google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Opini  

Ketika Pendidikan Gagal Menjaga Nyawa

Nurul Qamariah.

Oleh: Nurul Qamariah

________________

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BEBERAPA hari lalu, publik dikejutkan oleh peristiwa memilukan di Ternate, Maluku Utara. Seorang mahasiswa Universitas Khairun dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri di Rusunawa Unkhair. Berdasarkan keterangan keluarga yang diliput sejumlah media lokal, sebelum kejadian korban sempat menghubungi keluarganya. Ia menyampaikan bahwa banyak nilai mata kuliahnya mengalami kesalahan dan dinyatakan tidak lulus. Dalam kondisi tertekan, korban meminta maaf dan mengungkapkan ketakutannya telah mengecewakan keluarga, terutama orang tuanya.

Memang benar, jika ditelisik dari data statistik, kasus bunuh diri yang berkaitan dengan tekanan pendidikan di Maluku Utara—khususnya Ternate—tidak tergolong tinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Namun, persoalan ini tidak semestinya diukur dari angka semata. Dalam urusan nyawa manusia, satu kasus pun sudah terlalu mahal untuk diabaikan. Sebab, yang patut diselidiki bukan hanya berapa banyak kasus terjadi, melainkan mengapa peristiwa semacam ini bisa muncul.

Jika ditarik dalam skala nasional, fenomena ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data kepolisian mencatat adanya peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia dari sekitar 629 kasus pada tahun 2021 menjadi 887 kasus pada tahun 2022. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret kegelisahan sosial yang semakin nyata. Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan berhenti pada jumlah, melainkan menelusuri akar persoalannya: apa yang membuat begitu banyak manusia muda merasa hidupnya tak lagi bermakna?

Secara global, bunuh diri termasuk salah satu penyebab kematian tertinggi pada rentang usia 15 hingga 29 tahun. Fakta ini menampar optimisme tentang bonus demografi 2045 yang kerap digaungkan. Sebab, generasi muda—termasuk mahasiswa yang digadang-gadang menjadi pemimpin masa depan, kritis, dan berdaya saing—ternyata sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, khususnya dari sisi ketahanan mental dan makna hidup.

Meningkatnya kasus bunuh diri dari tahun ke tahun sejatinya merupakan alarm keras bagi sistem yang berjalan hari ini. Mengapa bunuh diri perlahan menjadi “tren” di kalangan anak muda? Salah satu jawabannya terletak pada arah pendidikan sekuler-kapitalistik yang mendominasi. Dalam sistem ini, mahasiswa kerap diposisikan sebagai “produk ekonomi”. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk insan kāmil, melainkan untuk menghasilkan manusia siap kerja. Keberhasilan direduksi menjadi angka, nilai, dan indeks prestasi. Akibatnya, tekanan internal dan eksternal bertumpuk tanpa ruang pemaknaan yang sehat, hingga sebagian individu merasa tidak memiliki jalan keluar selain mengakhiri hidup. Ini bukan semata kegagalan akademik, melainkan krisis makna dan kerapuhan mental yang lahir dari sistem.

Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian duniawi. Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya ‘Ihya’ Ulumuddin’ menegaskan bahwa ilmu yang tidak mengantarkan manusia pada ketakwaan, akhlak mulia, dan ketaatan kepada Allah adalah ilmu yang sia-sia. Pandangan ini sangat kontras dengan sistem sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai spiritual dan moral, sehingga pendidikan kehilangan fungsi utamanya sebagai pembina jiwa dan akal manusia.

Tragedi bunuh diri yang terjadi di Ternate bukan sekadar kisah duka personal, melainkan peringatan keras atas arah pendidikan yang sedang kita jalankan. Ketika pendidikan dibangun di atas logika sekuler-kapitalistik, manusia direduksi menjadi angka, prestasi, dan produktivitas. Maka tidak mengherankan jika kegagalan akademik terasa seperti kegagalan hidup, sebab sistem ini tidak pernah membekali manusia dengan tujuan hidup yang benar dan kokoh.

Islam hadir dengan paradigma yang berbeda. Pendidikan dalam Islam bukan untuk mencetak manusia siap kerja semata, melainkan membentuk insan beriman dan bertakwa—manusia yang sadar akan tujuan hidupnya, kuat jiwanya, dan tidak runtuh hanya karena kegagalan duniawi. Selama pendidikan terus dipisahkan dari iman dan ketakwaan, selama manusia diukur dengan standar materi semata, krisis jiwa akan terus berulang, meskipun angka statistiknya tampak kecil.

Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya: membimbing manusia agar semakin dekat kepada Allah, semakin matang akalnya, dan semakin kokoh menghadapi kehidupan. Sebab pendidikan yang sejati bukan sekadar meluluskan, melainkan menyelamatkan. (*)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version