TERNATE, NUANSA – Yayasan Rumah Konseling Maluku Utara prihatin maraknya kasus dugaan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang belakangan kembali mencuat di wilayah Malut, terutama di Kabupaten Pulau Morotai.
Lembaga ini meminta pemerintah daerah untuk aktif melakukan langkah pencegahan, salah satunya menyediakan sentral layanan konseling terpadu di seluruh kabupaten/kota se-Malut.
Direktur Yayasan Rumah Konseling Malut, Ikhwanul Kiraam J Saleh, mengatakan setelah pihaknya membaca informasi pemberitaan di media massa terkait dugaan pelecehan seksual yang dialami lima orang remaja yang berstatus pelajar di Pulau Morotai, kini muncul lagi seorang pria di daerah yang sama melakukan dugaan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, yang tak lain merupakan keponakannya sendiri.
Ikhwanul menegaskan, hal ini perlu adanya keseriusan pemerintah daerah maupun seluruh Lembaga Kemasyarakatan dalam melakukan upaya deteksi dini, agar terciptanya lingkungan yang kondusif dan tenteram bagi setiap masyarakat yang beraktivitas.
“Maraknya pemberitaan kasus kekerasan, pelecehan, dan upaya pemerkosaan, ini sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak remaja. Tentu hal ini menciptakan rasa was-was dan ketakutan serta trauma dalam beraktivitas,” ujar Ikhwanul, Senin (20/4).
Ia menambahkan, jika pemerintah provinsi serius melakukan upaya deteksi dini dalam pencegahan maraknya kasus-kasus asusila tersebut, maka pihaknya secara kelembagaan menawarkan program sentral layanan konseling terpadu di seluruh kabupaten/kota.
“Seluruh tenaga ahli baik psikolog/konselor serta seluruh lembaga kemasyarakatan juga dilibatkan. Soal teknisnya nanti kita tindaklanjuti, yang terpenting kami butuh kepekaan dan responsif dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” tegasnya. (tan)











