullahmi), dan Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis). Menariknya, pada setiap tempat yang disinggahi nabi, beliau selalu mengerjakan sholat di tempat-tempat tersebut. Menunjukkan perkara sholat merupakan salah satu bagian paling penting dalam ajaran agama Islam. Sehingga sekalipun nabi dalam keadaan musafir kewajiban sholat tetap dijaga olehnya.

Pesan yang bisa kita ambil dalam kehidupan kader HMI adalah, sebagai seorang pemimpin Nabi Muhammad SAW benar-benar menunjukkan arti dari sebuah integritas. Ippho Santoso menyebutkan integritas adalah upaya menyatukan pikiran, perkataan, maupun perbuatan untuk melahirkan reputasi dan kepercayaan. Hal itu dengan jelas dapat dilihat pada pribadi Nabi Muhammad SAW, di mana beliau tidak hanya memberi perintah kepada umatnya melainkan turut memberi contoh.

Harus diakui kita sangat krisis kader HMI yang memiliki daya juang seperti ini. Banyak kader HMI yang hanya pandai pada tatanan konseptual namun minim pada praktek di lapangan. Seringkali ditemukan kader-kader HMI yang tak berkomitmen dengan waktu, ibadah, maupun hal-hal yang telah menjadi kesepakatan bersama. Sehingga dengan demikian, tak heran jika semakin ke sini kepercayaan publik mulai meredup pada aktivis mahasiswa tak terkecuali kader HMI.

Idealnya, kader HMI adalah ia yang tetap teguh menjadi pribadi yang patut untuk diteladani. Keteladanan itu hanya dapat diwujudkan saat perkataan dan perbuatannya benar-benar berjalan beriringan (utuh).

Membangun Networking

Selain perjalanan Isra, Nabi Muhammad SAW juga melangsungkan perjalanan Mi’raj atau perjalanan vertikal naik ke langit untuk bertemu dengan Allah SWT. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad SAW menaiki tujuh lapisan langit yang pada setiap langit dihuni oleh para nabi-nabi sebelumnya. Langit pertama Nabi Adam AS, langit kedua Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, langit ketiga Nabi Yusuf AS, langit keempat Nabi Idris AS, langit kelima Nabi Harun AS, langit keenam Nabi Musa AS, dan langit ketujuh Nabi Ibrahim AS.

Pelajaran yang bisa kita petik pada peristiwa ini adalah sekalipun Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para anbiya, beliau masih tetap membangun silaturahmi dan hubungan baik dengan nabi-nabi sebelumnya. Senada dengan itu, sudah sepatutnya seorang kader HMI harus menjaga silaturahmi dan membangun hubungan baik dengan berbagai pihak. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kerja-kerja organisatoris dalam mencapai target yang telah disusun juga pada setiap individu, silaturahmi dapat membangun ikatan emosional maupun relasi (networking).

Manusia sebagai homo socius atau makhluk sosial akan selalu saling membutuhkan satu sama lain. Itu kenapa silaturahmi sangatlah penting dijadikan budaya bagi keseluruhan kader HMI. Dalam hadist, silaturahmi dapat memperpanjang usia maupun memperluas rezeki. Spirit hadist ini sangat direkomendasikan untuk mengilhami setiap langkah kader-kader HMI. Perkembangan zaman di era modern selalu menuntut seorang individu untuk membangun relasi baik dengan siapapun.

Memiliki networking bagi seorang kader HMI adalah modal penting yang bisa digunakan untuk membuka peluang karirnya ke depan. Selain itu, networking juga bisa dijadikan jembatan informasi maupun mentoring. Bagi penulis, bekal ini menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan seorang kader HMI dalam mengarungi kehidupan profesional. Kehidupan pasca ber-HMI sangatlah kompleks, ia butuh dukungan dan keterkaitan dengan berbagai pihak, maka akan menjadi sulit jika seorang kader HMI tidak memiliki networking yang baik. Satu yang perlu untuk diingat networking selalu terbentuk dari budaya bersilaturahmi.

Keberpihakan Pada Kebenaran

Keraguan akan validnya peristiwa Isra Mi’raj telah terjadi ribuan tahun sebelumnya. Bahkan pada zaman nabi pun banyak di antara kalangan kuffar maupun muslimin yang meragukan peristiwa ini. Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan kronologi Isra Mi’raj kepada penduduk Arab, sontak ia mendapatkan respons yang beragam. Kaum kafir Quraisy yang sejak awal mengingkari kenabian sang rasul dengan tegas menolaknya. Sebab bagi mereka yang telah berpengalaman pergi ke masjidil Aqsa di Palestina sekurang-kurangnya membutuhkan waktu sebulan.

Ironinya pada sisi lain golongan muslimin juga ikut terpecah menjadi dua golongan. Golongan yang pertama memilih murtad (keluar) dari Islam karena menganggap Nabi Muhammad SAW adalah sang pendusta. Golongan kedua tetap mempercayai perkataan Nabi Muhammad SAW. Sayidina Abubakar Assiddiq salah satu contoh sahabat yang membenarkan perkataan Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya, ia diberi gelar oleh nabi sebagai assiddiq (orang yang membenarkan).

Pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah di atas adalah pada akhirnya orang-orang yang membenarkan peristiwa Isra Mi’raj merupakan sang pemenang sejati. Bagaimana tidak? mereka memilih sikap paling ideal yakni berpihak pada Nabi Muhammad SAW sebagai simbol kebenaran.

Jika ditarik pada kehidupan kader HMI seringkali ditemukan banyak kader HMI yang tak kuat dan goyah menahan godaan. Idealismenya mudah dibeli dengan nilai rupiah bahkan banyak kader HMI yang senantiasa bangga dengan slogan “arahan kanda” padahal tidak selalu benar untuk diikuti. Ini satu ironi yang perlu menjadi perhatian bersama. Seorang kader HMI harus mampu menegaskan prinsip kebenaran di atas segalanya. Kader HMI yang ideal selalu kokoh dalam mempertahankan kebenaran sekalipun harus bertentangan dengan ribuan lawan. Sikap seperti ini mulai jarang ditemukan pada diri kader HMI.

Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah saat sayidina Abubakar membenarkan perkataan Nabi Muhammad SAW. Sayidina Abubakar pernah berkata seandainya apa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari itu maka aku pun percaya.

Bagi penulis, gelar assidiq yang ia terima tidak sekadar pembenaran terhadap perkataan Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu assidiq adalah simbol loyalnya seorang bawahan kepada pimpinannya. Dewasa ini kita sering melihat banyak orang yang hanya bersedia memihak pada sesuatu tatkala ia mendapatkan posisi yang menguntungkan. Namun enggan memilih untuk setia saat berada pada posisi yang merugikan. Padahal arti perjuangan tak se-bercanda itu. Seperti yang dikatakan Sufmi Dasco banyak yang ramai di akhir cerita, tapi sunyi saat bab perjuangan ditulis.

Kader HMI yang ideal selalu berpihak pada kebenaran sekalipun harus mengahadapi ribuan lawan. Selain itu ia juga senantiasa mengedepankan sikap yang loyal meski harus merasakan penderitaan.

Dari peristiwa Isra Mi’raj, penulis merangkum sekurang-kurangnya daya juang yang harus dimiliki oleh kader HMI di era ini adalah satu mempunyai karakter utuh yakni berintegritas, kedua mempunyai networking yang baik, dan ketiga mempunyai daya juang untuk memihak pada kebenaran sekalipun harus berdiri di atas penderitaan. (*)