Breakwater Kawasi Diperkuat, Perkuat Mitigasi dan Pengelolaan Lingkungan Pesisir

Breakwater yang terintegrasi dengan pengelolaan air di darat untuk penahan abrasi dan upaya pencegahan sedimen (Dok. Istimewa)

NUANSA, LABUHA — Upaya penguatan infrastruktur pesisir terus dilakukan di kawasan industri Harita Nickel di Pulau Obi sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan yang adaptif. Salah satunya melalui penguatan breakwater atau pemecah gelombang di area pesisir Kawasi.

Breakwater merupakan struktur pelindung pantai yang dibangun untuk meredam energi gelombang laut, mengurangi abrasi, serta menjaga stabilitas area pesisir dan fasilitas pendukung di belakangnya. Dalam sistem pesisir industri, keberadaan breakwater juga membantu menciptakan area perairan yang lebih tenang untuk mendukung pengendalian air tawar sebelum masuk ke perairan laut.

Di area belakang (hinterland) breakwater tersebut terdapat pengelolaan lingkungan air kawasan yang terhubung dengan Kanal Todoku. Konstruksi dilakukan setelah mendapat perizinan dari instansi berwenang. Adanya breakwater mengurangi efek arus masuk air laut saat air laut pasang secara langsung. 

Tokoh masyarakat Desa Kawasi, Hamja Lewer, menjelaskan bahwa Kanal Todoku pada awalnya sulit dimasuki perahu. Menurutnya, pelebaran saluran dan pendalaman serta adanya tanggul laut akan memperlancar jalur air dan menjawab kebutuhan masyarakat, terutama saat curah hujan tinggi. 

“Dulu warga meminta Todoku agar diperluas supaya bisa menjadi penahan limpasan air ketika hujan,” ujar Hamja.

Peneliti Center of Environment and Sustainability Science Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan Arief, menilai langkah-langkah seperti penguatan breakwater dan sistem pendukungnya merupakan bagian dari pendekatan adaptive management dalam tata kelola lingkungan industri.

“Semua sektor aktivitas manusia memiliki dampak terhadap lingkungan. Yang menjadi penting bukan apakah risiko itu ada atau tidak, tetapi bagaimana risiko tersebut dapat dikelola, dimitigasi, dan dievaluasi secara berkelanjutan,” ujar Candra.

Menurutnya, monitoring lingkungan harus dilakukan secara terus-menerus karena kondisi lingkungan bersifat dinamis dan selalu merespons aktivitas manusia. Dalam konteks kawasan pesisir, penguatan infrastruktur perlindungan seperti breakwater menjadi bagian dari sistem mitigasi yang dapat terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Pendekatan ini mencerminkan sistem pengelolaan adaptif (adaptive management), di mana tata kelola lingkungan tidak bersifat statis, tetapi dinamis dan terus menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi, termasuk cuaca, pola arus, maupun karakteristik sedimentasi.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi menjadi proses berkelanjutan yang berbasis pemantauan, evaluasi, dan perbaikan secara konsisten. (red)