TERNATE, NUANSA — Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi melepas 40 peserta program wisata rohani ke Yerusalem, di aula pertemuan Batik Hotel Ternate, Senin (5/10). Dalam sambutannya, Sarbin menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menerapkan prinsip keadilan sosial, transparansi regulasi, serta penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam pelaksanaan program ibadah ini.
Sarbin menjelaskan bahwa alokasi program wisata rohani—baik umrah bagi umat Islam maupun ziarah ke Yerusalem bagi umat Kristiani—diprioritaskan secara ketat bagi tokoh agama, pendeta, ustaz, dan pimpinan jemaat yang belum pernah diberangkatkan sebelumnya. Kebijakan ini diambil demi memberikan kesempatan yang merata bagi para pelayan umat di seluruh wilayah Maluku Utara.
“Program ini untuk keadilan sosial bagi masyarakat. Kami memprioritaskan mereka yang mengurus dan mendampingi umat selama ini, serta memastikan yang berangkat adalah mereka yang belum pernah mendapatkan kesempatan tersebut,” ucap Sarbin.
Di hadapan para peserta, Sarbin juga memberikan klarifikasi terbuka terkait penyesuaian alokasi anggaran dan skema bantuan. Pemprov Maluku Utara memilih untuk merasionalisasi besaran uang saku agar kuota peserta yang diberangkatkan dapat bertambah secara signifikan. Dengan anggaran DPA Biro Kesra yang setara dengan tahun-tahun sebelumnya, namun jumlah peserta berhasil ditingkatkan menjadi 40 orang pada tahap ini.
Selain masalah efisiensi anggaran, Sarbin mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi keuangan daerah (APBD) dan Undang-Undang Kependudukan, khususnya mengenai keabsahan KTP Maluku Utara bagi para penerima manfaat guna menghindari potensi temuan administratif di kemudian hari.
Dalam kesempatan tersebut, Sarbin berpesan agar para peserta menjadikan perjalanan ziarah ini sebagai momentum memperdalam nilai kerohanian dan memperkuat moderasi beragama. Wagub juga berharap para tokoh agama yang berangkat dapat menjadi garda terdepan dalam merawat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Maluku Utara.
“Kami berharap semangat moderasi beragama dan nilai kemanusiaan terus dipertajam. Sepulang dari ziarah, para tokoh agama diharapkan menjadi corong perdamaian dan menjaga persatuan di tengah keberagaman,” tegasnya.
Sementara itu, Karo Kesra Asrul Gailea dalam laporannya menyampaikan bahwa 40 peserta yang diberangkatkan pada tahap pertama ini merupakan pimpinan agama yang mewakili 7 denominasi gereja di Maluku Utara, seperti GMIH, GPM, Katolik, GKPOM, GPDI, dan lainnya. Seluruh fasilitas utama termasuk pengurusan paspor dan akomodasi ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Asrul juga menambahkan bahwa Pemprov Malut telah menyiapkan pemberangkatan wisata rohani tahap kedua dengan jumlah kuota yang sama (40 orang), yang dijadwalkan melangsungkan perjalanan pada akhir November mendatang.
Hadir dalam acara pelepasan itu, Wagub Malut, Karo Kesra, Karo ADPIM serta para peserta dan undangan lainnya.










