SOFIFI, NUANSA – Ibu Kota Sofifi (IKS) semakin semarak dengan warna dan cerita ketika rombongan peserta Kirab Pesona Kie Raha Nusantara melintasi jalanan di pusat kota. Kirab yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kebudayaan ini bukan sekadar perayaan. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menjadikannya ruang untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi muda sekaligus menanamkan karakter berbudaya.
Pada Jumat (9/10) ratusan orang turut ambil bagian dalam kirab budaya kali ini. Mereka terdiri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), komunitas seni dan tari, satuan pendidikan, paguyuban, pelajar se-Oba Utara serta berbagai komunitas yang ada di Maluku Utara. Masing-masing menampilkan atraksi dan kekayaan seni budaya yang memukau penonton.
Kirab Budaya dimulai dari Rumah Dinas Wakil Gubernur, menyusuri Jalan 40 melewati deretan kantor dengan latar belakang gunung Gamalama, dan berakhir di Lapangan Tavamu. Sepanjang jalan, ribuan warga tumpah ruah di pinggir jalan untuk menyaksikan kemegahan kirab, menikmati beragam pertunjukan tradisional hingga kontemporer.
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe mengungkapkan kirab budaya ini bukan sekadar pawai, melainkan wujud nyata pelestarian seni dan budaya yang dimiliki Maluku Utara.
“Maluku Utara bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang terus menjaga warisan budaya leluhur. Kegiatan ini membuktikan bahwa setiap sudut Maluku Utara menyimpan bakat dan potensi luar biasa,” kata Sarbin.
Salah satu momen yang mencuri perhatian ketika Wakil Gubernur didampingi pimpinan OPD dan perwakilan empat kesultanan berbaur berjalan bersama-sama peserta kirab dengan menggunakan pakaian adat. Momen tersebut menjadi simbol kebanggaan dan kesinambungan tradisi di era modern.
Risang, salah satu peserta yang juga ASN menggunakan pakaian adat Jawa, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ditemui.
Lain halnya dengan Egi dan Arie Tarigan, yang masing-masing mengenakan pakaian adat Tobelo serta Batak, mereka tampak sangat antusias berpartisipasi dalam Kirab Budaya tersebut.
Saat ditemui, Egi berharap kegiatan kirab budaya dapat memberikan pemahaman kepada generasi muda pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa serta menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan identitas daerah Maluku Utara.
Di akhir perjalanan, di pelataran Bundaran Tavamu masyarakat membludak menyambut rombongan kirab. Ada pertunjukan tarian dari beberapa peserta, di antaranya Tari Cakalele, Tari Soya-Soya dan Tari Cokaiba. Keindahan perpaduan itu menjadi panggung simfoni warisan, mempertegas identitas Maluku Utara yang kaya dan plural.
Kirab Budaya dalam rangka Hari Jadi Maluku Utara ke-27 ini mempunyai makna ganda: sebagai penghormatan atas akar sejarah dan sebagai pengikat kebersamaan masa kini. Diharapkan dapat menyemai benih budaya agar subur tumbuh, dan dapat dijaga serta dikembangkan terus oleh generasi mendatang. (tan)










