google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Daerah  

Warga Morotai Keluhkan Kelangkaan Minyak Tanah, Disperindag Buka Suara

Kepala Dinas Perindagkop-UKM Morotai, Nasrun Mahasari. (Zunajar/NMG)

DARUBA, NUANSA – Warga Kabupaten Pulau Morotai mengeluhkan BBM subsidi jenis minyak tanah yang tak kunjung didistribusikan. Warga mengaku, sudah dua bulan tak mendapatkan stok BBM minyak tanah.

Torang di sini minyak tanah sudah dua bulan belum dapat. Kalau terima biasanya 8 liter per rumah, ada yang 10 liter tapi jarang sekali,” kata Umi, salah satu warga Desa Sangowo Barat, Kamis (10/10).

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Menurutnya, sebagai penunjang bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga, warga hanya menggunakan kayu bakar yang dinilai tak cukup tanpa minyak tanah. Sementara, dengan stok minyak tanah yang tak kunjung disalurkan, warga sering menemukan minyak tanah yang dijual di sejumlah kios dengan harga yang terlampau tinggi.

“Karena biasanya kalau kayu itu torang cuma pakai untuk teru (mendidihkan) air. Ada minyak tanah yang dorang jual di kios tapi terlalu mahal, per liter itu Rp15 ribu,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh warga Desa Sopi, Kecamatan Morotai Jaya. Mereka mengaku hampir tiga bulan tak menikmati BBM minyak tanah.

Torang sudah lama tidak dapat, saya lupa dari kapan tapi sekitar hampir tiga bulan torang tidak dapat minyak tanah. Dorang ini bikin susah torang saja,” kesal Lulu, salah satu warga sekitar.

Terpisah, Kepala Dinas Perindagkop-UKM Morotai, Nasrun Mahasari, mengaku keterlambatan penyaluran BBM minyak tanah ini karena kapal pengangkut masih belum berlabuh.

“Untuk minyak tanah kapal belum masuk, masih pemuatan. Kalau Sangowo Barat bulan September masih ada, belum sempat diangkut oleh sub agen. Jadi Perindagkop sudah menyurat ke pertamina agar kuota September tetap tersedia untuk diangkut bulan Oktober,” ujarnya.

Untuk jadwal pendistribusian sendiri, pihak dinas masih menunggu ditebus oleh sub agen.

“Bulan Oktober diupayakan diangkut semua. Perindagkop awasi semua,
nanti soal kapan diangkut, sub agen yang jawab karena mereka yang tebus atau bayar di agen dan menyalurkan,” pungkasnya. (ula/tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version