Opini  

Obituari Nam Rumkel: Kepergian Seorang Guru yang Mengajarkan Kesederhanaan 

 Oleh: Abdul Kadir Bubu 

_________________

TIDAK semua orang dikenang karena jabatan yang pernah disandang. Ada yang tetap hidup dalam ingatan justru karena ketulusan sikap, kerendahan hati, dan pengabdian yang dijalani tanpa banyak kata. Demikianlah sosok Nam Rumkel, dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun, yang telah berpulang menghadap Sang Pencipta.

Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, kolega, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Khairun. Bagi kami yang mengenalnya, kehilangan ini bukan sekadar berpisah dengan seorang rekan kerja, melainkan dengan seorang guru yang selama hidupnya memilih berjalan dalam kesederhanaan.

Di tengah dunia akademik yang sering diwarnai kompetisi dan pencarian pengakuan, almarhum justru memperlihatkan bahwa kehormatan seorang dosen tidak lahir dari gemerlap jabatan ataupun banyaknya pujian, melainkan dari kesetiaan menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Mengajar bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi merupakan bentuk pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan kepada generasi yang akan datang. Itulah jalan yang beliau tempuh sepanjang hidupnya.

Kesederhanaan adalah bahasa yang paling tepat untuk menggambarkan almarhum. Beliau hadir apa adanya, berbicara dengan santun, memperlakukan setiap orang dengan hormat tanpa memandang kedudukan, dan menjalani kehidupan kampus dengan ketenangan yang meneduhkan. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau tidak pernah menempatkan dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Sikap rendah hati itulah yang membuat banyak orang merasa dekat dengannya.

Sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun, almarhum telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendidik mahasiswa memahami hukum, bukan hanya sebagai kumpulan norma, tetapi juga sebagai nilai yang harus menghadirkan keadilan dan kemanusiaan. Barangkali tidak semua pelajaran yang beliau sampaikan akan diingat oleh para mahasiswa, tetapi keteladanan hidup beliau akan tetap tinggal dalam ingatan mereka jauh lebih lama daripada materi kuliah yang pernah diajarkan.

Dalam tradisi akademik, seorang dosen sejatinya meninggalkan dua warisan. Warisan pertama adalah ilmu pengetahuan yang disampaikan kepada para mahasiswanya. Warisan kedua adalah teladan hidup yang membentuk karakter mereka. Almarhum telah mewariskan keduanya dengan cara yang sederhana, tenang, dan tanpa pernah menuntut penghargaan.

Hari ini, ruang-ruang kuliah mungkin akan terasa berbeda. Lorong-lorong kampus akan kehilangan satu sosok yang selama ini menjadi bagian dari denyut kehidupan akademik Fakultas Hukum Universitas Khairun. Namun, sesungguhnya manusia tidak benar-benar pergi ketika nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup dalam diri orang-orang yang pernah mengenalnya.

Selamat jalan, sahabat, guru, dan kolega.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, serta menempatkanmu di tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan menghadapi kehilangan ini.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Kepergianmu meninggalkan duka, tetapi keteladananmu akan tetap menjadi bagian dari ingatan kami. Seorang guru boleh berpulang, namun nilai-nilai yang diajarkannya akan terus hidup dalam setiap murid dan sahabat yang pernah mengenalnya. (*)