google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pala-Cengkih Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Identitas dan Masa Depan Maluku Utara

TERNATE, NUANSA – Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, mewakili Gubernur Sherly Tjoanda Laos membuka secara resmi Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI di Halmahera Room Bela Hotel Ternate, Senin (21/9).

Pertemuan ini dihadiri perwakilan FAO Regional Asia Pasifik, FAO Indonesia dan Timor Leste, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI yang diwakili Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara Warsita, pimpinan OPD Maluku Utara, serta tamu undangan lainnya.

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Sekda Samsuddin, bahwa Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI dan FAO yang telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pangan dan pertanian di Maluku Utara.

“Pertemuan ini memiliki arti yang sangat penting. Yang sedang kita bicarakan bukan sekadar persoalan komoditas, bukan semata-mata persoalan produksi, tetapi menyangkut masa depan sumber daya genetik, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan petani, dan warisan pengetahuan masyarakat untuk generasi mendatang,” ujar Samsuddin.

Ia menjelaskan, Maluku Utara memiliki posisi istimewa dalam sejarah dunia. Bangsa-bangsa Eropa datang ke wilayah ini karena daya tarik cengkih dan pala yang menjadi primadona perdagangan dunia. Bahkan penemuan Maluku Utara oleh bangsa Eropa menjadi titik awal pembuktian bahwa bumi itu bulat, ketika pelaut Spanyol yang tiba di Tidore bertemu dengan Portugis yang sudah ada di Ternate.

“Ketika kita berbicara tentang konservasi pala dan cengkih di Maluku Utara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan alam, warisan budaya, sejarah perdagangan dunia, dan identitas Maluku Utara,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan pentingnya konservasi dengan tantangan global saat ini. Seperti program Carbon Trading di Norwegia yang memberikan penghargaan kepada negara-negara yang menjaga hutannya. Hal ini menjadi peluang bagi Maluku Utara sebagai provinsi dengan kekayaan hutan dan biodiversitas tinggi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, yang mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, menjelaskan bahwa sumber daya genetik tanaman merupakan aset strategis bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Program CDC-SUI atau Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia hadir sebagai kerja sama Kementerian Pertanian dan FAO yang didukung Global Environment Facility (GEF).

Program ini dilaksanakan di tiga provinsi dan delapan kabupaten, meliputi Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, dan Maluku Utara, dengan fokus pada lima komoditas utama yakni padi, talas, uwi, pala dan cengkih.

“Maluku Utara memiliki peran yang begitu penting. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam perdagangan rempah khususnya pala dan cengkih, dan menjadi pusat penting keanekaragaman genetik atau center of origin bagi kedua komoditas tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil identifikasi di beberapa kawasan seperti Gunung Sibela Halmahera Selatan masih banyak terdapat kerabat liar atau wild relative dari pala dan cengkih. Kekayaan ini adalah bank genetik abadi yang perlu dikonservasi.

Di Tidore Kepulauan, lebih dari 85 persen masyarakat memiliki tanaman pala dan atau cengkih dengan luas budidaya pala mencapai 5.868,8 hektare dan cengkih 891,4 hektare. Namun sebagian besar tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun dan masih dijual dalam bentuk biji pala dan cengkih kering sehingga nilai tambah di tingkat petani masih sangat terbatas.

Sementara di Halmahera Selatan, lokasi penting seperti Bacan, Makian, Kayoa, Mandioli, Gunung Sibela, Desa Gandasuli dan Desa Marabose menjadi fokus kegiatan konservasi, karakterisasi, penguatan Custodian Farmer hingga akses diversifikasi pasar.

“Kami menargetkan lahirnya lebih dari 50 Custodian Farmers atau petani pelestari di Maluku Utara yang akan mendapatkan pengakuan formal serta paket insentif nyata seperti alat pertanian, pupuk organik, bibit unggul, hingga solar dryer. Insentif ini disusun berdasarkan Farm Conservation Plan yang diformulasikan oleh petani itu sendiri,” jelasnya.

Melalui intervensi mutu pasca panen tersebut, pendapatan petani diproyeksikan dapat meningkat sekitar 15 hingga 25 persen dengan target penerima manfaat langsung sekitar 5.110 orang dan 50 persen di antaranya adalah perempuan.

Ia menegaskan, keberadaan forum Technical Working Group ini sangat krusial untuk merumuskan harmonisasi kebijakan lintas sektoral antara kawasan hutan, kebun rakyat, dan tanah adat, sebagai wujud nyata sinergi pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dalam menjaga warisan sumber daya genetik bersama. (tan)

google.com, pub-1253583969328381, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Exit mobile version