Kenal Lebih Dekat Rizal Marsaoly dengan Gagasan Besarnya
Nama Rizal Marsaoly sudah tak asing lagi bagi warga Kota Ternate. Pria kelahiran Ternate pada 30 September 1976 itu kini aktif sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate. Selain pernah menjabat Kepala Bappelitbangda, ia juga pernah menduduki posisi Kepala Disperkim dan Kepala Dinas Pariwisata Ternate. Komitmennya membangun Ternate tak perlu diragukan lagi. Salah satu gagasan yang pernah ia dorong adalah Ternate Kota Rempah sebagai city branding, dengan mengaitkan sejarah cengkeh, dan pala. Berikut laporan Jurnalis Nuansa Media Grup (NMG)
Syahruddin Kadir — TERNATE
Ternate tidak pernah benar-benar tidur. Ketika matahari merekah dari ufuk timur kaki langit, wajah kota justru perlahan berubah. Ruang-ruang publik mulai dipenuhi warga. Anak-anak bermain, anak muda berkumpul, komunitas menampilkan karya, pelaku UMKM menawarkan dagangan, sementara keluarga menikmati suasana kota. Suasana yang sama juga terlihat pada malam hari.
Di tengah denyut kehidupan itu, ada satu gagasan yang terus didorong, yakni kota bukan hanya tentang bangunan, jalan, dan infrastruktur. Kota juga tentang manusia yang menghidupkannya. Di balik gagasan besar itu muncul satu nama yang tak pernah henti-hentinya mendorong agar Ternate tak sebatas dikenal di Indonesia, tapi menjadi Kota Dunia. Dia adalah Rizal Marsaoly.
Di benak Rizal, ruang publik harus menjadi milik semua orang. Idenya itu tak sekadar wacana, tapi diimplementasikan secara massif. Ia membayangkan ruang-ruang di Kota Ternate bukan sekadar tempat yang dilalui warga, tapi jauh dari itu, yakni tempat di mana kreativitas tumbuh, komunitas bertemu, usaha kecil bergerak, dan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menikmati kota bersama-sama.
Ide dan gagasan besar itu berkelindan dengan komitmennya terhadap pengembangan ekonomi kreatif. Ketika kreativitas menjadi kekuatan, Kota Ternate memiliki modal yang tidak sedikit. Sejarah panjang, budaya, tradisi, kuliner, kerajinan, seni, panorama alam, dan karakter masyarakatnya adalah kekayaan yang dapat diterjemahkan menjadi berbagai bentuk kreativitas.
Di sinilah Rizal melihat pentingnya membangun ekosistem. Pelaku ekonomi kreatif tidak cukup hanya diberi kesempatan tampil. Mereka membutuhkan ruang untuk berekspresi, bertemu konsumen, membangun jejaring, mempromosikan produk, dan mengembangkan usaha. Anak muda yang memiliki kemampuan musik membutuhkan panggung. Perajin membutuhkan ruang untuk memperkenalkan karya. Pelaku kuliner membutuhkan tempat untuk menjajakan produk. Komunitas membutuhkan ruang berkegiatan. Kreator digital membutuhkan ekosistem yang memungkinkan ide-ide mereka berkembang. Belakangan ini, Pemkot Ternate telah mempraktikkannya di kawasan Benteng Oranje dan lapangan Ngaralamo, Soasio. Di dua titik ini bukan sebatas ruang untuk pelaku kuliner dan kedai kopi, tapi menjadi titik perjumpaan anak muda dengan percakapan-percakapan hebatnya.
Ekonomi kreatif bagi Rizal bukan sekadar urusan menghasilkan produk. Ia adalah tentang bagaimana sebuah kota mampu menciptakan lingkungan yang membuat kreativitas warganya tumbuh. Ada perbedaan antara ruang yang tersedia dan ruang yang benar-benar hidup.
Sebuah ruang publik baru terasa berarti ketika warga datang, berinteraksi, dan mengisinya dengan berbagai aktivitas positif. Karena itu, semangat yang terus dibangun Rizal adalah menjadikan ruang publik Ternate terbuka bagi semua kalangan.
Anak-anak, remaja, orang tua, komunitas, pelaku UMKM, seniman, atlet, hingga kelompok masyarakat lainnya harus memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan dan menikmati ruang kota. Ruang publik yang hidup menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang sering kali tidak direncanakan. Seorang pelaku usaha bisa bertemu pelanggan baru. Komunitas seni bisa menemukan kolaborator. Anak muda bisa menemukan ruang untuk menunjukkan kemampuan. Sebuah produk lokal bisa dikenal lebih luas.
Rizal melihat keramaian ruang publik bukan sebatas menghadirkan keramaian. Yang lebih penting adalah menghadirkan aktivitas yang produktif, kreatif, aman, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, generasi muda Ternate memiliki cara baru dalam melihat kota mereka. Mereka tidak hanya menjadi penonton. Mereka adalah pembuat konten, musisi, fotografer, desainer, pelaku fesyen, pengusaha kuliner, perajin, pekerja kreatif digital, dan penggerak komunitas.
Tentu saja, potensi itu membutuhkan ruang. Ruang untuk mencoba, ruang untuk gagal, ruang untuk belajar, dan, yang tidak kalah penting, ruang untuk bertemu dengan orang lain. Karena itu, pengembangan ruang publik memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik. Ia menyangkut bagaimana kota memberikan kesempatan kepada generasi mudanya untuk menjadi bagian dari perubahan.
Menurut Rizal, kreativitas anak muda harus dipandang sebagai aset kota. Ketika mereka mendapatkan ruang untuk berekspresi dan berkembang, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya. Bayangkan sebuah ruang publik yang dipenuhi aktivitas. Ada pertunjukan musik di satu sudut. Di sisi lain, pelaku UMKM menjajakan makanan dan produk lokal. Komunitas fotografi mengabadikan suasana. Anak-anak bermain. Keluarga menikmati sore. Anak muda berbagi ide dan memperkenalkan karya mereka.
Keramaian seperti itu bukan sekadar pemandangan kota. Ada transaksi ekonomi di dalamnya. Ada promosi produk lokal. Ada interaksi sosial. Ada peluang kolaborasi. Ada karya yang diperkenalkan kepada publik. Inilah titik temu antara ruang publik dan ekonomi kreatif. Ketika ruang publik hidup, ekonomi kecil ikut bergerak. Ketika ekonomi kreatif tumbuh, ruang publik memiliki semakin banyak aktivitas untuk ditampilkan. Keduanya saling menguatkan.
Di tengah arus globalisasi, kota-kota di berbagai belahan dunia menghadapi tantangan yang sama: bagaimana berkembang tanpa kehilangan identitas. Ternate memiliki cerita yang panjang. Rempah-rempah, Kesultanan, laut, gunung, tradisi, kuliner, dan kebudayaan adalah bagian dari identitas yang membentuk karakter kota. Bagi pengembangan ekonomi kreatif, semua itu merupakan sumber inspirasi.
Cerita lokal dapat menjadi desain. Tradisi dapat menjadi karya. Kuliner dapat menjadi produk unggulan. Musik dan seni dapat menjadi pertunjukan. Lanskap kota dapat menjadi inspirasi fotografi dan konten digital. Dengan kreativitas, identitas lokal tidak harus menjadi sesuatu yang hanya dikenang. Ia dapat terus hidup dan menemukan bentuk baru.
Pada akhirnya, membangun kota bukan hanya soal seberapa tinggi gedung berdiri atau seberapa panjang jalan terbentang. Ada ukuran lain yang tidak selalu terlihat. Ukuran itu adalah seberapa banyak ruang yang dimiliki masyarakat untuk berkarya; seberapa mudah mereka bertemu dan berkolaborasi; serta seberapa besar kesempatan yang tersedia bagi kreativitas untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.
Di situlah Rizal Marsaoly menempatkan komitmennya. Mendorong ekonomi kreatif dan menghidupkan ruang publik bukan dua agenda yang berdiri sendiri. Keduanya bertemu pada satu tujuan: menciptakan kota yang memberi ruang kepada warganya untuk tumbuh. Ternate memiliki banyak cerita. Tetapi cerita tentang masa depannya tidak hanya akan ditulis oleh sejarah.
Ia juga akan ditulis oleh anak-anak muda yang berani berkarya, oleh komunitas yang terus bergerak, oleh pelaku usaha yang bertahan, dan oleh warga yang menghidupkan ruang-ruang kotanya. Dan mungkin, wajah Ternate di masa depan akan semakin kuat ketika kreativitas tidak lagi hanya menjadi potensi, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebab kota yang benar-benar hidup bukanlah kota yang sekadar ramai. Kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang kepada semua orang untuk menjadi bagian dari ceritanya.
Yang harus disadari semua pihak, dalam upaya memperkuat ekonomi kreatif, dibutuhkan sosok pengembang ekonomi kreatif yang mampu menjembatani ide, pelaku, ruang, dan peluang. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga dengan membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Pengembang ekonomi kreatif dapat membantu memetakan potensi lokal, mendampingi pelaku usaha, membuka akses pasar, mempertemukan komunitas dengan mitra, serta mendorong lahirnya kolaborasi baru. Dengan begitu, kreativitas tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi usaha dan sumber penghidupan.
Di Ternate, peran tersebut penting untuk menghubungkan pelaku seni, budaya, kuliner, fesyen, kerajinan, pariwisata, teknologi, dan sektor kreatif lainnya. Setiap potensi membutuhkan pendampingan, promosi, penguatan kapasitas, serta ruang untuk bertumbuh. Pengembang ekonomi kreatif juga dapat menjadi penghubung antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor akan membuat berbagai program lebih terarah dan memberi dampak yang lebih luas. Dengan adanya pengembang ekonomi kreatif, ruang publik dapat dikelola bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai pusat aktivitas kreatif, pembelajaran, promosi, dan pergerakan ekonomi masyarakat. (*)










