Opini  

Generasi Cemas di Negeri Tambang

Oleh: Syaiful bahry

Mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

___

Masa depan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa kaya sumber daya alamnya, tetapi oleh seberapa siap generasi mudanya menghadapi masa depan.”

Maluku Utara sedang berada pada persimpangan sejarah. Di satu sisi, provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Industri pengolahan berkembang, investasi masuk, pembangunan berjalan, dan kebutuhan tenaga kerja terus muncul. Di sisi lain, di tengah gemerlap pertumbuhan ekonomi tersebut, ada pertanyaan yang tidak boleh kita abaikan. Apakah anak muda Maluku Utara benar-benar sedang menuju generasi emas, atau justru sedang tumbuh menjadi generasi yang cemas menghadapi masa depan? Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, pertanyaan ini perlu diajukan agar pembangunan tidak hanya berbicara tentang angka investasi, produksi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kondisi psikologis manusia yang akan mewarisi masa depan Maluku Utara.

Di tengah kekayaan, muncul kecemasan

Maluku Utara memiliki peluang ekonomi yang besar. Namun peluang ekonomi tidak selalu otomatis berubah menjadi peluang bagi seluruh anak muda. Data BPS menunjukkan bahwa pada Februari 2026 Tingkat Pengangguran Terbuka Maluku Utara mencapai 4,46 persen. Bahkan proporsi pekerja informal mencapai 63,93 persen, sementara pekerja formal hanya 36,07 persen. Sektor industri pengolahan menjadi lapangan pekerjaan utama dengan proporsi 25,61 persen. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada anak muda yang sedang mengirim lamaran pekerjaan, ada sarjana yang sudah bertahun-tahun mencari pekerjaan sesuai bidangnya, ada lulusan SMA yang bingung memilih bekerja atau melanjutkan pendidikan, ada anak muda yang akhirnya bekerja apa saja karena kebutuhan ekonomi, dan ada pula mereka yang memilih meninggalkan Maluku Utara karena merasa kesempatan di daerah lain lebih terbuka. Di sinilah persoalan psikologis mulai muncul. Ketika seseorang memiliki pendidikan tetapi tidak menemukan kesempatan, yang terancam bukan hanya kondisi ekonominya, tetapi juga harga diri, harapan, dan keyakinan terhadap masa depan.

Kecemasan masa depan menjadi persoalan generasi

Anak muda hari ini hidup dalam tekanan yang berbeda. Mereka menghadapi tuntutan untuk berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan yang baik, memiliki penghasilan, mengikuti perkembangan teknologi, membangun jaringan sosial, sekaligus menghadapi standar kesuksesan yang terus meningkat. Media sosial memperbesar tekanan tersebut. Di layar ponsel, mereka melihat teman sebaya mendapatkan pekerjaan, membeli kendaraan, membangun bisnis, atau tinggal di kota besar. Sementara dirinya mungkin masih bertanya Saya akan menjadi apa? Kapan saya mendapatkan pekerjaan? Apakah saya bisa sukses di daerah sendiri? Haruskah saya meninggalkan Maluku Utara? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat berkembang menjadi future anxiety (kecemasan yang berhubungan dengan ketidakpastian masa depan). Masalahnya, kecemasan yang berlangsung lama dapat memengaruhi motivasi, konsentrasi, kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kemampuan seseorang mengambil keputusan. Karena itu, pembangunan pemuda tidak boleh hanya diukur dari jumlah pelatihan yang diselenggarakan. Kita juga harus bertanya: Apakah anak muda kita masih memiliki harapan?

Generasi emas tidak lahir dari slogan

Kita sering berbicara tentang bonus demografi dan generasi emas Indonesia. Tetapi generasi emas tidak lahir hanya karena jumlah anak muda banyak. Generasi emas membutuhkan pendidikan yang berkualitas, kesehatan mental yang baik, keterampilan yang relevan, lapangan kerja, karakter, kreativitas, dan rasa percaya diri. Jika anak muda memiliki pendidikan tetapi tidak memiliki kesempatan, maka pendidikan dapat berubah menjadi sumber frustrasi. Jika mereka memiliki keterampilan tetapi tidak memiliki akses pekerjaan, maka keterampilan kehilangan ruang aktualisasi. Jika mereka memiliki cita-cita tetapi terus-menerus berhadapan dengan ketidakpastian, maka cita-cita dapat berubah menjadi kecemasan. Karena itu, generasi emas harus dibangun secara utuh.

Manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai tenaga kerja.

Anak muda adalah manusia dengan kebutuhan psikologis, aspirasi, identitas, dan impian. Industrialisasi harus memberi ruang bagi anak muda lokal. Perkembangan industri di Maluku Utara tentu membawa peluang. Namun ada pertanyaan penting. Seberapa besar anak muda lokal memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dari transformasi ekonomi tersebut? Jika industri tumbuh tetapi anak muda lokal hanya menjadi penonton, maka akan muncul jarak psikologis antara pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Sebaliknya, jika anak muda diberi akses pendidikan vokasi, sertifikasi, magang, pelatihan teknologi, kewirausahaan, dan jalur rekrutmen yang jelas, maka industrialisasi dapat menjadi sumber harapan. Karena itu, pembangunan industri harus berjalan bersama pembangunan manusia. Jangan hanya membangun pabriknya, bangun juga manusianya.

Perguruan tinggi harus membaca perubahan zaman

Perguruan tinggi di Maluku Utara juga memiliki tanggung jawab besar. Kurikulum tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Perguruan tinggi harus menghasilkan generasi yang mampu menjawab kebutuhan daerah. Anak muda perlu dibekali bukan hanya dengan teori, tetapi juga keterampilan digital, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kewirausahaan;kemampuan berpikir kritis, literasi finansial, literasi kesehatan mental, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri. Pendidikan harus membuat anak muda memiliki keyakinan, saya mampu menghadapi masa depan. Dalam psikologi berkaitan dengan self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menghadapi dan menyelesaikan tuntutan tertentu. Anak muda yang memiliki self-efficacy kuat tidak berarti tidak pernah takut. Mereka tetap takut, tetapi mereka percaya bahwa ketakutan dapat dihadapi. Jangan sampai anak muda merasa tidak memiliki tempat di tanah sendiri Ini persoalan yang lebih dalam.

Maluku Utara tidak boleh menjadi daerah yang hanya menyediakan sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi, sementara anak mudanya merasa harus pergi untuk menemukan masa depan. Mobilitas anak muda tentu bukan sesuatu yang salah. Pergi untuk belajar, bekerja dan mendapatkan pengalaman adalah hal positif. Yang menjadi persoalan adalah ketika mereka pergi karena merasa di daerah saya sendiri tidak ada masa depan. Kalimat tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat. Karena kehilangan generasi muda bukan hanya persoalan migrasi. Ia juga dapat menjadi kehilangan talenta, kreativitas, kepemimpinan, dan energi perubahan. Kesehatan mental harus masuk agenda pembangunan pemuda. Selama ini kesehatan mental sering ditempatkan sebagai persoalan individu. Padahal kesehatan mental anak muda juga dipengaruhi lingkungan sosial. Pengangguran, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, konflik keluarga, tuntutan sosial, tekanan akademik, hingga pengalaman diskriminasi dapat memengaruhi kondisi psikologis.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memperluas layanan kesehatan mental yang mudah diakses anak muda. Perguruan tinggi harus memiliki sistem konseling yang kuat. Sekolah harus memperkuat layanan psikologis. Organisasi kepemudaan harus menjadi ruang dukungan sosial. Dan keluarga harus menjadi tempat anak muda dapat berbicara tanpa takut dihakimi. Kita tidak boleh menunggu seorang anak muda mengalami krisis baru kemudian bertanya, Mengapa tidak ada yang menolong?

Dari generasi cemas menjadi generasi berdaya

Kecemasan masa depan bukan sesuatu yang harus membuat kita pesimis. Justru kecemasan dapat menjadi alarm untuk memperbaiki sistem. Jika anak muda cemas karena pekerjaan sulit, maka ciptakan ekosistem pekerjaan. Jika mereka cemas karena keterampilan tidak sesuai kebutuhan industri, maka perkuat pendidikan vokasi. Jika mereka cemas karena tidak memiliki modal, maka perluas akses kewirausahaan dan pembiayaan. Jika mereka cemas karena tekanan psikologis, maka hadirkan layanan kesehatan mental. Jika mereka cemas karena merasa tidak memiliki ruang untuk berpartisipasi, maka berikan mereka ruang dalam pengambilan keputusan publik. Jangan hanya berbicara tentang anak muda. Libatkan mereka. Sebab generasi yang terus-menerus dibicarakan tetapi tidak pernah didengarkan akan sulit merasa menjadi bagian dari masa depan.

Maluku Utara harus memilih

Pada akhirnya, pertanyaan generasi emas atau generasi cemas? bukanlah pertanyaan tentang karakter anak muda. Ini adalah pertanyaan tentang lingkungan yang kita ciptakan untuk mereka. Jika kita memberikan pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak, ruang kreativitas, perlindungan sosial, kesehatan mental, kesempatan berwirausaha dan ruang partisipasi, maka anak muda akan memiliki alasan untuk optimis. Tetapi jika mereka hanya diberikan slogan tentang generasi emas tanpa kesempatan nyata, maka kita justru sedang memproduksi generasi yang lelah mengejar masa depan. Maluku Utara memiliki sumber daya alam, Maluku Utara memiliki kekayaan laut, Maluku Utara memiliki industri yang berkembang. Tetapi aset terbesar Maluku Utara sebenarnya bukan nikel, bukan emas, bukan laut, dan bukan tanah. Dan di antara manusia itu, anak muda adalah investasi paling panjang yang dimiliki daerah ini.

Generasi emas tidak lahir dari daerah yang hanya kaya sumber daya, tetapi dari daerah yang mampu membuat anak mudanya percaya bahwa mereka memiliki masa depan.” Karena itu, mari berhenti bertanya apakah anak muda Maluku Utara cukup kuat menghadapi masa depan? Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah kita sudah cukup serius mempersiapkan masa depan untuk mereka? Sebab jika hari ini kita gagal memberi mereka pendidikan, kesempatan, pekerjaan, ruang berkreasi dan rasa aman secara psikologis, maka suatu hari nanti kita mungkin akan menyadari bahwa kita memiliki provinsi yang kaya, tetapi kehilangan generasi yang seharusnya mengelolanya. Maluku Utara tidak boleh hanya menjadi tanah yang kaya. Maluku Utara harus menjadi tanah yang memberi anak mudanya alasan untuk tetap bermimpi, berjuang, dan membangun masa depan di tanahnya sendiri. Daerah boleh kaya akan tambang dan sumber daya alam, tetapi jika anak mudanya masih sulit menemukan pekerjaan, maka kekayaan itu belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan. Semoga menjadi pembelajaran bersama!