Oleh: Rusydan Arby
Direktur Determinan Research
________________
BEBERAPA minggu terakhir saya menghabiskan waktu turun langsung research ke Sofifi, menyusuri jalan utamanya dari pagi hingga menjelang malam, mencatat apa yang berubah dan apa yang tetap sama sejak kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya setiap kali kaki menapak di sana: kota ini terasa sepi dengan cara yang aneh. Bukan sepi seperti desa yang memang belum ramai, tapi sepi seperti kota yang “dipaksa jadi kota” lewat surat keputusan, lalu ditinggal sendirian menunggu kehidupan menyusul di belakangnya. Dari situ saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya bentuk ruang macam apa yang sedang terbentuk di Sofifi, dan apakah bentuk itu punya cukup modal untuk benar-benar hidup sebagai kota.
Untuk membaca kegelisahan itu, saya kembali ke dua kerangka teori yang selama ini menjadi pegangan saya dalam melihat morfologi kota. Yang pertama adalah gagasan lama Kevin Lynch dalam The Image of the City (1960), yang mengajak kita membaca kota lewat lima elemen: jalur (paths), tepian (edges), distrik (districts), simpul (nodes), dan penanda (landmarks). Ketika saya coba memetakan Sofifi lewat lensa Lynch selama turun lapangan, yang muncul justru minim—jalur utamanya jelas, tapi nyaris tidak ada simpul atau landmark yang benar-benar hidup sebagai titik pertemuan warga. Kompleks kantor gubernur memang mencolok secara visual, tapi ia lebih berfungsi sebagai penanda kekuasaan ketimbang node sosial tempat orang berkumpul, ngobrol, atau sekadar duduk-duduk.
Teori kedua yang terus saya bawa selama observasi adalah gagasan Jane Jacobs tentang urban vitality dalam The Death and Life of Great American Cities (1961). Jacobs menekankan bahwa kota yang hidup lahir dari percampuran fungsi, blok jalan pendek, kepadatan yang cukup, serta perpaduan bangunan lama dan baru. Saat saya berjalan kaki menyusuri ruas jalan utama Sofifi pukul empat sore—jam yang seharusnya ramai di kota mana pun—saya justru hanya menemukan trotoar kosong, warung-warung kecil yang tutup lebih awal, dan blok-blok bangunan pemerintahan yang berjarak jauh satu sama lain sehingga sulit dijangkau dengan berjalan kaki. Prinsip-prinsip Jacobs itu, dalam catatan lapangan saya, nyaris seluruhnya berjalan terbalik di Sofifi.
Dari pengamatan langsung itu, morfologi Sofifi tampak jelas: kawasan perkantoran mendominasi, memanjang mengikuti garis pantai dan jalan Trans Halmahera, dengan blok-blok besar dan jarang. Saya sempat mencoba berjalan dari satu kantor dinas ke kantor dinas lain—jarak yang di peta terlihat dekat, tapi di lapangan terasa jauh karena tidak ada jaringan jalan sekunder yang memecah blok-blok besar tersebut. Fungsi lahan sangat monofungsional: rumah dinas, kantor OPD, dan ruang terbuka yang belum terbentuk jadi ruang publik yang benar-benar dipakai. Percampuran fungsi ala Jacobs nyaris tidak ada.
Salah satu percakapan yang paling membekas selama turun lapangan adalah dengan seorang pegawai dinas yang saya temui di warung kopi dekat kompleks perkantoran. Ia bercerita bahwa keluarganya tetap tinggal di Ternate, dan ia sendiri hanya menyeberang dengan kapal cepat, feri atau speedboat setiap pekan untuk bekerja di Sofifi, lalu kembali di akhir pekan. Pola commuting lintas pulau semacam ini, yang saya temukan berulang dalam obrolan-obrolan informal selama beberapa minggu observasi, menjelaskan secara langsung mengapa kepadatan permukiman di Sofifi tidak kunjung terbentuk secara organik—dan mengapa simpul-simpul sosial dalam kerangka Lynch maupun vitalitas ala Jacobs sulit tumbuh, karena sebagian besar penghuni kota ini sebenarnya tidak benar-benar “tinggal” di sana.
Topografi turut memperberat situasi ini. Selama menyusuri kawasan di belakang jalan utama, saya melihat sendiri bagaimana kontur berbukit dan tutupan hutan membatasi ruang yang tersedia untuk ekspansi permukiman, sehingga sebagian besar pembangunan terkonsentrasi tipis di sepanjang pesisir. Kombinasi antara keterbatasan lahan datar dan pola commuting ke Ternate ini membentuk apa yang, dalam catatan lapangan saya, mulai terasa seperti gejala “ghost capital”: kota administratif yang ramai di jam kerja, lalu benar-benar kosong begitu matahari terbenam.
Menutup catatan dari lapangan ini, saya semakin yakin bahwa membaca Sofifi lewat Lynch dan Jacobs bukan sekadar latihan teoretis, melainkan alat diagnostik yang sangat konkret. Jika arah pembangunan ke depan ingin benar-benar menghidupkan Sofifi sebagai kota, bukan hanya sebagai simbol administratif, maka intervensi tata ruang perlu secara sengaja menciptakan simpul-simpul sosial yang imageable, memecah blok-blok besar menjadi jaringan jalan yang lebih manusiawi, dan mendorong percampuran fungsi serta insentif bermukim. Setiap kali saya pulang dari Sofifi, pertanyaan itu selalu saya bawa pulang juga: kota ini punya banyak kantor, tapi kapan ia akan punya kehidupan?. (*)
