Oleh: Rahmat A Abdina
_______________
TERNATE Kota Sepupu menjadi tren anak muda di Maluku Utara dalam beberapa pekan terakhir. Provinsi paling bahagia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) itu menyematkan ‘gelar’ tersebut kepada Kota Ternate yang penduduknya berjumlah 218.853 Jiwa. Penyematan tersebut bukanlah tanpa alasan, mengingat tingkat kepadatan penduduknya mencapai 1.334 hingga 1.348 jiwa per km² (berdasarkan luas wilayah Kota Ternate sekitar 162,04 km²), memungkinkan adanya ikatan persaudaraan dari garis keturunan Ayah ataupun Ibu. Dalam komunikasi antarpribadi, teori hubungan menjadi instrumen dasar seseorang merasa dekat dan intens menjalin komunikasi dengan orang lain.
Floyd (2011) menggambarkan bahwa dalam hubungan komunikasi antarpribadi ada yang dikenal dengan Attraction Theory. Yang mana teori tersebut menekankan bahwa beberapa faktor yang menjadi alasan orang tertarik dan membangun komunikasi dengan orang tertentu adalah: kesamaan, kedekatan, penguatan, daya tarik fisik dan kepribadian, sosial ekonomi dan status pendidikan. Hessel dan Christiansen (2025) berpendapat bahwa remaja di rentan usia 18–29 tahun merasa lebih dekat, akrab, dan lebih didukung oleh sepupu mereka daripada oleh bibi dan paman.
1. Persamaan (similarity): Pada umumnya persamaan identik dengan kemiripan secara ras, kebangsaan, etnis, suku, bahasa, karakteristik fisik, kecerdasan maupun sikap dan perilaku. Ketertarikan komunikasi jenis ini sebenarnya mampu digunakan untuk membantu orang lain dalam menafsirkan ketertarikan atas dasar persamaan yang dimaksud. Namun, dalam kondisi tertentu, orang justru merasa tertarik pada seseorang yang memiliki perbedaan secara keseluruhan.
2. Kedekatan (Proximity), yaitu kedekatan, atau kedekatan fisik yang merupakan bentuk paling penting di awal tahap interaksi. Pentingnya kedekatan fisik sebagai salah satu faktor dalam teori atraksi menunjukkan bahwa kedekatan yang terjadi secara intens dapat membuat orang-orang yang awalnya tidak saling kenal menjadi saling tertarik. Inilah yang menjadi penyebab mengapa dalam pepatah Jawa dikenal dengan istilah witing tresno jalaran soko kulino. Yang mana dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai dengan kasih sayang itu dapat tumbuh karena kuantitas atau seringnya berinteraksi.
3. Penguatan (reinforcement). Ketertarikan kepada orang lain bisa juga disebabkan karena orang tersebut memberi penguatan terhadap diri kita. Hal tersebut bisa berbentuk bantuan, hadiah atau perlakuan khusus yang mana perlakuan tersebut tidak diberikan kepada orang lain.
4. Fisik dan kepribadian (Physical attractiveness and Personality). Orang juga dapat memiliki ketertarikan pada penampilan fisik lawan bicara. Pada beberapa kesempatan, standar estetika bisa digunakan dalam semua konteks pertemuan termasuk didalamnya ialah budaya. Seperti halnya kita akan memiliki kecenderungan menyukai orang-orang yang menyenangkan dibanding orang yang memiliki kepribadian sebaliknya.
5. Sosial ekonomi dan status pendidikan (Socioeconomic and educational Status). Pada banyak kepercayaan umum menyatakan bahwa diantara heteroseksual laki-laki dan perempuan ialah bahwa laki-laki lebih tertarik pada atribut fisik perempuan, dibandingkan atribut status sosial yang dimiliki oleh seorang perempuan. Sedangkan, kebanyakan perempuan cenderung lebih tertarik pada laki-laki dengan status sosial dan pendidikan tertentu
6. Ketertarikan timbal balik (reciprocity of liking). Ketertarikan kepada orang lain juga dapat terjadi karena adanya ketertarikan timbal balik. Seseorang akan menyukai orang lain yang mempunyai kecenderungan menyukai dirinya.
Kecenderungan diatas mengisyaratkan bahwa kedekatan antarpribadi seringkali dimulai atas dasar kesamaan atau persaudaraan. Sebuah studi di Amerika Serikat yang melibatkan 192 orang remaja berusia rata-rata 25 tahun, dilakukan untuk mengetahui tingkat kedekatan mereka dengan sepupu yang seumuran/sepantaran. Hasilnya menjelaskan bahwa kedekatan antar sepupu bisa dipicu oleh curahan perasaan, pengalaman bersama, dan keanggotaan keluarga. Namun, secara bersamaan juga terbatas oleh rasa canggung, perbandingan atau bahkan keterasingan. Hasil lain juga menunjukkan bahwa pemeliharaan hubungan sifatnya terencana dan insidental. Sepupu juga bisa berperan sebagai penyedia sumber daya, berupa bantuan fungsional, bimbingan bahkan nasihat.
Sepupu secara tahapan dan proses kehidupan juga dianggap lebih mudah terhubung dan dinamika hubungan akan mengalami pergeseran seiring dengan kedewasaan kedua belah pihak. Pada akhirnya, hubungan antar sepupu bersifat protektif secara diam-diam. Bahkan ketika kontak jarang terjadi, kombinasi rasa saling memiliki secara kekeluargaan dan kesamaan secara generasi dapat menciptakan bentuk dukungan unik yang tidak dapat ditiru oleh teman maupun saudara kandung sekalipun.
Lantas, mengapa banyak anak muda, terkhusus di Ternate memberi label Sepupu kepada seseorang yang dianggap dekat dan menjalin komunikasi intens dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, penghindaran terhadap sanksi sosial masyarakat di Kota Ternate yang masih berpegang teguh pada norma kesopanan dan etika berhubungan antara remaja laki-laki dan perempuan. Pelabelan Sepupu menjadi alternatif paling mungkin untuk menjelaskan kepada orang lain dengan harapan tidak memunculkan fitnah atau kesalahpahaman dalam upaya para remaja di Ternate menjalin/menjaga suatu hubungan.
Kedua, penggunaan label Sepupu kepada seseorang bisa menjadi bentuk penghindaran terhadap konflik dalam upaya dua orang remaja menjalin hubungan. Dalam artian, Sepupu menjadi alibi yang familiar dan memungkinkan mendapat penerimaan oleh pasangan, karena dinilai wajar secara kedekatan dan juga prinsip persaudaraan. Michael Rolof, seorang pakar komunikasi antarpribadi menyatakan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk menghindari konflik karena dorongan untuk menjaga harmoni dan konsensus dalam hubungan. Faktor penyebabnya ialah karena individu tersebut memiliki toleransi yang rendah terhadap perbedaan pendapat. Kemudian individu tersebut juga menganggap konflik sebagai sesuatu yang selalu merusak hubungan. Selain itu, penyebab lainnya ialah kecenderungan seseorang memandang kritik atau ketidaksepakatan sebagai serangan pribadi (take it personally).
Ketiga, secara genetik pelabelan Sepupu tersebut memungkinkan untuk terjadi. Hal ini karena, di Kota Ternate ataupun Maluku Utara pada umumnya, sering terjadi perkawinan antara dua orang dari latar belakang suku berbeda (Eksogami) dan hal itu berlanjut dalam beberapa garis keturunan atau generasi. Faktor utama yang melegitimasi perkawinan lintas suku di Kota Ternate ataupun Maluku Utara pada umumnya ialah kesamaan Agama. Orang Ternate boleh menikah dengan Orang Tidore, Galela, Tobelo, Makian, Sula, Bacan, Wayoli, Kao, Patani, ataupun suku lainnya asalkan memiliki kesamaan agama.
Pada akhirnya, pelabelan Ternate sebagai Kota Sepupu tidak semestinya menggeser label Ternate sebagai Kota Madani. Yang mana masyarakatnya selalu menjunjung nilai religius, toleransi dan semangat persatuan. Jangan sampai, penghindaran terhadap konflik dengan pelabelan ‘Sepupu’ justru memupuk gelombang emosi yang pada puncaknya bisa memicu ledakan yang tidak dapat dibendung. Maka konflik menjadi tak terelakkan lagi, lalu kualitas hubungan jangka panjang menjadi terganggu dan Maluku Utara sebagai provinsi paling bahagia, lenyap hanya karena ‘Terlalu Banyak Sepupu yang Merajalela’. (*)
