SOFIFI, NUANSA – Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus mendorong inovasi pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan efisien. Salah satunya melalui penerapan teknologi stabilisasi tanah untuk pembangunan jalan tani yang direncanakan mulai diterapkan pada 2027.
Inovasi ini menjadi alternatif pembangunan jalan tani tanpa menggunakan material sirtu atau pasir dan batu. Dengan memanfaatkan tanah asli yang dicampur semen, air, dan bahan aditif, teknologi tersebut diharapkan menghasilkan jalan yang lebih kuat, tahan lama, serta memiliki biaya yang relatif sama dengan metode konvensional.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda melihat langsung uji coba inovasi tersebut di Kantor Dinas PUPR Malut, Sofifi, Sabtu (10/10). Dalam peninjauan itu, Sherly didampingi Plt Kepala Dinas PUPR Risman Iriyanto Djafar.
Sherly mengatakan, inovasi tersebut merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pertanian, khususnya akses jalan yang digunakan masyarakat untuk menunjang aktivitas dan mengangkut hasil pertanian.
Menurutnya, penggunaan sirtu selama ini memiliki keterbatasan karena jalan lebih mudah rusak dan berlubang ketika terkena hujan.
“Tahun depan kita bangun jalan tani sudah menggunakan (teknologi) ini, tidak pakai sirtu lagi,” kata Sherly.
Ia menegaskan, penerapan inovasi tersebut akan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pembangunan dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi anggaran.
“Dengan harga yang sama dengan sirtu, kualitasnya lebih baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt Kadis PUPR Malut, Risman Iriyanto Djafar, menjelaskan inovasi stabilisasi tanah dikembangkan untuk menjawab persoalan pemeliharaan jalan tani.
“Ketika dipadatkan, walaupun pemadatannya sudah baik, jalan tetap membutuhkan pemeliharaan. Dalam satu sampai dua tahun harus dipelihara kembali,” jelas Risman.
Untuk itu, PUPR Malut bersama tim dari China melakukan uji coba menggunakan lima meter kubik tanah asli di samping Kantor Dinas PUPR. Tanah yang digunakan harus bersih dari sampah, kotoran, dan batu berukuran besar.
Untuk komposisi kelas A atau kualitas terbaik, lima meter kubik tanah dicampur dengan 19 sak semen, 450 liter air, dan 2,7 liter bahan aditif.
“Tanah digenggam, ketika dilepas langsung terbentuk. Itu menandakan campurannya siap dipakai,” terangnya.
Dari sisi pembiayaan, pembangunan jalan tani dengan teknologi tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp200 juta hingga Rp250 juta per kilometer. Nilai itu relatif sama dengan pembangunan jalan tani menggunakan sirtu, tetapi diproyeksikan memiliki masa pakai lebih panjang.
Jika jalan sirtu umumnya butuh pemeliharaan dalam 1-2 tahun, jalan dengan teknologi stabilisasi ini diperkirakan dapat bertahan hingga 10 tahun dengan pemeliharaan berkala 5 tahun.
PUPR Malut akan melakukan pengujian California Bearing Ratio (CBR) di laboratorium untuk mengukur daya dukung tanah. Hasil pengujian akan menjadi dasar kelayakan sebelum diterapkan lebih luas.
“Kami ingin memastikan inovasi ini memenuhi dua aspek, yakni efektif dari sisi waktu pelaksanaan dan efisien dari sisi anggaran,” kata Risman.
Selain untuk jalan tani, teknologi ini juga berpotensi diterapkan pada penguatan tebing dan konstruksi lainnya yang membutuhkan peningkatan kekuatan tanah. (tan)










