Gubernur Tegaskan Maluku Utara Siap Jadi Gerbang Ekonomi Indonesia Timur

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. (Istimewa)

SOFIFI, NUANSA – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menyatakan provinsinya siap menjadi gerbang ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur. Pemerintah daerah mendorong peningkatan investasi di sektor peternakan, perikanan, dan perkebunan kelapa guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus memperkuat struktur ekonomi lokal.

Menurut Sherly, sekitar 80 persen kebutuhan Maluku Utara saat ini masih dipenuhi dari daerah lain, terutama Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan besarnya peluang investasi, khususnya pada sektor produksi pangan dan industri pengolahan.

Di sektor peternakan, kebutuhan daging ayam diperkirakan mencapai 25.000 ton per tahun. Dengan harga rata-rata sekitar Rp40.000 per kilogram, nilai perputaran ekonomi komoditas tersebut mendekati Rp1 triliun per tahun. Tingginya biaya logistik membuat harga ayam di wilayah itu dapat mencapai Rp50.000 per kilogram. Selain daging ayam, kebutuhan telur juga memiliki potensi ekonomi sekitar Rp800 miliar per tahun.

Pada sektor perikanan, Maluku Utara dikenal sebagai salah satu jalur potensial tuna. Namun pemanfaatannya baru sekitar 20 persen karena keterbatasan armada penangkapan, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta industri pengolahan. Akibatnya, sebagian hasil tangkapan masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah dinikmati daerah lain.

Pemerintah daerah mendorong pembangunan cold storage dan industri pengolahan hasil laut agar rantai nilai dapat berkembang di dalam daerah. Langkah ini diharapkan meningkatkan daya saing produk perikanan sekaligus membuka lapangan kerja.

Selain itu, komoditas kelapa juga menjadi salah satu andalan ekspor Maluku Utara. Saat ini terdapat dua pabrik pengolahan kelapa yang mengekspor produk turunan seperti kopra ke China sekitar 300 kontainer per bulan. Pemerintah menargetkan volume ekspor meningkat hingga 1.000 kontainer per bulan setelah pabrik ketiga beroperasi pada 2027.

Sherly menilai penguatan sektor produksi, industri pengolahan, serta konektivitas logistik akan mempercepat transformasi ekonomi daerah.

“Maluku Utara bukan lagi daerah pinggiran, tetapi pintu gerbang ekonomi baru Indonesia Timur,” ujarnya. (tan)