NUANSA, JAILOLO – Proyek pembangunan bronjong oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara di wilayah terdampak banjir Kecamatan Ibu dan sekitarnya, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Warga lokal dilibatkan langsung dalam penyediaan material kayu untuk proyek tersebut.
Nayo, salah seorang warga setempat, mengaku dirinya bersama beberapa rekan dipercaya untuk memasok kebutuhan kayu dalam pekerjaan bronjong tersebut. “Ada dua jenis kayu yang kami ambil, yaitu kayu sigigi dan gigi tipi (nama lokal). Kami mengambil kayu itu untuk kebutuhan bersama dan tidak asal-asalan. Kayu yang diambil harus kayu keras, tidak mungkin kami mengambil kayu yang lombo (rapuh),” ujar Nayo, Rabu (10/6).
Menanggapi adanya isu bahwa material kayu yang digunakan tidak sesuai standar, Nayo langsung menepisnya. Ia menegaskan bahwa seluruh kayu yang dikumpulkan memiliki kualitas yang kuat. “Kalau ada yang bilang kayu tidak sesuai, itu kayu yang mana? Setahu saya, ada beberapa jenis kayu yang kami bawa dan semuanya bertekstur keras. Kayu-kayu itu juga biasa kami gunakan sehari-hari,” lanjutnya.
Nayo menegaskan, warga tidak ingin mengambil risiko dengan memasok kayu kualitas rendah. Apalagi, proyek bronjong ini dibangun untuk melindungi keselamatan warga dari ancaman banjir susulan. “Saya tahu persis bangunan bronjong ini berfungsi sebagai pelindung struktur tanah dan pemukiman. Jadi, tidak mungkin saya berani mengambil kayu yang lombo (lembek/rapuh),” tambahnya.
Menurut Nayo, permintaan dari pihak pelaksana proyek adalah menghindari jenis kayu putih yang kualitasnya rendah. “Kami tetap mengambil kayu putih, tapi hanya yang bertekstur keras karena peruntukannya untuk bronjong. Kehadiran proyek ini sangat mengubah dan membantu ekonomi harian kami,” ungkapnya, sembari menambahkan bahwa sejauh ini proses pengambilan kayu berjalan lancar tanpa kendala.
Senada dengan Nayo, warga lainnya bernama Peris juga menegaskan bahwa isu miring mengenai kualitas kayu tersebut sama sekali tidak benar. Menurutnya, mustahil warga setempat ingin mencelakai daerahnya sendiri dengan memberikan material yang buruk.
“Isu terkait pengambilan kayu yang tidak sesuai itu tidak benar. Ini untuk daerah kami sendiri, jadi tidak masuk akal kalau kami mengambil kayu yang lombo. Pasti kami cari yang paling kuat,” tegas Peris.
Bagi Peris, proyek dari BWS Maluku Utara ini menjadi berkah tersendiri di tengah kesulitan ekonomi pascabencana. Penghasilan dari memasok kayu tersebut langsung ia alokasikan untuk pendidikan anaknya. “Proyek ini sangat membantu, terutama untuk biaya sekolah anak. Saya bisa membiayai kuliah anak saya berkat pekerjaan ini. Jujur saja, kebetulan waktu itu kami sedang tidak memegang uang sama sekali,” akunya.
Peris mengaku sangat bersyukur atas adanya proyek penanggulangan bencana yang padat karya tersebut. “Tiba-tiba mendapat pekerjaan ini, saya sangat bersyukur. Sangat menunjang biaya kuliah anak saya. Harapannya, mudah-mudahan ke depan masih ada tambahan permintaan pasokan kayu lagi,” pungkasnya. (red)












