Hukum  

Sepekan Laporan tak Digubris, Korban Pengeroyokan di Halbar Kecewa Kinerja Polisi

Ilustrasi pengeroyokan. (Istimewa)

JAILOLO, NUANSA – Penanganan kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa Anwar Maruf, warga Desa Bobanehena, Kabupaten Halmahera Barat, menuai sorotan. Meski laporan resmi telah dilayangkan sejak sepekan lalu, hingga kini pihak kepolisian dinilai belum memberikan kepastian hukum yang jelas atas peristiwa kekerasan tersebut.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Rabu malam pekan lalu sekitar pukul 23.00 WIT. Anwar menceritakan, kejadian bermula saat dirinya bersama rekannya, Amir Muid, mendatangi Pelabuhan Jailolo untuk mengecek jadwal kapal menuju Ternate.

Saat sedang duduk di emperan pelabuhan, mereka didatangi oleh seorang buruh berinisial A yang diduga dalam kondisi mabuk. Ketegangan muncul saat Amir menegur A agar berhati-hati saat berjalan.

“Amir menegur supaya hati-hati jangan sampai jatuh, tapi dia (terduga pelaku) malah merespons agresif dengan nada menantang,” ujar Anwar kepada awak media, Senin (20/4).

Situasi memanas ketika A tiba-tiba melayangkan pukulan ke wajah Anwar hingga korban terjatuh dan bersimbah darah. Padahal, Anwar mengaku tidak terlibat adu mulut dengan pelaku.

“Seketika wajah saya berdarah dan saya terjatuh. Tak lama kemudian, sekitar 10 orang teman pelaku ikut mengeroyok. Saya diinjak-injak tanpa belas kasihan dalam posisi terbaring,” ungkapnya pilu.

Dalam kondisi terluka parah, Anwar berhasil melarikan diri dan meminta bantuan warga untuk diantar ke Polres Halmahera Barat guna membuat laporan polisi malam itu juga. Karena kondisi fisik yang melemah dan pusing, ia kemudian meminta petugas membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis sekaligus visum.

Setelah sepekan laporan dibuat, Anwar merasa tidak puas dengan progres penanganan kasusnya. Saat mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) untuk mempertanyakan perkembangan kasus pada Senin (20/4), ia justru mendapatkan jawaban yang mengecewakan.

“Petugas di SPKT mengatakan mereka masih sibuk menangani banyak kasus dan meminta saya bersabar. Bahkan, ada petugas yang mengklaim dua terduga pelaku sudah diamankan di sel, tapi saat saya cek sendiri ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam,” tegas Anwar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak kepolisian terkait perkembangan laporan tersebut. Transparansi dan keseriusan aparat penegak hukum dalam menangani aksi premanisme di ruang publik kini menjadi harapan besar bagi korban dan masyarakat setempat guna menghindari spekulasi negatif. (adi/tan)